BRIN: 50 Kg Sampah Plastik Bisa Jadi 48 Liter Solar Alternatif

oleh
oleh

Sampah plastik yang selama ini dianggap tak bernilai, ternyata menyimpan potensi energi besar. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap, sebanyak 50 kilogram sampah plastik dapat diolah menjadi sekitar 48 liter minyak setara solar yang siap digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari mesin pertanian hingga perahu nelayan.

 

MANDARNESIA.COM, Polewali — Sampah plastik yang selama ini menjadi persoalan lingkungan, ternyata menyimpan potensi energi yang besar. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap, sebanyak 50 kilogram sampah plastik dapat diolah menjadi sekitar 48 liter minyak setara solar yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan.

Hal tersebut disampaikan dalam materi kegiatan Bimbingan Teknis Pemanfaatan Sampah Plastik sebagai Sumber Energi yang digelar di Polewali Mandar, Senin (13/4/2026).

Peneliti BRIN, Sarkiwan, BSc., S.Sos, menjelaskan bahwa teknologi yang digunakan adalah proses pirolisis, yakni pemanasan sampah plastik tanpa oksigen untuk menghasilkan bahan bakar cair dengan nilai kalor tinggi.

“Dari 50 kilogram sampah plastik, kita bisa menghasilkan kurang lebih 48 liter minyak. Nilai kalorinya mencapai sekitar 10.600 kkal per kilogram, mendekati bahkan hampir setara dengan solar konvensional,” ujarnya.

Menurutnya, hasil olahan tersebut bukan sekadar eksperimen laboratorium, melainkan telah melalui pengujian kualitas dan layak digunakan dalam aktivitas sehari-hari masyarakat.

“Berdasarkan uji performa di laboratorium, termasuk di Lemigas dan BRIN, minyak hasil pirolisis ini memenuhi standar diesel. Sudah digunakan untuk traktor, perahu nelayan, hingga mesin pertanian,” katanya.

Ia menambahkan, teknologi ini menjadi salah satu solusi strategis dalam menjawab dua persoalan sekaligus, yakni krisis energi dan penumpukan sampah plastik yang semakin mengkhawatirkan.

Selain jalur termal melalui pirolisis, BRIN juga memperkenalkan pendekatan lain dalam pengelolaan sampah menjadi energi, seperti jalur biologis melalui biogas dan jalur mekanis melalui Refuse Derived Fuel (RDF).

Pendekatan tersebut membuka peluang bagi daerah untuk mengembangkan sistem energi berbasis sumber daya lokal, sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

“Sampah seharusnya tidak lagi dipandang sebagai beban. Dengan pendekatan yang tepat, ia bisa menjadi sumber energi terbarukan yang bernilai ekonomi,” tambahnya.

Di tingkat lokal, teknologi ini dinilai sangat relevan untuk diterapkan di daerah seperti Polewali Mandar yang memiliki potensi sampah rumah tangga dan aktivitas perikanan serta pertanian yang tinggi.

Pemanfaatan sampah menjadi energi tidak hanya berdampak pada pengurangan pencemaran lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat, termasuk pengembangan energi skala desa.

Dengan inovasi ini, paradigma pengelolaan sampah diharapkan dapat bergeser, dari sekadar sistem kumpul–angkut–buang menuju model ekonomi sirkular yang lebih berkelanjutan. (WM)