Muhammad Zain; Dari Clean Table hingga Pertengkaran Intelektual

oleh
oleh
Dokumentasi: Abd Rahman Hamid

Oleh: Abd Rahman Hamid | Wakil Dekan I Fakultas Adab UIN Lampung

Bandar Lampung, malam itu, Jumat 17 April 2026, sekitar pukul 20.00 WIB, di tengah acara Rapat Kerja pimpinan Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung pada hari kedua, datangnya seorang pejabat dari Kementerian Agama, yang tak lain adalah putra Mandar, Dr. Muhammad Zain, M.Ag. Beliau sekarang mendapat amanah sebagai Kepala Biro Sumber Daya Manusia (SDM) di Kemenag RI.

Ketua Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat (KKMSB) ini didampingi oleh Rektor UIN RIL, Prof. H. Wan Jamaluddin Z, Ph.D dan Wakil Rektor II, Prof. Safari, M.Sos.I, memberikan penguatan kepada seluruh peserta Rakerpim terkait dengan reformasi birokrasi hingga pertengkaran intelektual.

Dalam paparannya, Dr. Zain menekankan pentingnya reformasi birokrasi berbasis integritas dan transparansi. Sebagai Karo SDM, ia melakukan sejumlah terobosan untuk memperlancar proses kenaikan pangkat dosen dan guru di bawah Kementerian Agama berbasis digital, transparan, dan efisien, termasuk dalam hal pencantuman gelar yang selama ini kerap menjadi kendala administratif. Ia menegaskan bahwa birokrasi harus hadir untuk mempermudah, bukan mempersulit.

Dr. Zain memperkenalkan praktik “clean table”, yakni penyelesaian berkas secara cepat tanpa penumpukan dokumen. Menurutnya, prinsip ini bukan sekadar teknis, tetapi mencerminkan komitmen terhadap pelayanan yang profesional dan bertanggung jawab.

Dalam pengambilan keputusan, ia menekankan pentingnya kehati-hatian, termasuk menghindari keputusan dalam kondisi emosional, lapar, atau tergesa-gesa.

Inspirasi kepemimpinan yang ia angkat merujuk pada keteladanan Baharuddin Lopa, sosok manusia Mandar yang tercerahkan, yang dikenal tegas dalam menegakkan hukum tanpa pandang bulu, serta kebijaksanaan Umar bin Khattab yang mempertimbangkan keadilan kontekstual dalam mengambil keputusan.

Tak lupa, ia menekankan pentingnya kesadaran diri (self-awareness) bagi dosen dan pegawai untuk memahami identitas dan perannya di kampus.

Dr. Zain mendorong terciptanya “pertengkaran intelektual” yang sehat di kampus, dalam bentuk perdebatan berbasis argumen ilmiah yang produktif. Menurutnya, perbedaan pendapat harus dijawab dengan karya tulis, khususnya buku, sebagai bentuk tanggung jawab akademik.

Ia menggambarkan kampus sebagai ruang “kemewahan intelektual” yang seharusnya dipenuhi dengan dialog kritis dan tradisi keilmuan yang hidup. Dalam kerangka teoritik, gagasan ini sejalan dengan pemikiran Anthony Giddens melalui teori strukturasi, yang menekankan hubungan dinamis antara individu dan sistem dalam menciptakan perubahan.

Menutup pemaparannya, ia menyampaikan kecintaannya pada buku sebagai “oleh-oleh” terbaik dalam perjalanan intelektual. Baginya, buku bukan hanya sumber ilmu, tetapi juga sarana untuk merawat tradisi berpikir kritis dan menjawab perbedaan secara bermartabat.

Setelah presentasi, Dr. Zain didampingi oleh Rektor bergegas meninggalkan tempat acara, sembari menyalami para peserta Raker. Di sela inilah, saya memberikan buku baru saya, Historia Magistra Vitae (2026), kepadanya. “Dalam buku ini, ada juga uraian mengenai Baharauddin Lopa”, kataku kepadanya. Ia sangat senang menerima buku saya dan berjanji akan membacanya.

Setelah itu, Dr. Zain meninggalkan tempat acara, Ruang Meeting Lamban UIN Raden Intan Lampung (kampus Pascasarjana), Labuhan Ratu, Kota Bandar Lampung.