Saksi Mata Sejarah: Catatan Perjalananku di Kongres Rakyat Balanipa

oleh
oleh

Aku sempat pergi ke Makassar sebentar. Di sana, Ayah bertemu dengan mantan Sekda Sulbar, Pak Idris. Beliau menyatakan dukungannya dan siap hadir sebagai pemateri simposium jika diundang.

Kesibukan memuncak menjelang hari pelaksanaan. Jadwal telah ditetapkan: Kemah Pemuda tanggal 2, Simposium Ilmiah tanggal 3, dan Kongres Rakyat Balanipa pada tanggal 4 April.

Rangkaian Acara Dimulai

Pada tanggal 2 April, kegiatan Kemah Pemuda dimulai. Aku melihat tenda-tenda terpal sudah terpasang. Ayah berbincang dengan rekan kepramukaannya, Kak Assaid Aco, sementara peserta mulai berdatangan untuk registrasi.

Sore harinya, Pak Ajbar (anggota DPR-RI) tiba untuk memberikan materi Empat Pilar kepada para santri. Setelah magrib, di musala beliau memberikan tausiah tentang kepemimpinan yang mencontoh Nabi Muhammad SAW. Acara berlanjut hingga malam dengan agenda sarasehan bersama peserta kemah pemuda Balanipa. Di tengah acara, sempat terjadi mati lampu, namun suasana tetap hangat dengan cahaya senter ponsel. Di momen itu pula, Pak Ajbar memberikan sumbangan Rp30 juta untuk panitia.

Malam itu juga, melalui pesan WhatsApp, Wamendagri Pak Bima Arya mengonfirmasi kesiapannya hadir secara daring di acara simposium esok hari.

Hari Simposium

Tanggal 3 April, Simposium Ilmiah dilaksanakan. Ayahku bertindak sebagai moderator. Lewat Zoom, Pak Wamendagri menyampaikan materi yang sangat serius, lengkap dengan slide presentasi tentang potensi Balanipa. Disusul kemudian oleh sambutan dari Pak Zulfikar Arse Sadikin (Wakil Ketua Komisi II DPR-RI) yang berbicara dari dalam mobilnya.

Sesi demi sesi berlangsung hingga sore, menghadirkan tokoh-tokoh seperti Pak Amujib (Ketua Bappeda Sulbar), Bung Iwan (Ridwan Alimuddin), Pak Darmansyah, Dr. Srimusdikawati, dan Pak Syahrir Hamdani. Menjelang malam, meski udara terasa sangat dingin karena angin kencang, semangat tidak pudar. Aku melihat para tokoh adat sedang melakukan gladi bersih untuk acara puncak besok.

Puncak Acara: Kongres Rakyat Balanipa

4 April 2026. Hari yang dinanti tiba. Lokasi kongres sudah dipenuhi kendaraan. Suasana sangat formal, bahkan kami sempat diarahkan ke tempat parkir lain sebelum akhirnya diizinkan masuk oleh panitia.
Tiba-tiba, Bung Iwan memanggil dan memintaku menjadi fotografer acara menggunakan kamera profesionalnya. Aku diberi “kursus singkat” cara menggunakannya. Tak lama, tamu VIP tiba: Pj Gubernur Suhardi Duka dan Bupati Polman H. Samsul Mahmud.

Aku langsung beraksi, memotret setiap momen penting mereka. Ini pengalaman spesial menenteng kamera berharga puluhan juta milik sahabat ayahku. Sesekali ayah berbisik agar menjaga kamera mahal itu agar mengalungkan talinya di leherku

Acara berlangsung meriah. Orasi pak Mujirin dan Pak Rahmat Hasanuddin membakar semangat peserta, mengingatkan pada perjuangan pembentukan Provinsi Sulbar dahulu. Lalu disusul Bupati Polman Samsul Mahmud, dan Gubernur Sulbar Dr. Suhardi Duka. Keduanya berjanji mendukung 100 persen Kabupaten Balanipa. Bahkan Bupati Polman menyumbang lima hektar tanahnya untuk persiapan Balanipa. Pembicara terakhir Dr. Zain yang membawa pesan-pesan halal bi halal.

Puncaknya pembacaan Ikrar Simbang Appe oleh Dr. Dinar, dan prosesi penandatanganan prasasti oleh tokoh-tokoh penting tersebut. Oya, acara ini juga dihadiri Raja Balanipa Bau Arifin Malik. Aku sempat panik karena baterai kamera habis tepat saat prasasti akan dibawa ke lokasi peletakan. Beruntung, sepertinya Bung Iwan tahu dan datang tepat waktu untuk mengganti baterai.

Meski lelah dan harus berdesakan dengan pengawal pejabat dan tamu, aku berhasil mengabadikan momen bersejarah itu. Bung Iwan mengapresiasi hasil fotoku. Setelah tamu-tamu pulang, aku pun makan dengan lahap karena saking capeknya.

Akhirnya, tugas dadakan itu selesai, dan kami pun pulang dengan perasaan lega. Siang saya bersama ayah kembali ke Mamuju. (*)