Inersia: Tentang Jebakan Bias dan Makna Esensial Gerak

oleh
oleh

“Saya memang orang malas.”

Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi diam-diam bisa menjadi jebakan paling berbahaya dalam hidup seseorang. Sebab, saat kita menyebutnya sebagai identitas, kita sebenarnya sedang menutup kemungkinan untuk berubah.

Oleh Adi Arwan Alimin (Historian Public)

PAGI ini sambil menanti peserta lomba jurnalistik saya membaca sepintas hukum gerak pertama Newton yang familiar: inertia. Tidak terlalu panjang, semula dari tampilan di media sosial yang kemudian saya jejaki hingga beberapa laman. Dikatakan, jika kita melihat kemalasan melalui lensa hukum inersia dan makna esensial kata “gerak” ini, kita sampai pada pemahaman yang berbeda: kemalasan bukan karakter tetap. Melainkan keadaan diam yang bisa diubah oleh gerakan pertama.

Rupanya dalam kehidupan sehari hari, banyak orang mengeluh: “Saya memang orang malas.” Kalimat ini terdengar ringan, tetapi di dalamnya tersimpan sebuah jebakan bias mental yang sangat kuat. Sebab tidak sedikit orang cenderung menganggap “malas” sebagai sifat bawaan, identitas yang tetap, dan hampir tidak bisa diubah.

Ketika seseorang berkata, “Saya memang orang malas,” ia tidak hanya menggambarkan perilaku, tetapi juga mengkategorikan dirinya. Dalam psikologi, kecenderungan manusia untuk menggeneralisasi pola perilaku menjadi identitas diri disebut sebagai bias statis atau fixed mindset (Dweck, 2006). Dengan cara ini, seseorang menganggap malas sebagai sifat bawaan, bukan sebagai posisi sementara yang bisa berubah.

Paradoksnya, ketika seseorang menganggap dirinya “orang malas”, ia justru memperkuat siklus tersebut. Pikiran seperti “Saya memang tidak mampu bergerak” menekan usaha untuk memulai, sehingga rasa malas terus berulang. Ini mirip dengan bias kognitif bahwa otak lebih nyaman mengulang pola yang sudah dikenal, sehingga menghindari upaya yang membutuhkan energi baru.

Namun, jika melihat kemalasan dari perspektif hukum inersia, kita bisa mengubah maknanya. Hukum Pertama Newton menyatakan bahwa benda yang diam cenderung tetap diam, dan benda yang bergerak cenderung tetap bergerak, kecuali ada gaya eksternal yang mengubahnya (Serway & Jewett, 2014).

Dalam konteks psikologis, “diam” bisa diartikan sebagai kebiasaan malas, dan “bergerak” sebagai kebiasaan produktif. Menariknya, inersia tidak menegaskan bahwa benda tidak bisa berubah, hanya menekankan bahwa perubahan membutuhkan gaya.

Dengan kata lain, kemalasan bukan sifat bawaan, melainkan inersia mental yang dapat diubah. Masalah muncul ketika kita menganggap “malas” sebagai identitas, sehingga tidak merasa perlu memberi “gaya” untuk memulai. Bingkai ini adalah seolah jebakan ketika seseorang menganggap dirinya “memang malas”, berarti dia sedang menutup ruang untuk kemungkinan perubahan.

Untuk memahami kemalasan lebih dalam, kita perlu memperhatikan makna esensial kata “gerak”. Dalam bahasa sehari hari, “gerak” sering diartikan sebagai perpindahan fisik berjalan, berlari, berpidato, atau menulis. Namun, dalam filsafat, gerak memiliki makna yang lebih luas.

Dalam tradisi filsafat klasik, gerak dipahami sebagai proses perubahan dari potensi menuju aktualitas (Aristoteles, dikutip dalam Filsafat Gerak: Hakikat dan Jenisnya, 2025). Artinya, ketika seseorang bergerak, ia tidak hanya mengubah posisi fisik, tetapi juga mewujudkan kemungkinan yang sebelumnya hanya ada dalam benak. Dalam konteks psikologis, gerak bisa dibaca sebagai proses aktualisasi diri. Ketika seseorang mulai bergerak, ia mengubah pola pikir pasif menjadi pola pikir aktif.

