“Apa yang terlihat sebagai “kuat”, sering kali hanyalah cara bertahan.”
Oleh: Wahyu Santoso | Ketua Umum SHG Binanga Sehat Jiwa
Mitos yang Kita Percaya
Di tengah kehidupan sosial kita, ada satu kalimat yang sering dianggap benar tanpa dipertanyakan: laki-laki tidak bercerita. Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi justru menyembunyikan persoalan yang jauh lebih dalam.
Laki-laki sebenarnya tidak berhenti bercerita. Mereka tetap berbicara—hanya saja tidak selalu dengan kata-kata.
Data yang Membuka Mata
Sebuah survei di Inggris menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga laki-laki (35%) merasa pernah mengalami gangguan kesehatan mental dalam hidupnya. Bahkan, 60% di antaranya pernah berbagi perasaan dengan orang lain. Namun di sisi lain, masih ada 40% yang memilih diam, dan sebagian dari mereka baru mencari bantuan ketika pikiran untuk menyakiti diri sendiri muncul (Sumber: Priory Group, UK Men’s Mental Health Survey).
Ini menunjukkan satu hal penting: laki-laki tidak sepenuhnya diam, tetapi tidak semua memiliki ruang untuk benar-benar didengar.
Bahasa Emosi yang Berbeda
Masalahnya bukan karena laki-laki tidak mau bercerita, tetapi karena cara mereka bercerita sering tidak dikenali.
Banyak laki-laki tidak mengekspresikan kesedihan dalam bentuk yang umum. Mereka tidak selalu menangis atau mengeluh. Sebaliknya, tekanan itu muncul sebagai kemarahan, kesibukan berlebihan, atau diam yang panjang.
Apa yang terlihat sebagai “kuat”, sering kali hanyalah cara bertahan.
Padahal, ada dimensi kekuatan yang lebih dalam daripada sekadar ketahanan fisik atau kebisuan emosional.
Dalam sebuah hadits , Rasulullah SAW bersabda:
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rangkaian sanad hadis ini dimulai dari Imam Muslim yang menghimpunnya dalam kitab Shahih beliau, yang diperoleh dari dua gurunya yaitu Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Ibnu Numair. Kedua guru tersebut menerima riwayat dari Abdullah bin Idris, yang mendapatkannya dari Rabi’ah bin Utsman. Jalur periwayatan kemudian bersambung kepada Muhammad bin Yahya bin Habban, yang menerimanya dari gurunya, Al-A’raj (Abdurrahman bin Hurmuz). Al-A’raj sendiri merupakan murid utama yang menerima hadis ini langsung dari sahabat Nabi, Abu Hurairah, yang mendengarnya langsung dari Rasulullah SAW.
Kekuatan yang dimaksud dalam hadits ini tidak bersifat tunggal. Menjadi “Mukmin yang kuat” juga mencakup kekuatan mental untuk jujur pada diri sendiri saat sedang tidak baik-baik saja.
Dalam perspektif ini, menjaga kesehatan jiwa bukanlah tanda rapuhnya iman, melainkan bagian dari menjaga amanah tubuh dan ruh yang dititipkan oleh Allah. Mengakui kerentanan dan mencari ruang untuk bercerita adalah bentuk keberanian—sebuah kekuatan untuk memastikan bahwa “keruntuhan” tidak terjadi secara diam-diam. Sebab, mukmin yang benar-benar kuat adalah ia yang memiliki jiwa yang sehat untuk terus menebar manfaat bagi sesama.
Depresi yang Tidak Tampak
Dalam kajian psikologi, fenomena ini dikenal sebagai masculine depression—depresi yang tidak tampak seperti depresi pada umumnya (Sumber: National Library of Medicine; News Medical – Masculine Depression Research).
Emosi yang tidak tersalurkan berubah bentuk menjadi perilaku: mudah marah, mengambil risiko, atau tenggelam dalam aktivitas untuk menghindari diri sendiri.
Ketika Emosi Tidak Diberi Ruang
Sebab, ketiadaan ruang aman untuk bercerita—emosi tidak hilang. Ia hanya berpindah bentuk.
Ada yang melampiaskannya dalam pekerjaan tanpa henti, ada yang mencari pelarian dalam alkohol, dan ada pula yang perlahan kehilangan kemampuan untuk memahami perasaannya sendiri. Dalam jangka panjang, tekanan yang dipendam juga berdampak pada tubuh—mulai dari gangguan tidur hingga penyakit serius (Sumber: Halodoc; Kementerian Kesehatan RI).
Budaya yang Salah Arah
Ironi, Buudaya kita justru sering merayakan diam itu. Narasi “laki-laki tidak bercerita” dipuji seolah-olah itu adalah tanda ketangguhan.
Padahal, memendam emosi bukanlah kekuatan, melainkan penundaan dari sebuah keruntuhan.
Belajar Mendengar
Laki-laki tidak kekurangan cerita. Mereka hanya kekurangan ruang yang aman untuk didengar.
Maka persoalan ini bukan hanya tentang laki-laki, tetapi tentang kita semua—tentang bagaimana kita merespons, memahami, dan memberi tempat bagi emosi yang tidak selalu hadir dalam bentuk yang kita harapkan.
Barangkali, sudah saatnya kita mengubah cara pandang.
Bukan lagi bertanya, “Mengapa laki-laki tidak bercerita?”
Tetapi mulai bertanya, “Sudahkah kita belajar mendengar?”
Karena bisa jadi, selama ini mereka tidak pernah diam—
Kita saja yang belum cukup peka untuk memahami bahasanya.











