Oleh: Muliadi Saleh | Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran
Seorang sahabat merespon tulisan saya tentang swasembada pangan. Dia melanjutkan agar tidak berhenti pada tercapainya produksi, tetapi juga perlunya sikap dan budaya memperlakukan pangan yang kita konsumsi. Sebagai seorang guru besar, dia mengingatkan dengan data yang menggugah nalar kebijakan.
Nilai sisa makanan Indonesia telah lama berada pada orde ratusan triliun rupiah per tahun, bahkan sekitar Rp300 triliun lebih. Data Bappenas menunjukkan kerugian ekonomi akibat food loss and waste berada di kisaran Rp213–551 triliun per tahun, setara 4–5 persen PDB nasional (The Jakarta Post, 2021)
Angka itu terlalu besar untuk dibaca sekadar sebagai statistik.
Ia sebetulnya adalah sekolah yang belum dibangun, jembatan desa yang tertunda, laboratorium kampus yang belum berdiri, puskesmas yang kekurangan alat, hingga ruang kelas yang masih bocor ketika hujan turun. Di sanalah refleksi sahabat ini menemukan ketajamannya. Jika sisa makanan dikelola sebagai gerakan nasional, negeri ini sesungguhnya memiliki cadangan sumber daya sosial-ekonomi yang luar biasa untuk membiayai fasilitas publik dan sarana pendidikan.
Dengan kata lain, makanan yang terbuang bukan hanya kehilangan zat gizi, tetapi juga kehilangan peluang peradaban.
Secara ilmiah, inilah inti dari ekonomi sirkular. Pangan tidak boleh berhenti nilainya hanya pada konsumsi pertama. Ketika ada sisa, ia harus memasuki daur manfaat kedua: redistribusi, pengolahan ulang, kompos, pakan, biodigester, atau energi terbarukan. Negara-negara dengan tata kelola pangan maju tidak memandang sisa makanan sebagai sampah, melainkan sebagai secondary resource—sumber daya tahap kedua yang masih bernilai tinggi.
Di sinilah saya melihat bahwa swasembada pangan tanpa efisiensi konsumsi adalah kemenangan yang setengah jadi.
Produksi yang tinggi memang penting, tetapi peradaban pangan baru benar-benar matang ketika seluruh rantai nilainya efisien mulai dari sawah, gudang, distribusi, pasar, meja makan, hingga pengolahan sisa. Jika salah satu mata rantai bocor, maka kebijakan sebesar apa pun akan kehilangan daya ungkitnya.
Negeri ini kaya. Kaya tanah, kaya laut, kaya cahaya matahari, kaya keragaman hayati, bahkan kaya kebudayaan yang mengajarkan penghormatan pada rezeki. Yang sering kurang justru wawasan kolektif dan komitmen perilaku.
Masalah pangan kita sering kali bukan semata produksi, melainkan rendahnya disiplin efisiensi.
Kita masih terbiasa mengambil porsi berlebihan, membiarkan sayur membusuk di lemari pendingin, menyisakan makanan di pesta, atau membakar sampah organik yang sesungguhnya bisa menjadi kompos dan energi. Padahal setiap sisa yang tidak dikelola adalah kehilangan ganda. Rugi ekonomi dan rugi ekologis.
Karena itu, swasembada pangan harus diikuti secara konsisten dengan gerakan nasional pengelolaan bahan makanan secara efisien. Karena di tengah semangat memperkuat produksi, meningkatkan cadangan, dan menjaga stabilitas pasokan pangan, masih sering kita temui cara -cara tidak efisien memperlakukan makanan setelah ia hadir di hadapan kita. Ini harus menjadi etika publik baru.
Pertama, porsi makanan sisa harus minimal. Ini bukan sekadar soal hemat, tetapi disiplin budaya. Ambil secukupnya, habiskan semampunya, dan ukur kebutuhan dengan kesadaran.Sering diingatkan bahwa jangan biarkan makanan menangis di piring.
Kedua, jika masih ada sisa, ia harus tetap bermanfaat. Sampah organik bisa menjadi kompos yang menghidupkan tanah. Limbah makanan dapat diolah menjadi biogas melalui biodigester, mengubah residu dapur menjadi energi yang menyalakan rumah dan fasilitas umum.
Ketiga, jangan sampai dibakar. Membakar sisa organik bukan hanya membunuh potensi ekonominya, tetapi juga menambah beban emisi dan merusak kualitas udara.
Dalam perspektif pembangunan rendah karbon, ini adalah kerugian ekologis yang seharusnya bisa dihindari.
Pada akhirnya, masa depan ketahanan pangan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh sawah yang luas, tetapi oleh kesadaran yang cerdas dalam mengelola setiap sisa.
Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu memproduksi banyak, melainkan bangsa yang mampu meminimalkan kehilangan dan memaksimalkan manfaat.
Swasembada tanpa efisiensi hanyalah kelimpahan yang bocor.
Tetapi swasembada yang bertemu disiplin pengelolaan akan menjelma menjadi fondasi pendidikan, energi, lingkungan, dan kesejahteraan sosial.
Dari sisa makanan, kita sebenarnya sedang membaca masa depan bangsa. Apakah ia akan menjadi beban, atau berubah menjadi cahaya peradaban.
____
Muliadi Saleh: “Menulis Makna, Membangun Peradaban”











