Oleh: Fiqram Iqra Pradana
Suatu waktu, tanpa sengaja saya bertemu dengan seseorang di bandara. Kebetulan, ia duduk tepat di samping saya. Saya pun membuka percakapan. “Selamat siang, Pak. Penerbangan tujuan mana?” tanya saya. “Brunei Darussalam, transit di Jakarta,” jawabnya singkat. Saya kemudian memperkenalkan diri. “Saya Fiqram. Kalau Bapak?”. “Steven Van Houten,” jawabnya.
Percakapan berlanjut. Saya bertanya tentang tujuan perjalanannya. Ia menjelaskan bahwa dirinya diundang untuk memberikan seminar dan bimbingan kepada dosen serta mahasiswa di Brunei selama 10 hari, dengan topik digital minimalisme. Ia adalah guru besar di bidang tersebut di salah satu universitas di Amerika Serikat.
Saya cukup terkejut sekaligus antusias. Kebetulan, beberapa hari sebelumnya saya baru saja membaca buku Digital Minimalism karya Cal Newport. Bahkan, saat itu saya sedang menjalani hari ke-13 dari program 30 hari “puasa media sosial”. Ia tampak tertarik dengan pengalaman saya.
“Kenapa Anda melakukan itu?” tanyanya. Saya menjelaskan bahwa fokus saya sering terpecah akibat notifikasi dan penggunaan media sosial yang berlebihan. Dampaknya, energi cepat habis, pekerjaan tidak selesai, dan stres meningkat. Bahkan, saya menjadi lebih mudah marah.
Namun, sejak mulai membatasi penggunaan media sosial—dengan menjadwalkan waktu, mematikan koneksi internet di jam tertentu, serta menjauhkan ponsel dari pandangan—saya mulai merasakan perubahan. Pikiran lebih tenang, fokus meningkat, dan pekerjaan bisa diselesaikan dengan lebih baik.
Ia lalu tersenyum dan berkata bahwa pengalaman tersebut sangat relevan dengan konsep digital minimalisme. Ketika saya bertanya bagaimana cara agar bisa konsisten, ia menjelaskan bahwa ada dua tipe orang dalam menjalani proses ini.
Pertama, mereka yang berhasil. Mereka menyadari bahwa selama ini perilaku digital mereka dipenuhi kebiasaan refleks dan kompulsif. Mereka mulai berhenti mengecek ponsel di pagi hari dan belajar menikmati aktivitas dengan lebih tenang.
Kedua, mereka yang gagal di tengah jalan. Biasanya karena aturan yang terlalu ketat atau tidak jelas, serta tidak memiliki aktivitas pengganti yang bermakna. Akibatnya, muncul rasa jenuh dan kecemasan.
Dari situ saya menyadari bahwa digital minimalisme bukan berarti berhenti total dari teknologi, tetapi menggantinya dengan aktivitas yang lebih bermakna. Tak lama kemudian, panggilan boarding terdengar. Kami pun berpisah. Saya tidak bisa menemukannya di media sosial, tetapi katanya ia bisa ditemui di Washington DC, Amerika Serikat. Jauh memang, namun semoga suatu hari saya bisa bertemu kembali.
Berhenti Mengecek Handphone Setiap Pagi
“Dimana fokus diarahkan disitu energi dialirkan”. Saya mau mengutip quotes itu dan sepertinya memang relate ketika berbicara tentang energi dan fokus. Berikut saya mau menggambarkan bagaimana saya dulunya melalui hari-hari, yang diawali dengan mengecek handphone pagi hari dan runtutan efek dominonya.
Setiap bangun pagi tubuh berada pada level fresh anggaplah energi saya 100 persen. Namun jika saya membuka handphone karena notifikasi dan panggilan lalu terhanyut dalam rutinitas scroll maka energi saya akan berkurang menjadi 80 persen. Ditambah lagi jika ternyata karena asik scroll itu saya terlambat ke kantor, jadilah saya buru-buru ke kantor dan bisa jadi di sepanjang jalan ada momen tidak enak terjadi yang menguras energi dan pikiran. Anggaplah momen itu lampu merah yang terasa lama, saya memaki-maki dalam hati mengurangi energi sehingga tersisa 70%.
Sampai di kantor, buka handphone lagi karena saya merasa masih lama waktu bekerja, akhirnya tenggelam lagi dalam hanyutan scrolling. Membuka berita menggemparkan yang menyedot perhatian, kabar duka artis favorit yang meninggal dunia, sampai lihat status tetangga dan merasa tersindir. Semua itu menyedot energi, akhirnya saat bekerja energi sisa 60%. Ditambah saat bekerja handphone ada dalam pandangan yang menggoda untuk terus dipegang, notifikasi terus berbunyi dan panggilan dari rekan kerja dikantor yang tidak kunjung usai, semua itu memecah fokus. Akhirnya energi saya tersita lagi tersisa 45% sebelum waktu istirahat tiba.
Pada saat istirahat, saya buka handphone lagi karena merasa bahwa membuka handphone layak saya dapatkan untuk beristirahat. Hiburan yang selalu tersedia dan selalu baru ini saya anggap ‘hadiah’ untuk keletihan yang ditimbulkan oleh kesibukan yang terus menerus, padahal membuat saya tambah letih. Momen makan juga saya lalui sambil scrolling sehingga energinya bukan bertambah, malah terkuras menjadi 30%.
Makanan yang mengandung banyak karbohidrat menyebabkan saya mengantuk dan disitulah peluang bermalas-malasan muncul dan saya sangat rawan tergoda membuka handphone dan scrolling lagi. Pada saat pulang kantor energi saya hanya tersisa 10%. Energi inilah yang saya bawa ke rumah, tularkan ke pasangan dan anak. Merasa sangat lelah dan letih namun dimomen istirahat itu saya scrolling lagi.









