Banyak orang mengira media sosial adalah sumber inspirasi dan produktivitas. Namun, tanpa disadari, kebiasaan scroll tanpa henti justru merusak fokus, memicu kecemasan, hingga menjauhkan kita dari diri sendiri. Setelah menjalani 30 hari tanpa media sosial, penulis menemukan fakta yang mungkin akan mengubah cara pandang Anda selamanya.
Oleh: Fiqram Iqra Pradana
Suatu waktu tanpa sengaja saya mendengar orang melakukan percakapan di sebuah cafe. Saya senang mendengarnya, karena anak muda sudah membicarakan kesehatan mental, perencanaan keuangan dan produktiftas. Ia mengatakan “kita tidak bisa mengabaikan kesehatan mental. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Termasuk mindset apa yang kita adopsi, apakah itu menumbuhkan atau mematikan mental.
Jika mental kita rusak itu karena cara berpikir -mindset- kita yang salah sejak awal dan itu akan merembet pada menurunnya fisik. Disini peluang penyakit muncul. Malas muncul, loyo, tidak bergairah, dll”. Saya sepakat dengan pendapat anak muda ini. Namun ketika ia melanjutkan. “Nah termasuk pemanfaatan waktu.
Kita itu pada dasarnya berpacu dengan waktu. Kita usahakan setiap detik waktu yang kita lalui, itu membuat kita bertumbuh. Memilih apa yang kita lihat dan dengar, apa yang kita baca dan sama siapa kita bergaul. Termasuk bermain media sosial. Rajin-rajinlah mendengar podcast, membaca quotes, nasihat bijak dan catatan pengetahuan yang membuat kita bertumbuh yang berseliweran di media sosial”.
Pada dasarnya saya sepakat dengan pernyataan anak muda ini. Namun setelah menjalani dan mempraktikkan minimalisme digital, saya baru mengerti bahwa tidak ada produktivitas yang menumbuhkan dalam dunia digital apalagi media sosial. Mungkin sebagai alat untuk membantu produktivitas, itu bisa jadi.
Namun sebagai tumpuan utama produktivitas itu salah besar. Menurut keyakinan saya, ketika seseorang masih diatur oleh media sosial maka produktivitasnya hanya omong kosong. Tidak ada produktivitas dalam media sosial.
Setelah mempraktikkan 30 hari puasa media sosial yang cukup ekstrem -menghapus aplikasi media sosial dan hanya membuka handphone maksimal 2 jam sehari. Saya menemukan 5 fakta menarik berikut.
1. Media Sosial itu Buang-Buang Waktu
Mungkin banyak yang defense, banyak yang menolak bahwa media sosial itu buang-buang waktu, mereka berpendapat sebaliknya justru ada manfaatnya. Menghibur dikala sedih, mengisi waktu yang kosong dan mungkin beberapa orang merasa bertambah pengetahuannya. Oke mari kita menyibak sebuah fakta besar bahwa kalian semua yang menghabiskan banyak waktu scroll media sosial membuat mereka pemilik perusahaan pada ‘ekonomi perhatian’ ini makin kaya. Ingat, MAKIN KAYA. Kita? hanyalah konsumen pasif.
Konsumen dibuat nyaman dengan berbagai sajian yang disetting membuat mereka berlama-lama membuka media sosial, makin scroll kok makin nyaman makin betah. Tentu saja demikian, para ahli dan ilmuwan memang dikerjakan untuk menemukan cara agar orang bisa lama-lama menatap layar handphonenya.
Padahal hakikatnya tubuh kita itu harus bergerak. Kalau scroll pasti malas bergerak dan ujung-ujungnya kalau lelah pasti tidur. Pas bangun tidur, buka handphone lagi sampai tertidur lagi. Fisik makin lemah karena tidak bergerak sementara pikiran diatur oleh tontonan yang disajikan algoritma media sosial.
Bayangkan jika siklus itu yang berulang setiap tahunnya, jadi seperti apa kita? Jawablah dengan jujur, apakah kamu muak dengan kebiasaanmu hanyut dalam media sosial dan menghabiskan waktu lama dengan sia-sia. Sudah saatnya kita melangkah maju bersama. Hapus media sosial dan mulailah lakukan aktivitas fisik yang bermakna seperti baca buku, olahraga, ibadah atau silaturahmi dengan teman lama.
Media sosial itu buang-buang waktu. Sekalipun kamu mengatakan ada manfaat yang didapatkan, tapi nyatanya kerugiannya jauh lebih besar. Produktivitas apa yang mau diharapkan dari media sosial yang mengacaukan fokus dari notifikasi dan video pendeknya. Edukasi apa yang diharapkan dari video singkat yang kita simpan, namun nyatanya tak pernah kita buka.
Atur waktu. Tetapkan satu tujuan dan temukan aktivitas fisik yang disenangi. Kita akan berhasil jika bisa menemukan aktivitas fisik yang disenangi untuk menggantikan waktu bermain media sosial. Kalau saya sendiri aktivitas fisik itu adalah membaca buku dan menuliskan hasil bacaan. Kadang-kadang juga berbagi kepada teman-teman dalam bentuk diskusi, sharing dan percakapan lainnya. Saya merasakan sedikit demi sedikit menemukan diri saya yang selama ini hilang.











