Profesor BRIN Ungkap Solusi Kebijakan Sosial, Pertanian hingga Pesisir Indonesia Berbasis Riset

oleh
oleh
Foto: Screenshoot Kanal Youtube Teknologi Indonesia
Foto: Screenshoot Kanal Youtube Teknologi Indonesia

MANDARNESIA.COM, Jakarta – Lima Profesor Riset dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti berbagai isu strategis nasional, mulai dari kebijakan sosial, ekonomi pertanian, pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), hingga tata kelola pesisir, dalam sidang terbuka pengukuhan profesor yang digelar di Auditorium Soemitro Djojohadikusumo, Gedung BJ Habibie, bulan lalu di Jakarta, tepatnya Selasa (31/3/2026).

Kelima profesor tersebut adalah Mu’man Nuryana (Kebijakan Sosial), Robet Asnawi (Ekonomi Sumber Daya Alam), Hunggul Yudono Setio Hadi Nugroho (Pengelolaan DAS), Taslim Arifin (Ekologi Pesisir), dan Aprijanto (Teknologi Kawasan Pesisir dan Pelabuhan).

Transformasi Kebijakan Sosial

Mu’man Nuryana menekankan perlunya transformasi tata kelola kesejahteraan sosial melalui pendekatan kolaboratif. Ia memperkenalkan Model Orkestrasi Ekosistem yang menempatkan komunitas sebagai produsen kesejahteraan, sementara negara berperan sebagai pemungkin.

Model ini dinilai mampu mengatasi fragmentasi kebijakan dan memperkuat pendekatan berbasis nilai lokal serta keadilan sosial.

Inovasi Pertanian dan Ekonomi Sirkular

Di sektor pertanian, Robet Asnawi memaparkan inovasi sistem tanam double row pada ubi kayu yang mampu meningkatkan produktivitas lebih dari 100 persen.

Pendekatan ekonomi sirkular melalui pemanfaatan biomassa juga meningkatkan produktivitas hingga 17,26 persen dan pendapatan petani sebesar 48,43 persen.

Ia menekankan pentingnya penetapan harga dasar ubi kayu yang transparan serta kemitraan antara petani dan industri untuk menjaga keberlanjutan rantai pasok.

Penguatan Ekologi Pesisir

Taslim Arifin memperkenalkan Indeks Daya Dukung Ekologi (IDDE) sebagai instrumen untuk mengukur kapasitas ekosistem dalam menopang aktivitas manusia tanpa merusak fungsi ekologis.

Ia juga mengungkap nilai ekonomi terumbu karang yang mencapai miliaran dolar per tahun dari sektor pariwisata, perikanan, dan perlindungan pantai.

Pengelolaan DAS Berbasis Data

Hunggul Yudono menyoroti pentingnya pengelolaan DAS berbasis sistem sosio-teknis. Ia mengembangkan model DAS mikro partisipatif serta berbagai instrumen monitoring seperti ATHUS, ModATHUS, WaterQ, dan SI PUBER.

Pendekatan ini dinilai mampu memperkuat sistem peringatan dini bencana serta mendukung kebijakan berbasis data.

Teknologi Adaptif Pesisir dan Pelabuhan

Aprijanto menyoroti tantangan kawasan pesisir akibat perubahan iklim, kenaikan muka laut, dan penurunan tanah.

Ia mengembangkan teknologi adaptif berbasis hidrodinamika, termasuk pemodelan arus, gelombang, banjir rob, serta sedimentasi. Teknologi ini juga terintegrasi dengan kecerdasan buatan untuk mendukung sistem peringatan dini dan konsep Smart–Green Port.

Sidang terbuka ini menegaskan peran strategis BRIN dalam menghasilkan riset yang tidak hanya berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi dasar kebijakan publik dalam menjawab tantangan pembangunan nasional secara berkelanjutan. (SP-BRIN/WM)