Saksi Mata Sejarah: Catatan Perjalananku di Kongres Rakyat Balanipa

oleh
oleh

Oleh: Ahnaf Faruq Adi (Pelajar SMP IT Wildan Mamuju)

Pada suatu pagi, Ayah mengajakku pergi bersamanya. Karena aku memang senang menemani Ayah ke mana pun, aku langsung mengiyakan ajakannya. “Kira-kira mau ke mana lagi kita hari ini?” gumamku dalam hati.

Di dalam mobil, rasa penasaran itu tak tertahankan. “Ayah, mau ke mana kita?” tanyaku.

“Ke Tinambung, tepatnya daerah Limboro. Ada rapat di sana,” jelas Ayah. Beliau kemudian menjelaskan bahwa rapat yang akan kami hadiri adalah persiapan kongres pembentukan Calon Daerah Otonomi Baru (CDOB), yaitu Kabupaten Balanipa.

Ayah membelokkan mobil ke sebuah lorong bernama Lekopa’dis. Kami sempat terhenti di depan masjid karena Ayah bingung memilih jalan. Setelah menelepon seorang teman, kami melanjutkan perjalanan hingga melewati jembatan. Di sana berdiri tembok besar yang ternyata adalah Pondok Pesantren Darul Mahfuzh Lekopa’dis, lokasi rapat tersebut.

Sesampainya di sana, Ayah bertanya kepada Pak Dr. Dinar Faizal, Direktur Pondok, mengenai luas pesantren ini. Saat masuk tadi, kami melihat lapangan yang sangat luas. Jawaban Pak Dinar membuatku kaget; luas pondok ini ternyata mencapai 5 hektare! Wah, luas sekali. Sebelum rapat dimulai, kami dipersilakan makan terlebih dahulu di musala pondok.

Setelah makan, teman-teman Ayah mengajak kami berbincang sejenak sebelum akhirnya rapat resmi dimulai. Di dalam musala, kami duduk di atas karpet dan disuguhi kopi, bakwan, serta kue lapis sebagai teman rapat.

Aku duduk di belakang Ayah sambil menyimak. Aku mulai tertarik saat mendengar tujuan pembentukan Kabupaten Balanipa. Ternyata, perjuangan ini hampir berakhir bahagia, namun sempat terhalang oleh perubahan undang-undang pada tahun 2014.

Ada momen menarik saat penentuan tanggal kongres. Salah satu peserta memberikan saran yang menurutku sangat cerdas. “Bagaimana kalau tanggal 4 April? Sama seperti Sumpah Pemuda tanggal 28 November 1928 (28-11-28), angkanya unik. Jika kongres dilaksanakan pada 4 April 2026, maka menjadi 4-4-26. Angka 4 juga melambangkan Simbang Appe’,” usulnya.

Ketua panitia, Kak Farid (sebenarnya kakek dari garis ibu), menyukai ide itu, namun tetap harus menyesuaikan dengan jadwal Bapak Gubernur. Rapat juga membahas rencana mengundang tokoh-tokoh penting seperti Wamendagri, anggota DPR-RI, DPD-RI, dan FORKONAS.

Usai rapat di musala, kami tidak langsung pulang. Ada bincang-bincang tambahan di depan ruangan Pak Dinar yang menghasilkan ide untuk mengadakan Kemah Pemuda se-CDOB Balanipa sehari sebelum simposium. Ini bertujuan menunjukkan bahwa pemuda Balanipa siap mendukung pembentukan daerah baru ini. Setelah hari yang panjang hingga pukul 11 malam, kami pun pulang untuk beristirahat.

Persiapan yang Intens

Hari-hari berikutnya diisi dengan rapat-rapat lanjutan. Aku sempat mendengar kabar bahwa desainer undangan sedang sakit, padahal desainnya sangat keren—perpaduan warna merah gelap dan kuning emas dengan latar khas identitas Balanipa. Kabar baiknya, tanggal 4 April resmi disetujui oleh Bapak Gubernur Sulbar, Dr. Suhardi Duka.