Menjelang berakhirnya Ramadan, umat Muslim di berbagai tempat mulai menakar beras, memasukkannya ke dalam kantong-kantong kecil, lalu menyiapkannya untuk dibagikan. Di balik ritual yang tampak sederhana itu, tersimpan sebuah makna mendalam: zakat fitrah sebagai jalan manusia kembali kepada fitrahnya—kepada kesadaran bahwa hidup bukan hanya tentang dirinya sendiri.
Oleh Hamzah Durisa (Pegiat Literasi/ Penggerak GUSDURian)
Di 10 hari terakhir di bulan Ramadan, ada satu momen yang semua umat Muslim mesti terlibat dalam ritual itu. Ketika Orang-orang mulai berbicara tentang Idul fitri yang akan datang. Orang yang pergi merantau, tengah mengambil ancang-ancang untuk balik ke kampung halaman. Di rumah-rumah, beras mulai ditakar, dimasukkan ke dalam kantong, lalu disiapkan untuk dibagikan.. Itulah momentum menunaikan zakat fitrah bagi siapapun Muslim yang bernyawa.
Hakikat Zakat Fitrah
Sekilas, zakat fitrah tampak seperti sebuah kewajiban sederhana: memberikan sebagian makanan pokok kepada orang lain. Tetapi jika kita berhenti sejenak dan merenung, ada makna yang jauh lebih dalam di baliknya. Zakat fitrah bukan sekadar pemberian. Ia adalah simbol penyucian. Ia adalah tanda bahwa manusia sedang kembali kepada dirinya yang paling awal, paling jujur, paling murni.
Al-Qur’an mengingatkan kita bahwa manusia diciptakan dari tanah. Bayangkan tanah itu: sunyi, sederhana, dan tidak pernah meninggikan dirinya. Tanah selalu berada di bawah, tetapi darinya tumbuh kehidupan. Dari tanah tumbuh pohon-pohon, padi-padian, bunga, dan segala yang memberi makan manusia. Di situlah asal kita.
Tubuh kita berasal dari unsur yang sama dengan bumi: air, mineral, debu kehidupan yang perlahan disusun oleh kehendak Tuhan. Tidak ada yang istimewa pada tanah itu, kecuali satu hal yang membuat manusia menjadi makhluk yang berbeda. Setelah tubuh itu dibentuk, Tuhan meniupkan ruh ke dalamnya.
Ruh itu seperti cahaya yang menghidupkan tubuh yang sebelumnya hanya materi. Dengan ruh itu manusia mulai merasakan, berpikir, mencintai, dan mencari makna hidup. Ruh itulah yang membuat manusia selalu memiliki kerinduan kepada sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya. Sejak saat itu manusia hidup di antara dua dunia.
“Ketika segenggam beras diberikan kepada sesama, manusia sebenarnya sedang mengembalikan sebagian dari bumi kepada kehidupan yang sama.”
Manusia dan Tanah
Tubuh manusia berasal dari tanah, sehingga ia selalu tertarik kepada hal-hal duniawi: makanan, harta, kenyamanan, kekuasaan. Tetapi ruhnya berasal dari Tuhan, sehingga di dalam hatinya selalu ada suara yang memanggilnya pulang. Suara yang mengajak kepada kebaikan, kepada kasih sayang, kepada kejujuran. Kadang-kadang suara ruh itu terdengar sangat jelas. Tetapi sering juga ia tertutup oleh hiruk pikuk kehidupan.
Ramadan datang seperti sebuah jeda. Selama sebulan penuh manusia dilatih untuk memperlambat langkahnya. Ia menahan lapar dan dahaga. Ia belajar menahan amarah. Ia belajar mengendalikan keinginan. Puasa bukan hanya soal menahan makan dan minum, tetapi juga latihan untuk membersihkan ruang di dalam hati.
Dalam kesunyian itulah manusia mulai mendengar kembali suara ruhnya. Tetapi manusia tidak pernah sempurna. Dalam perjalanan puasa itu, mungkin ada kata yang terucap tanpa sengaja melukai orang lain. Ada pikiran yang melintas tanpa kita sadari. Ada sikap yang kurang sabar, atau hati yang sempat dipenuhi oleh kesombongan kecil.
