Selasa, 27 April 2026, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Barat menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan Berbasis Budaya Lokal di Mamuju. Kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi generasi muda untuk menghidupkan kembali nilai-nilai budaya Mandar melalui tulisan, sekaligus memperkuat ekosistem literasi daerah.
Oleh: Mursyid Syukri | Sekolah Adat Adolang
Sebuah harapan besar menyala di kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Sulawesi Barat. Di sana, literasi tidak lagi sekadar dipahami sebagai aktivitas membaca dan menulis secara mekanis, melainkan sebuah gerakan untuk memulangkan kembali ingatan kita pada nilai-nilai kearifan lokal.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Barat kembali membuktikan perannya sebagai garda terdepan dalam menghidupkan budaya literasi. Melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal, para generasi muda dari komunitas literasi, Taman Bacaan Masyarakat (TBM), sekolah, hingga perguruan tinggi berkumpul dengan satu misi: menuliskan kembali wajah Sulawesi Barat.
Kegiatan ini berlangsung secara dinamis dengan metode hybrid. Sebagian peserta memadati aula di Jalan Martadinata, Simboro, Mamuju, sementara sebagian lainnya terhubung melalui layar digital dari berbagai pelosok wilayah Mandar. Kehadiran para sastrawan dan penyair kenamaan Sulawesi Barat—Bustam Basir Maras, Adi Arwan Alimin, dan Mira Pasolong—menjadi daya tarik utama.
Diskusi pun mengalir hangat di bawah panduan Imelda Adhy Yanthy, sang moderator yang dengan piawai menghidupkan suasana.
Momen paling menggetarkan dalam pertemuan ini adalah saat bait-bait puisi mulai menggema. Sebuah parade pembacaan puisi digelar bukan hanya sebagai pemanis acara, melainkan sebagai kado takzim memperingati Hari Puisi Nasional.
Suasana mencapai puncaknya ketika Kepala Dinas Perpusip Sulbar, Mustari Mula, melantunkan puisi berjudul “Indonesia, Kami Menggugat” karya Nur Dahlan Jirana. Pilihan judul ini seolah menjadi refleksi sekaligus pesan kuat bahwa Bimtek ini adalah langkah nyata dalam menggugat ketertinggalan literasi dan memperkokoh jaringan penulis di tanah
Nutrisi Ilmu Berbasis Akar
Hal yang paling esensial dari Bimtek kali ini adalah keberaniannya untuk berpijak pada bumi sendiri. Fokus pembelajaran diarahkan pada kepenulisan berbasis budaya lokal. Para peserta diajak untuk menggali kembali harta karun terpendam berupa nilai-nilai tradisi, sejarah, dan kebiasaan masyarakat yang selama ini mungkin luput dari tinta penulis.
Di wilayah Mandar, literatur yang mengangkat nuansa budaya lokal secara mendalam memang masih terasa minim. Kekosongan inilah yang coba diisi melalui kegiatan ini. Ruang diskusi berubah menjadi wadah “nutrisi ilmu” yang kaya, memberikan bekal teknis sekaligus penguatan identitas bagi para peserta. Tujuannya jelas: agar tulisan yang lahir nantinya tidak hanya indah secara estetika, tetapi juga memiliki “ruh” dan jati diri daerah.
Antusiasme yang meluap dari para peserta, baik yang hadir fisik maupun daring, menjadi sinyal positif bagi masa depan literasi kita. Diskusi yang aktif dan semangat belajar yang tinggi menunjukkan bahwa ada kerinduan besar di kalangan anak muda untuk bercerita tentang tanah kelahirannya.
Melalui bimbingan teknis ini, kita tidak hanya sedang mencetak orang yang pandai merangkai kata, tetapi sedang menyiapkan generasi penulis baru yang akan menjadi penjaga gawang kebudayaan Mandar.
Harapannya, karya-karya mereka kelak akan menghiasi rak-rak perpustakaan, berbicara lantang di tengah arus zaman, dan menegaskan bahwa di Sulawesi Barat, budaya dan tulisan adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Kita menanti lahirnya karya-karya bermakna yang akan mengabadikan budaya Mandar dalam keabadian aksara. (*)
Majene, 27 April 2026










