Oleh: Fiqram Iqra Pradana
SUATU waktu, seperti biasa, saya membuka beberapa status WhatsApp (WA) teman kantor. Saya termasuk orang yang cukup selektif dalam melihat status WA -tergantung siapa yang membagikan dan apa yang dibagikan. Jika terlalu personal dan tidak memberi nilai, biasanya akan saya abaikan ke depannya.
Kali ini, saya melihat status dari seorang teman yang kebetulan berada di kantor pusat pada Divisi Human Capital. Bagi saya, pada prinsipnya semua teman sama saja. Apa pun posisi seseorang, tidak seharusnya memengaruhi cara kita bersikap. Bukankah setiap pencapaian selama kita masih hidup itu hanyalah koma, belum titik? Artinya, semuanya masih bisa berubah. Maka, bersikap apa adanya dan tetap baik kepada siapa pun adalah pilihan yang bijak.
Status WA tersebut berisi video pendek berdurasi sekitar satu menit. Kisahnya sederhana, tetapi sangat dalam.
Diceritakan seorang ayah dan anak laki-lakinya sedang melakukan perjalanan ke kampung halaman. Di tengah perjalanan, mereka berhenti di pinggir sungai. Tanpa sengaja, mereka melihat seorang wanita yang sedang menelepon dengan kondisi emosi yang tidak stabil -bahkan sesekali berteriak.
Di dekat wanita itu terdapat sebuah botol kosong. Dalam kondisi kesal, ia menendang botol tersebut dengan harapan masuk ke sungai. Namun naas, bukan botol yang terlempar, melainkan sendalnya yang terlepas dan jatuh ke sungai.
Melihat kejadian itu, sang ayah berkata kepada anaknya:
“Dalam hidup, kita sering mengorbankan hal penting hanya karena melakukan hal sepele. Kita melakukannya secara refleks, tanpa berpikir panjang. Hanya mengikuti emosi dan naluri. Padahal, seharusnya kita bisa lebih sadar dan mengambil kendali atas diri kita.”
Apa Sebenarnya Hal Penting dalam Hidup?
Jika ditanya, apa hal penting dalam hidup? maka setiap orang pasti akan berbeda-beda menyebutkannya. Itu subjektif dan sangat bergantung dengan cara kita melihatnya, jangka waktunya, pengalaman, jenis kelamin, ras, suku, agama dan lingkungan kita berada. Bisa jadi apa yang menurut saya penting, itu tidak penting menurut Anda ataupun sebaliknya. Namun ada beberapa hal penting dalam hidup ini yang mungkin saja kita amini bersama dapat membantu kita untuk hidup tenang dan bahagia.
Menurut dr. Rizki Edmi Edison seorang pakar dibidang ilmu terapan neurosains kognitif. Hal paling mewah (penting) dihidup itu diantaranya: time, health, quiet mind, slow morning, abilty to travel, dan house of full love. Tidak pernah tentang jabatan, popularitas atau uang. Bisa jadi mereka yang punya jabatan mentereng itu kepalanya pusing setiap hari. Populer membuatnya tidak punya waktu. Uang hanya buat hatinya gelisah. Saya rasa, ada baiknya yang perlu dicita-citakan bukanlah nama profesi, melainkan: bahagia.
Sejujurnya saya sangat terinspirasi dengan kutipan diatas, namun untuk kebutuhan pribadi saya akan menambahkan fokus dan orientasi akhirat untuk melengkapinya. Mari kita bahas salah satu hal penting diatas yaitu waktu. Waktu memang adalah hal penting dalam hidup. Orang yang berhasil dalam hidup salah satunya adalah mereka yang bisa melakukan manajemen waktu yang menguntungkan dan bijak. Sesuatu dikatakan menguntungkan jika yang kita lakukan saat ini bisa berdampak panjang. Contohnya melakukan kebaikan, ibadah, dan berbagi ilmu atau pengetahuan serta menjadi sebab orang lain bisa berdikari (berdiri diatas kaki sendiri) dan percaya diri dengan diri dan pikirannya sendiri.
“Tanpa sadar, kita mengorbankan hal penting dalam hidup hanya karena reaksi sesaat terhadap hal sepele.”
Namun, coba kita refleksikan—berapa banyak waktu yang habis hanya untuk scroll media sosial?Tanpa sadar, kita sedang “menendang botol”, tetapi justru “kehilangan sandal”. Kita mengorbankan hal penting (waktu) untuk hal yang tidak memberi nilai.
Dalam buku Make Time karya Jake Knapp dan John Zeratsky, dijelaskan bahwa di abad ke-21 ada dua kekuatan besar yang terus memperebutkan waktu kita: Pertama, Budaya Kesibukan. Kita dituntut untuk selalu produktif. Setiap menit harus terisi. Kedua, Kolam Tak Berujung. Media sosial, hiburan digital, dan berbagai aplikasi yang tidak pernah habis. Ironisnya, ketika kita lelah karena sibuk, kita “beristirahat” di kolam tak berujung ini. Alih-alih pulih, kita justru semakin lelah tanpa sadar.











