Bahlil ke Rusia, Indonesia Negosiasi Pasokan Minyak dan LPG untuk Ketahanan Energi

oleh
oleh
Foto: Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama/Gita Lestari
Foto: Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama/Gita Lestari

Ketika pasar energi global bergejolak dan ancaman krisis kian nyata, Indonesia tak tinggal diam. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia langsung terbang ke Rusia, memburu kepastian pasokan minyak mentah dan LPG demi menjaga stabilitas energi nasional.

 

MANDARNESIA.COM, Moskow — Di tengah gejolak pasar energi global dan ancaman krisis pasokan, Indonesia bergerak cepat. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia terbang ke Rusia untuk mengamankan pasokan minyak mentah dan LPG demi menjaga ketahanan energi nasional.

Langkah ini tertuang dalam Siaran Pers Kementerian ESDM Nomor 022.Pers/04/SJI/2025 tertanggal 14 April 2026, yang juga menegaskan keterlibatan langsung Presiden Prabowo Subianto dalam misi strategis tersebut.

Langkah diplomasi ini tidak sekadar agenda bilateral biasa, melainkan difokuskan pada upaya memastikan stabilitas pasokan energi domestik. Sejumlah isu strategis dibahas, mulai dari kerja sama pasokan minyak mentah, Liquefied Petroleum Gas (LPG), hingga investasi dan pengembangan infrastruktur energi seperti kilang minyak.

Bahlil Lahadalia bersama Menteri Energi Rusia, Sergey Tsivilev, melakukan pertemuan langsung di Kantor Kementerian Energi Rusia, Moskow, Selasa (14/4/2026). Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari pembicaraan tingkat tinggi antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin sehari sebelumnya.

Dalam pertemuan tersebut, kedua negara membahas peluang konkret kerja sama energi yang dapat segera direalisasikan, khususnya terkait kepastian pasokan minyak mentah (crude) dan LPG. Rusia menyatakan kesiapan mendukung ketahanan energi Indonesia melalui suplai minyak dan gas bumi (migas), termasuk penguatan fasilitas penyimpanan (storage).

Sejumlah perusahaan energi Rusia turut hadir dalam pertemuan ini, di antaranya Rosneft, Ruschem, Zarubezhneft, dan Lukoil.

“Hari ini saya baru selesai melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Energi Rusia dalam rangka menindaklanjuti kesepakatan pembicaraan antara Presiden Prabowo dengan Presiden Putin. Alhamdulillah, kita mendapatkan hasil yang cukup baik, di mana kita bisa mendapatkan tambahan cadangan crude dan juga LPG,” ujar Bahlil dalam siaran pers tersebut.

Ia menegaskan, kerja sama tersebut dijajaki melalui skema antarpemerintah (government to government/G2G) maupun antarpelaku usaha (business to business/B2B), guna memberikan kepastian terhadap ketersediaan cadangan energi nasional.

Selain itu, Indonesia juga membuka peluang kolaborasi lebih luas dengan Rusia, termasuk pengembangan storage, pasokan jangka panjang minyak dan LPG, penjajakan energi nuklir, hingga kerja sama sektor mineral.

“Kita ingin semua ini betul-betul memberi kepastian bagi ketahanan energi nasional,” tegasnya.

Bahlil menilai hasil pertemuan tersebut memberikan sinyal positif di tengah dinamika pasar energi global yang tidak menentu. Menurutnya, Rusia merupakan mitra strategis dengan kapasitas produksi energi besar dan pengalaman panjang di sektor migas.

Sementara itu, Menteri Energi Rusia Sergey Tsivilev menegaskan kesiapan negaranya untuk memperkuat kerja sama dengan Indonesia.

“Sebagai mitra strategis, kami siap berkolaborasi terutama dalam penyediaan minyak dan gas, penyimpanan, maupun kelistrikan, termasuk pembangkit listrik tenaga nuklir,” ujarnya.

Di tengah volatilitas pasar energi global yang dipengaruhi faktor geopolitik dan fluktuasi produksi, pemerintah Indonesia terus mencari sumber alternatif pasokan energi. Rusia dinilai menjadi salah satu opsi penting untuk mendukung stabilitas energi jangka panjang.

Langkah diplomasi ini sekaligus menegaskan komitmen Indonesia untuk tetap aktif dan konstruktif di panggung global, dengan tetap berorientasi pada kepentingan nasional dan pertumbuhan ekonomi. (SP-Kementerian ESDM/WM)