Pariwisata sebagai Jangkar Pertumbuhan Ekonomi

oleh
oleh

-Untuk Optimalisasi  Pendapatan Asli Daerah Kabupaten Majene-

Penulis: Zulkarnain Hasanuddin, S.E.,M.M 

(Dosen STIE Yapman Majene)

 

Sektor Pariwisata sebagian wilayah di indonesia dalam beberapa dekade terakhir, terlebih pasca covid 19, mulai kembali tumbuh dan berkembang menjadi salah satu instrumen strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan basis industri dan manufaktur. Salah satunya Kabupaten Majene Provinsi Sulawesi Barat merupakan contoh menarik bagaimana potensi pariwisata dapat diposisikan sebagai leading sector dalam menopang Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekaligus memperkuat ekonomi masyarakat berbasis lokal.

Secara konstruksional, sektor pariwisata memiliki karakteristik multiplier effect yang kuat. Dalam perspektif ekonomi, dapat dibaca dalam teori pengganda Keynesian Multiplier : Impact on Economic Growth and GDP, setiap peningkatan kunjungan wisatawan akan memicu permintaan terhadap berbagai sektor lain seperti transportasi, kuliner, akomodasi, hingga ekonomi kreatif ( Souvenir dan sejenisnya ). Dalam konteks Kabupaten Majene, destinasi seperti Pantai Dato, Pantai Barane, Pantai Tarraujung Pamboang dan Pantai Palipi dll, kedepan tidak hanya difungsikan sebagai objek rekreasi, tetapi juga dapat menjadi pusat aktivitas ekonomi yang menghidupkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal.

Ketika dilihat dengan Pendekatan pembangunan pariwisata, Kabupaten Majene mulai terlihat ada kecenderungan menuju diversifikasi (Strategi membagi sumber daya ke berbagai instrumen yang berbeda) produk wisata. yang tidak hanya bertumpu pada wisata bahari, tetapi juga mengintegrasikan wisata edukasi dan agro melalui Agrowisata Moloku dan Raja Bunga, serta wisata sejarah dan budaya di kawasan Kota Tua Majene. Diversifikasi ini penting sebagai strategi dalam mengakomodasi kepentingan pengunjung ( wisatawan )  yang variatif dan random, sehingga pengunjung memiliki alternatif sesuai dengan kesenangannya.

Inovasi seperti program “Wisata Bendhi” di kawasan kota tua mencerminkan upaya place-making (Kolaborasi merancang ruang publik guna memaksimalkan ruang bersama) yang menggabungkan nilai historis dengan atraksi wisata. Hal ini sejalan dengan konsep pariwisata berbasis budaya (cultural tourism) yang tidak hanya meningkatkan kunjungan, tetapi juga menjaga identitas lokal. Situs seperti Makam Raja-raja memiliki nilai historis yang dapat dikapitalisasi sebagai bagian dari narasi besar sejarah Mandar.

Namun, menjadikan pariwisata sebagai jangkar pertumbuhan ekonomi tidaklah tanpa tantangan. Pertama, isu kapasitas sumber daya manusia (SDM) masih menjadi kendala klasik. Profesionalisme dalam pengelolaan destinasi, pelayanan wisatawan, serta kemampuan digital marketing menjadi hal krusial dalam menghadapi kompetisi berbasis teknologi seperti saat ini. Kedua, infrastruktur penunjang seperti aksesibilitas, konektivitas, dan fasilitas publik masih memerlukan penguatan dan pengembangan agar mampu meningkatkan length of stay wisatawan (kebetahan/kenyamanan wisatawan tinggal).

Ketiga, keberlanjutan (sustainability) menjadi aspek krusial. Eksploitasi berlebihan terhadap destinasi, khususnya kawasan pesisir seperti Pantai Dato, Pantai Barane, Pantai Tarraujung Pamboang, berpotensi menimbulkan degradasi lingkungan jika tidak dikelola secara bijak. Oleh sebab itu, pendekatan community-based tourism (Pariwisata berbasis masyarakat) kedepan penting mulai dikembangkan oleh pemerintah daerah sebagai langkah strategis. Dalam pendekatan ini, masyarakat lokal tidak hanya menjadi objek, tetapi subjek utama pembangunan pariwisata.

Untuk perspektif fiskal daerah, optimalisasi sektor pariwisata sebagai penyuplai PAD harus dilakukan melalui penguatan sistem retribusi, pajak daerah berbasis aktivitas wisata, serta digitalisasi layanan. Transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan pendapatan menjadi kunci agar kontribusi sektor ini benar-benar berdampak pada pembangunan daerah.

Oleh sebab itu, pariwisata di Kabupaten Majene memiliki potensi besar dimasa yang akan datang untuk menjadi economic backbone ( Penggerak Utama Ekonomi ) yang berkelanjutan. Kunci keberhasilannya terletak pada sinergi dan kolaborasi antara pemerintah, civil society, dan sektor swasta dalam membangun ekosistem pariwisata yang inklusif, kompetitif, dan berkelanjutan. Jika dikelola secara optimal, maka pariwisata tidak hanya menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD), tetapi juga menjadi instrumen transformasi sosial-ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas.