Gunungan sampah yang selama ini menjadi masalah kronis di kota-kota mulai menemukan titik terang. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Merah Putih yang mampu memangkas volume limbah hingga 80 persen sekaligus mengubahnya menjadi energi listrik, sebuah solusi yang tak hanya menjawab krisis sampah, tetapi juga membuka peluang baru di sektor energi.
MANDARNESIA.COM, Jakarta — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat kontribusinya dalam pengembangan teknologi pengelolaan sampah berkelanjutan melalui proyek percontohan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Merah Putih di Bantargebang.
Sebagaimana disampaikan dalam Siaran Pers BRIN Nomor 37/SP/HM/BKPUK/IV/2026, inisiatif ini menjadi bagian dari langkah strategis untuk menjawab tantangan krisis sampah di kawasan perkotaan, sekaligus mendorong pemanfaatan energi terbarukan berbasis limbah domestik.
Peneliti Pusat Riset Teknologi Lingkungan dan Teknologi Bersih, Wiharja, dijadwalkan memaparkan pengembangan tersebut dalam forum Media Lounge Discussion (MELODI) di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis (16/4/2026).
BRIN sendiri telah mengembangkan fasilitas percontohan PLTSa sejak 2017 sebagai pembuktian konsep (proof of concept) teknologi konversi sampah menjadi energi. Kehadiran fasilitas ini juga dimaksudkan untuk menjawab keraguan publik terhadap implementasi kebijakan percepatan pembangunan PLTSa di sejumlah kota besar di Indonesia.
Secara teknis, sistem ini bekerja dengan menjadikan sampah perkotaan sebagai bahan bakar. Sampah terlebih dahulu melalui tahapan pemilahan dan pengeringan guna meningkatkan nilai kalor. Selanjutnya, proses pembakaran menghasilkan panas yang dimanfaatkan untuk menghasilkan uap, menggerakkan turbin, hingga akhirnya menghasilkan listrik.
Untuk memastikan aspek lingkungan tetap terjaga, gas hasil pembakaran diproses melalui sistem penyaringan berlapis yang dirancang memenuhi baku mutu emisi yang ditetapkan pemerintah.
“Pendekatan ini mampu mengolah dan mengurangi volume sampah secara cepat dan signifikan hingga 80 persen sekaligus mengonversinya menjadi energi,” ujar Wiharja.
Hingga saat ini, fasilitas PLTSa Merah Putih masih berada pada tahap demonstratif, dengan kapasitas pengolahan sekitar 100 ton sampah per hari. Energi listrik yang dihasilkan mencapai 700 kilowatt dan masih dimanfaatkan untuk kebutuhan internal.
Dalam perjalanannya, pengelolaan fasilitas ini sempat dilakukan melalui kerja sama dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada periode 2018 hingga 2022.
Ke depan, potensi pengembangan teknologi ini dinilai cukup besar. Pada skala penuh, kota-kota besar seperti Jakarta diperkirakan mampu menghasilkan energi hingga puluhan megawatt dari pengolahan sampah, bergantung pada volume dan karakteristik limbah yang dihasilkan.
Keunggulan utama teknologi yang dikembangkan BRIN terletak pada basis riset nasional yang adaptif terhadap kondisi lokal—terutama karakteristik sampah Indonesia yang umumnya memiliki kadar air tinggi dan belum terpilah secara optimal. Selain itu, sistem ini juga dirancang dengan perhatian serius pada aspek pengendalian emisi dan dampak lingkungan.
Di tingkat global, teknologi waste to energy berbasis insinerasi telah lama diterapkan di berbagai negara maju seperti Jerman, Prancis, Jepang, dan Singapura, serta mendominasi pasar pengolahan sampah menjadi energi.
Meski demikian, implementasi PLTSa di Indonesia tetap memerlukan sejumlah prasyarat penting, mulai dari ketersediaan pasokan sampah yang memadai, kebutuhan investasi yang besar, hingga aspek penerimaan sosial masyarakat.
Karena itu, keberhasilan pengembangan PLTSa tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor swasta, dan partisipasi publik.
Dalam jangka panjang, PLTSa diproyeksikan menjadi salah satu pilar penting dalam sistem pengelolaan sampah terpadu di Indonesia—tidak hanya mengurangi ketergantungan pada tempat pembuangan akhir, tetapi juga berkontribusi pada transisi energi bersih, penurunan emisi gas rumah kaca, dan penguatan ketahanan energi nasional. (SP-Brin/WM)











