Laporan: Busriadi (Guru SDN No. 16 Tanisi, Malunda)
Gelombang ketiga Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang SD/MI/SDLB dan Paket A resmi bergulir pada Senin hingga Selasa, 27-28 April 2026. Sebagai asesmen standar nasional, TKA hadir untuk memotret capaian akademik siswa secara objektif dan menyeluruh.
Untuk jenjang pendidikan dasar, TKA dilaksanakan dalam empat gelombang yang merentang sejak 20 hingga 30 April 2026. Di SDN No. 16 Tanisi, Kecamatan Malunda, Kabupaten Majene, gairah menyambut ujian ini sudah terasa jauh-jauh hari. Para siswa kelas 6 tampak telah melakukan persiapan matang, terutama pada mata pelajaran fundamental seperti Matematika dan Bahasa Indonesia.
Pada pelaksanaan ujian di hari Senin dan Selasa, suasana di SDN No. 16 Tanisi tampak berbeda. Para peserta didik hadir lebih awal dengan raut wajah penuh kesiapan.
“Kami sudah siap ikut TKA, Pak,” ujar Ramadhani, salah satu peserta ujian, dengan nada optimis.
Ramadhani bercerita bahwa persiapannya tidak hanya dilakukan di sekolah. Di rumah, ia kerap mengulang pelajaran secara mandiri maupun berkelompok. Keterbatasan buku bukan penghalang baginya untuk terus mengasah kemampuan.
“Belajar juga di rumah, Pak. Saya bahkan meminjam buku TKA milik teman-teman untuk dipakai belajar tambahan,” tambah Ramadhani.
TKA Tahun Ajaran 2025/2026 ini merupakan edisi perdana yang dilaksanakan serentak untuk jenjang SD, SMP, hingga SMA sederajat di seluruh Indonesia. Perlu digarisbawahi bahwa hasil TKA ini akan digunakan sebagai salah satu instrumen seleksi ke jenjang pendidikan berikutnya, bukan sebagai penentu.
Sesuai regulasi, hak otonomi untuk menentukan kelulusan siswa tetap berada di tangan satuan pendidikan masing-masing. Meski demikian, hal ini tidak menyurutkan semangat siswa untuk memberikan yang terbaik.
Inayah, siswi lainnya, mengaku tetap serius mempersiapkan diri meski kelulusan ditentukan oleh sekolah.
Baginya, TKA adalah pembuktian atas apa yang telah ia pelajari selama enam tahun di bangku sekolah dasar.
“Kami tetap belajar sungguh-sungguh. Di rumah pun saya belajar, bahkan malam sebelum ujian saya masih menyempatkan diri mengulang pelajaran,” tutur Inayah dengan penuh semangat.
Di balik konsentrasi mereka menjawab soal-soal di layar maupun kertas ujian, terselip harapan besar. Bagi Ramadhani, Inayah, dan kawan-kawannya, TKA adalah langkah awal mengejar mimpi ke sekolah impian.
“Kami punya harapan, semoga kerja keras kami membuahkan hasil. Semoga Allah memberikan nilai TKA yang maksimal,” harap Inayah, yang langsung diamini oleh rekan-rekan sekelasnya.
Persiapan matang yang telah dilakukan para siswa di ujung utara Majene ini menjadi bukti bahwa meski di tengah keterbatasan, impian untuk meraih prestasi akademik tetap menyala terang. (*)












