Pengukuhan empat guru besar di STAIN Majene bukan sekadar seremoni akademik. Ia adalah penanda harapan—bahwa dari Tanah Mandar, kebangkitan keilmuan Islam dapat kembali menemukan momentumnya di tengah tantangan zaman yang terus berubah.
Oleh: Ihsan Zainuddin*
PERJALANAN menuju Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Majene, Sulawesi Barat, tidak memerlukan waktu lama. Hanya sekitar lima hingga enam kilometer dari jantung kota tua Majene. Namun, kesan pertama yang tampak dari jalan raya seolah menipu. Kampus yang berdiri di ketinggian itu terlihat biasa saja dari kejauhan.
Barulah ketika tiba di pelatarannya, panorama yang tersaji menghadirkan pengalaman berbeda. Bangunan-bangunan kokoh berpadu dengan lanskap alam yang memukau, seakan membuka tabir keindahan yang tersembunyi. Dari ketinggian itu, hamparan laut Majene terlihat bagai permata biru yang berkilau.
Tak berlebihan jika Menteri Agama RI, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, pernah menyebut bahwa letak geografis STAIN Majene mengingatkannya pada kota-kota eksotis di Yunani. Keindahan laut yang membentang luas itu mampu membangkitkan rasa, menggerakkan imajinasi, bahkan menggoda jiwa untuk merangkai kata dalam bentuk puisi atau pantun.
Barangkali atmosfer inilah yang turut membentuk karakter kepemimpinan Ketua STAIN Majene, Prof. Dr. Wasilah Shahabuddin, sosok visioner yang dikenal gemar membuka dan menutup pidatonya dengan pantun. Keindahan alam dan kekuatan budaya berpadu dalam gaya kepemimpinan yang khas.
Di balik pesona tersebut, tersimpan harapan besar: menjadikan kampus ini sebagai pusat kebangkitan intelektual Islam di masa depan. Jalan menuju ke sana memang panjang, tetapi dengan visi, kerja keras, dan kepemimpinan yang kuat, cita-cita itu bukanlah hal yang mustahil.
Dalam acara pengukuhan guru besar yang berlangsung pada 29 April 2026, Prof. Wasilah menyampaikan bahwa STAIN Majene menjadi salah satu perguruan tinggi dengan jumlah guru besar terbanyak untuk level STAIN di Indonesia. Pernyataan ini bukan sekadar kebanggaan, melainkan sinyal optimisme akan lahirnya transformasi akademik.
Sebagaimana ditegaskan dalam teori kepemimpinan modern, perubahan besar dalam sebuah institusi menuntut perpaduan antara tekad kuat dan kerendahan hati. Jim Collins dalam Good to Great menyebutnya sebagai kombinasi professional will dan personal humility, dua karakter yang menjadi fondasi transformasi berkelanjutan.
Acara pengukuhan sendiri berlangsung khidmat. Iringan rebana tradisional Mandar menyambut prosesi akademik yang sakral. Para guru besar tampil gagah dengan toga dan medali kehormatan, dipandu pembawa mace simbol otoritas akademik.
Empat guru besar yang dikukuhkan adalah:
- Prof. Dr. Bahruddin (Tafsir Ahkam)
- Prof. Dr. Anwar Sadat (Sosiologi Hukum Islam)
- Prof. Dr. Muliadi (Sosiologi Dakwah)
- Prof. Dr. Abdul Rahman (Hukum dan Tata Negara)
Puncak acara adalah orasi ilmiah yang menjadi refleksi kedalaman keilmuan masing-masing. Dalam keterbatasan waktu, mereka berupaya menyampaikan gagasan inti, kebaruan penelitian, serta kontribusi yang ditawarkan bagi masyarakat.
Meski berasal dari disiplin berbeda, terdapat benang merah yang kuat: komitmen untuk menjadikan ilmu tidak berhenti di ruang akademik, tetapi hadir sebagai solusi nyata bagi persoalan masyarakat.
Kesadaran ini penting, mengingat Sulawesi Barat masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kemiskinan, kesehatan, hingga pernikahan dini. Gelar guru besar bukan sekadar simbol prestise, tetapi amanah intelektual dan moral untuk terlibat aktif dalam menyelesaikan persoalan tersebut.
Jika ditarik ke belakang, tanah Mandar memiliki tradisi keilmuan yang panjang dan kuat. Sejak abad ke-19, wilayah ini telah melahirkan ulama-ulama besar yang dikenal sebagai Annangguru. Tradisi mangaji kitta (talaqqi langsung kepada guru) menjadi fondasi utama dalam proses kaderisasi keilmuan.
Namun, tantangan hari ini berbeda. Tradisi tersebut, meski tetap bertahan, masih didominasi pendekatan klasik, baik dalam metode maupun materi. Kajian keislaman pun cenderung terfokus pada fikih, sementara dimensi lain seperti teologi dan akhlak belum berkembang secara seimbang.
Di sinilah relevansi kehadiran para guru besar menjadi penting. Mereka diharapkan mampu menyambungkan kembali mata rantai keilmuan antara tradisi klasik dan kebutuhan zaman modern.
Lebih dari itu, diperlukan transformasi metodologi pembelajaran. Tanpa inovasi, gagasan besar tentang kontekstualisasi Islam hanya akan menjadi wacana tanpa realisasi.
Salah satu tantangan mendasar adalah lemahnya penguasaan bahasa Arab di kalangan mahasiswa perguruan tinggi Islam. Kondisi ini menjadi paradoks, mengingat bahasa Arab merupakan kunci utama dalam memahami teks-teks keislaman.
Kebangkitan keilmuan tidak mungkin terwujud tanpa penguatan fondasi ini.
Selain itu, dunia akademik juga dituntut untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan. Integrasi antara tradisi keilmuan dan teknologi menjadi kebutuhan mendesak di era digital.
Para guru besar diharapkan mampu menghidupkan kembali prinsip klasik: “al-muḥāfaẓatu ‘alā al-qadīmi aṣ-ṣāliḥ, wa al-akhdhu bi al-jadīdi al-aṣlaḥ”(memeli hara tradisi lama yang masih relevan, sekaligus mengambil hal baru yang lebih baik). Prinsip ini bukan sekadar slogan, melainkan kerangka kerja dalam membangun peradaban ilmu yang adaptif dan berkelanjutan.
Kini, harapan itu telah diucapkan lantang dalam orasi ilmiah. Yang tersisa adalah pembuktian, apakah gagasan tersebut benar-benar akan diwujudkan dalam kerja nyata.
Tanah Mandar telah memiliki sejarah keilmuan yang kuat. Pertanyaannya, mampukah generasi hari ini menghidupkan kembali kejayaan itu dalam wajah yang lebih relevan dengan zaman?
*Ketua 1 ICATT (Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah) dan Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash Lampoko Sulawesi Barat











