Semakin kita mengejar sesuatu dalam hidup entah itu cinta, kesuksesan, atau pengakuan sering kali justru terasa semakin menjauh; seperti kupu-kupu yang tak pernah mau hinggap di tangan yang tergesa-gesa. Mungkin selama ini kita salah arah: bukan tentang berlari lebih cepat, tapi tentang berhenti sejenak, memperbaiki diri, dan menjadi “tempat” yang layak, karena bisa jadi, yang kita cari tidak pernah benar-benar pergi, kita saja yang belum siap menerimanya.
Oleh Hamzah Durisa (Penggerak GUSDURian/ Pegiat Literasi)
Kupu-Kupu dan Pelajaran Tentang Pengejaran
Pernahkah kita mencoba menangkap kupu-kupu? Semakin kita berlari mengejarnya, semakin ia menjauh. Kita berusaha mendekat, tapi ia justru terbang lebih tinggi, lebih jauh, seolah tidak ingin digapai. Ada sesuatu yang sederhana namun dalam dari kejadian ini: tidak semua yang kita kejar akan mendekat dengan cara dikejar.
Kupu-kupu tidak tertarik pada kegaduhan. Ia tidak datang pada tangan yang tergesa-gesa, apalagi yang penuh ambisi. Ia hanya hinggap pada tempat yang tenang, indah, dan memberi rasa aman. Maka ketika kita sibuk mengejarnya, kita justru kehilangan kesempatan untuk memahaminya.
Begitulah hidup sering bekerja. Banyak orang merasa lelah karena terus mengejar sesuatu: jabatan, pengakuan, cinta, bahkan kebahagiaan. Mereka berlari tanpa henti, seolah semua itu harus ditangkap dengan paksa. Namun yang terjadi justru sebaliknya, semakin dikejar, semakin terasa jauh.
Kita sering lupa bahwa ada hukum tak terlihat dalam kehidupan. Sesuatu yang dipaksakan jarang bertahan lama, dan sesuatu yang tulus justru datang dengan sendirinya. Kupu-kupu mengajarkan bahwa tidak semua hal harus dikejar. Ada hal-hal yang justru datang ketika kita berhenti mengejar.
Bukan berarti kita tidak perlu berusaha. Tapi cara kita berusaha perlu diubah. Bukan dengan berlari membabi buta, melainkan dengan memahami arah, memperbaiki diri, dan menciptakan kondisi yang tepat. Karena bisa jadi, yang selama ini kita kejar sebenarnya tidak menjauh. Kita saja yang belum pantas untuk mendapatkannya.
“Tidak semua yang kita kejar akan mendekat. Kadang, yang kita butuhkan bukan berlari lebih cepat, tapi menjadi pribadi yang pantas untuk didatangi.”
Menjadi Taman: Memperindah Diri dari Dalam
Jika ingin kupu-kupu datang, jangan kejar kupu-kupunya. Jadilah taman. Taman yang indah tidak pernah memanggil kupu-kupu. Ia hanya tumbuh dengan baik. Bunganya mekar, warnanya cerah, aromanya wangi. Tanpa diminta, kupu-kupu akan datang dengan sendirinya.
Filosofi ini sederhana, tapi sangat dalam jika kita renungkan dalam kehidupan sehari-hari. Kita sering sibuk mengejar hasil, tapi lupa memperbaiki proses. Kita ingin dihargai, tapi lupa memperbaiki kualitas diri. Kita ingin dicintai, tapi lupa menjadi pribadi yang layak untuk dicintai. Menjadi taman berarti memperindah diri dari dalam. Bukan sekadar penampilan luar, tapi juga sikap, cara berpikir, dan cara memperlakukan orang lain. Taman yang baik tidak hanya indah dipandang, tapi juga memberi kenyamanan bagi siapa saja yang datang.
Dalam kehidupan, memperindah diri bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Bisa dengan belajar menjadi pribadi yang jujur dan bertanggung jawab. Belajar mengendalikan dan tidak mudah marah. Terus belajar dan mengembangkan kemampuan . Senantiasa menjaga hubungan baik dengan orang lain. Lalu, menanamkan niat yang tulus dalam setiap langkah.