Di sinilah zakat fitrah hadir seperti air yang membasuh sisa-sisa debu di perjalanan. Nabi Muhammad menjelaskan bahwa zakat fitrah adalah penyuci bagi orang yang berpuasa dari kata-kata sia-sia dan perbuatan yang tidak baik. Ia seperti sentuhan terakhir yang membersihkan hati sebelum manusia memasuki hari kemenangan.
Bayangkan seseorang yang mengambil segenggam beras, lalu menimbangnya dengan tenang. Beras itu bukan sekadar makanan. Ia adalah hasil dari tanah yang subur, dari hujan yang turun, dari matahari yang menyinari, dari kerja keras petani yang menanam dan merawatnya. Semua itu adalah bagian dari kehidupan yang saling terhubung.
Simbol Kepedulian Sosial
Ketika seseorang memberikan zakat fitrah, ia sebenarnya sedang mengakui satu hal yang sangat sederhana tetapi sering kita lupakan: bahwa hidup ini bukan hanya tentang dirinya sendiri. Di luar sana ada orang lain yang juga berjuang menjalani hidup. Ada keluarga yang mungkin tidak memiliki cukup makanan untuk merayakan hari raya. Ada anak-anak yang menunggu kegembiraan kecil yang bagi sebagian orang mungkin terasa biasa saja.
Zakat fitrah mengajarkan kita untuk melihat dunia dengan mata yang lebih lembut. Ia mengingatkan bahwa rezeki yang kita miliki tidak sepenuhnya milik kita. Ada bagian orang lain yang dititipkan di dalamnya. Ada hak orang lain yang harus kita kembalikan. Pada saat itu, ego manusia perlahan melembut. Kesadaran tumbuh pelan-pelan: bahwa kita semua berasal dari tanah yang sama. Bahwa tidak ada manusia yang benar-benar lebih tinggi dari yang lain.
Perbedaan harta hanyalah bagian dari perjalanan hidup yang sementara.Yang membuat manusia mulia bukanlah apa yang ia miliki, tetapi bagaimana ia memperlakukan sesama.Itulah sebabnya zakat fitrah sering diberikan dalam bentuk makanan pokok, seperti beras. Beras adalah simbol kehidupan yang sangat sederhana. Ia berasal dari tanah, tumbuh dari bumi, dan menjadi makanan yang menguatkan tubuh manusia.
Ketika beras itu diberikan kepada orang lain, seakan-akan manusia sedang mengembalikan sebagian dari bumi kepada sesamanya. Sebuah lingkaran kehidupan yang indah: tanah memberi makan manusia, manusia berbagi dengan manusia lainnya.
Dalam lingkaran itu, keserakahan perlahan kehilangan tempatnya. Di sana yang tersisa hanyalah rasa syukur. Rasa syukur bahwa kita masih diberi kesempatan untuk hidup. Rasa syukur bahwa kita masih diberi kemampuan untuk berbagi. Dan rasa syukur bahwa di dalam diri kita masih ada ruh yang terus mengingatkan kita kepada Tuhan.
Ketika malam Idul fitri semakin dekat, suasana hati manusia biasanya berubah. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Seolah-olah perjalanan panjang selama Ramadan telah membawa kita kembali ke suatu tempat yang sangat akrab. Tempat itu adalah fitrah kita. Fitrah adalah keadaan jiwa yang bersih, jujur, dan tenang. Keadaan ketika manusia tidak lagi dibebani oleh kesombongan, iri hati, atau kerakusan. Ia kembali seperti tanah: sederhana tetapi penuh kehidupan.
Zakat fitrah adalah salah satu jalan menuju keadaan itu. Ia bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi undangan untuk kembali menjadi manusia yang utuh. Manusia yang sadar bahwa tubuhnya berasal dari bumi, tetapi ruhnya selalu terhubung dengan langit. Dan mungkin, ketika kita menyerahkan zakat fitrah dengan hati yang tenang, ada satu bisikan halus yang muncul dari dalam diri.
Bisikan yang mengatakan bahwa perjalanan hidup ini pada akhirnya adalah perjalanan pulang. Pulang kepada kesederhanaan. Pulang kepada kemurnian hati.Pulang kepada Tuhan yang sejak awal telah meniupkan ruh-Nya ke dalam diri kita.











