MANDARNESIA.COM, Jakarta — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali mendorong percepatan hilirisasi hasil riset melalui penyelenggaraan BRIN Goes to Industry (BGTI) Series 3, Kamis (16/4), di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Gedung B.J. Habibie, Jakarta.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mempertemukan peneliti dengan pelaku industri guna mengakselerasi pemanfaatan hasil riset menjadi produk bernilai ekonomi. Forum ini juga memperkuat sinergi antara akademisi, dunia usaha, dan pemerintah dalam membangun ekosistem inovasi nasional.
Mengusung tema “Sinergi Riset, Inovasi, dan Hilirisasi pada Xanthan Gum untuk Industri Migas; Aromatika; Kosmetik; dan Enzim”, BGTI Series 3 menitikberatkan pada pemanfaatan bahan alam lokal sebagai solusi untuk mengurangi ketergantungan impor komoditas strategis.
Dalam kegiatan tersebut, BRIN meluncurkan sembilan inovasi unggulan yang telah mencapai tingkat kesiapan teknologi tinggi dan siap dikomersialisasikan bersama mitra industri.
Salah satu inovasi utama yang diperkenalkan adalah xanthan gum nasional, biopolimer yang digunakan sebagai aditif dalam fluida pengeboran minyak dan gas untuk meningkatkan efisiensi operasi.
Selain itu, BRIN juga menghadirkan inovasi di bidang biosains terapan, di antaranya:
- enzim urease untuk pengerasan jalan,
- enzim protease untuk industri penyamakan kulit,
- enzim lakase untuk kebutuhan whitening agent gigi dan produk perawatan kulit,
- enzim pitase dan mananase untuk pakan ternak.
Di sektor hilir lainnya, BRIN memperkenalkan produk aromatika dan kosmetik berbasis sumber daya alam lokal yang dikembangkan untuk menjawab tren global terhadap bahan alami dan berkelanjutan.
Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN, R. Hendrian, mengatakan kegiatan ini bertujuan menjembatani kesenjangan antara riset dan implementasi industri atau yang kerap disebut sebagai valley of death inovasi.
“Melalui forum ini, kami mempertemukan logika ilmiah periset dengan logika investasi industri. BRIN menyediakan akses teknologi, sementara industri berperan dalam pengembangan pasar,” ujarnya.
Berbeda dengan forum diseminasi konvensional, BGTI Series 3 mengedepankan pendekatan collaborative decision-making melalui sesi business matching dan pertemuan langsung (one-on-one meeting). Setiap potensi kerja sama akan dituangkan dalam bentuk Letter of Interest (LoI) sebagai komitmen awal tindak lanjut.
Sekitar 150 peserta dari berbagai sektor industri, seperti migas, farmasi, kosmetik, dan asosiasi terkait, turut hadir dalam kegiatan ini. Kehadiran mereka mencerminkan tingginya minat industri terhadap pemanfaatan hasil riset nasional.
Melalui BGTI Series 3, BRIN menegaskan komitmennya dalam mendorong hilirisasi riset sebagai motor penggerak ekonomi berbasis pengetahuan dan penguatan kemandirian industri nasional. (SP-Brin/WM)