Penelitian dalam bidang psikologi kognitif menunjukkan bahwa gerakan fisik memiliki efek langsung pada emosi dan kognisi. Ketika seseorang mulai bergerak — misalnya berjalan, berdiri, atau mulai menulis , tubuh dan pikiran bekerja dalam dinamika interaktif (Prisma Bogor, 2024). Dengan demikian, gerak tidak hanya terbatas pada aktivitas fisik, tetapi juga mencakup perubahan mental, emosional, dan spiritual.

Dalam konteks percakapan ini, gerak menjadi simbol perubahan. Ketika seseorang “mulai bergerak”, ia tidak lagi berada dalam keadaan diam yang disebut “malas”. Gerak adalah tanda bahwa potensi sudah mulai wujud, dan inersia sudah berubah arah.

Bagaimana kita bisa mengatasi kemalasan, jika kita memahaminya sebagai keadaan diam? Di sinilah kita membutuhkan gaya yang bisa berarti motivasi, dorongan eksternal, atau bahkan keputusan kecil untuk memulai.
Beberapa peneliti dalam psikologi produktivitas menyarankan strategi “langkah kecil” (small steps). Ketika seseorang merasa malas, sering kali ia dibebani oleh tugas besar yang tampak menakutkan.

Namun, jika ia membagi tugas menjadi langkah kecil, misalnya mulai dari atau hanya 2 menit, maka beban psikologis berkurang (Kumparan, 2024). Gerak minimal sudah cukup untuk memecah inersia “diam” menjadi inersia “bergerak terus”.

Selain itu, perubahan lingkungan juga bisa menjadi gaya penting. Dalam artikel tentang cara mengatasi rasa malas, penulis menekankan pentingnya mengurangi distraksi dan menciptakan lingkungan yang mendukung produktivitas (Mahasiswa Indonesia, 2024). Ketika lingkungan mendukung, seseorang lebih mudah memulai gerakan, dan inersia sebagai gerak pun semakin kuat.

Dari sini kita bisa melihat bahwa kemalasan sebenarnya adalah keadaan sementara, bukan identitas permanen. Jika seseorang mampu memberi gaya, maka dia akan melihat bahwa dirinya bukan “orang malas”, tetapi orang yang sedang belajar bergerak.

Pada intinya gerak dianggap sebagai prinsip dasar kehidupan. Manusia, menurut sebagian filsuf, diciptakan untuk bergerak, bukan untuk membeku. Gerak wujud dari perubahan dan evolusi (Filsafat Gerak dan Penerapannya, 2025). Dalam konteks psikologis, gerak menjadi simbol perkembangan pribadi. Setiap kali seseorang memulai berarti sedang mengalami perubahan, baik dalam perilaku maupun dalam cara berpikir.

Dalam dunia pendidikan, prinsip ini juga diterapkan. Konsep “gerak” dalam pembelajaran jasmani tidak hanya fokus pada aktivitas fisik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan disiplin (Pembelajaran Gerak dalam Pendidikan Jasmani, 2019). Dengan demikian, gerak menjadi simbol bahwa manusia selalu berproses, bukan statis.

Dalam percakapan ini, kita bisa melihat bahwa kemalasan adalah penyimpangan sementara dari prinsip gerak. Ketika seseorang merasa malas, ia tidak sedang melanggar hukum alam, tetapi hanya mengalami fase diam yang lebih lama dari biasanya. Namun, selama masih memiliki potensi untuk bergerak, artinya tidak menghilang dari prinsip gerak.

Kemalasan sebenarnya adalah kombinasi antara bias mental dan inersia perilaku. Kita cenderung menganggap “malas” sebagai sifat tetap, padahal hanya sebuah posisi sementara. Dalam konteks ini, gerak menjadi simbol perubahan. Ketika seseorang bergerak dan sedang mengubah keadaan “diam” menjadi keadaan “aktif”, dan inersia pun berubah arah.

Kita perlu mengingat bahwa kemalasan bukan identitas, melainkan keadaan. Dengan memahami makna esensial kata “gerak”, kita bisa melihat bahwa perubahan selalu mungkin, selama kita bersedia memberi “gaya” untuk memulai. Kemalasan bukanlah jebakan yang tak bisa diatasi, tetapi tantangan untuk mengubah inersia. Kita lahir untuk bergerak, bukan untuk membeku. (*)

Topoyo, 29 April 2026