Kalau Hormuz Ancam Minyak, Selat Makassar Mengancam Baterai

oleh
oleh

Dunia selama ini hanya takut pada satu titik: Selat Hormuz. Tapi diam-diam, ancaman yang lebih sunyi sedang tumbuh di timur. Selat Makassar, jalur yang mengalirkan nikel, LNG, dan bahan baku baterai, berpotensi melumpuhkan industri global jika terganggu. Ini bukan lagi skenario imajinatif, melainkan risiko nyata dalam geopolitik 2026.

 

Oleh: Adi Arwan Alimin (Historian Public)

Selama beberapa dekade, diskursus chokepoint maritim global selalu berputar pada Selat Malaka yang sesak atau Selat Hormuz yang berpotensi meledak seperti saat ini. Namun memasuki 2026, garis risiko geopolitik semakin bergeser ke timur.

Dengan ketergantungan dunia pada mineral kritis dan rantai pasok maritim yang semakin rapat, muncul pertanyaan yang tidak lagi sekadar latihan imajinasi: bagaimana jika Selat Makassar ditutup sebagai jalur perdagangan dunia?

Jika Selat Hormuz adalah “jantung energi” masa lalu karena mengalirkan sekitar 20–21 juta barel minyak per hari (sekitar 20% dari volume minyak global yang diperdagangkan), maka Selat Makassar adalah “tulang punggung material” masa depan.

Hari ini, ketika dunia berlomba menuju ekonomi hijau, gangguan di Hormuz memicu lonjakan harga BBM, sedangkan gangguan di Makassar dapat menghentikan rantai pasok nikel, batubara, LNG, dan bijih besi yang menjadi bahan baku baterai EV, baja, dan energi Asia Timur.

Hormuz vs Makassar Membanding Dua Jantung Laut

Selat Hormuz, di Teluk Persia, biasa disebut “jantung energi” karena menghubungkan Teluk Persia dengan Asia dan Eropa. Data U.S. Energy Information Administration (EIA) dan laporan 2025–2026 menunjukkan bahwa sekitar 20–21 juta barel minyak per hari melewati Hormuz, sekitar 20% dari volume minyak global yang diperdagangkan.

Bagi Indonesia, Selat Makassar memainkan peran strategis yang berbeda, tetapi tidak kalah vital. Di tahun 2026, ketika dunia bertransformasi ke ekonomi hijau, Selat Makassar menjadi jalur utama arus nikel, batubara, LNG, dan bijih besi dari Indonesia dan Australia Timur ke Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan.

Kapal raksasa Capesize dari Australia ke Asia Timur umumnya tidak memilih Selat Malaka karena terbatas oleh kedalaman air (under‑keel clearance). Mereka mengandalkan rute melalui Selat Makassar–Lombok, yang menjadi poros utama arus barang‑barang strategis dunia.

Dengan demikian, gangguan di Hormuz berarti kenaikan harga BBM dan volatilitas energi global. Gangguan di Makassar berarti kelumpuhan bertahap rantai pasok baterai kendaraan listrik, baja, dan bahan kunci lainnya yang menjadi tulang punggung industri manufaktur dunia.

Efek Domino “Rerouting” Global

Selat Makassar bukan jalur biasa. Ia menjadi bagian vital dari Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II, yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 2002. Jika jalur ini ditutup atau diketatkan, dampaknya akan merambat jauh melampaui perairan Indonesia.

1. Ledakan Biaya dan Waktu Logistik

Kapal harus dialihkan (reroute) melalui Selat Lombok atau memutar ke timur melalui Samudra Pasifik. Analisis rute Makassar–Lombok menunjukkan bahwa perubahan rute semacam ini dapat menambah jarak tempuh sekitar 1.500 mil laut, yang untuk kapal besar berkisar antara 5–8 hari tambahan.

Dalam ekosistem manufaktur just‑in‑time, keterlambatan satu minggu berarti kenaikan biaya penyimpanan, gangguan produksi, dan kemungkinan inflasi harga barang jadi secara global. Rantai global yang rapat dan tersegmentasi akan sangat mudah tersentak oleh ketegangan di Selat Makassar.

2. Krisis Energi Asia Timur

Selat Makassar adalah jalur utama bagi LNG dari Australia Utara dan batubara dari Kalimantan Timur yang menuju Jepang dan Korea Selatan. Kedua negara ini sangat bergantung pada impor energi, seperti terlihat dalam laporan BP Statistical Review of World Energy, yang menunjukkan bahwa Jepang dan Korea Selatan mendatangkan sebagian besar gas dan batubara mereka dari luar negeri melalui rute laut Asia–Pasifik.

Penutupan jalur Makassar akan memaksa kapal berputar jauh ke timur, meningkatkan biaya dan risiko gangguan pasok energi. Bagi Jepang dan Korea Selatan, ini berarti potensi ketidakstabilan listrik, industri, dan ekonomi, yang pada gilirannya akan memengaruhi pasar global.

3. Disrupsi Mineral Kritis dan Baterai EV

Indonesia kini memimpin pasokan nikel global. Data USGS dan laporan sektor pertambangan 2024–2025 menunjukkan bahwa Indonesia memproduksi lebih dari 60% dari total produksi nikel dunia, dengan cadangan yang juga mendominasi.

Sebagian besar pengolahan nikel paling intensif terjadi di kawasan Morowali (Sulawesi Tengah) dan Konawe (Sulawesi Tenggara), yang terhubung dengan Selat Makassar sebagai jalur distribusi utama menuju pasar global.

Nikel adalah elemen kunci dalam baterai lithium‑ion untuk kendaraan listrik dan penyimpanan energi. Jika jalur ini terhambat, rantai pasok baterai EV menjadi tersendat, yang berarti keterlambatan produksi EV global, kenaikan harga baterai, dan percepatan geopolitik mineral kritis.

Secara hukum, Indonesia berada dalam kerangka UNCLOS 1982, khususnya Pasal 53 tentang archipelagic sea lanes dan transit passage. Menurut aturan ini, Indonesia boleh menetapkan alur laut kepulauan (ALKI) untuk lintas transit kapal asing, termasuk ALKI II yang melintasi Selat Makassar. Dalam kondisi normal, Indonesia berkewajiban memastikan kelancaran lintas perdagangan.

Namun UNCLOS juga memberikan ruang bagi negara kepulauan untuk menggunakan alasan keamanan nasional atau perlindungan lingkungan dalam situasi yang dianggap mendesak.

Ini membuka gagasan penting Selat Makassar bukan hanya jalur transit, tetapi instrumen daya tawar diplomatik. Seperti Iran yang menggunakan ancaman penutupan Selat Hormuz sebagai alat tawar politik, Indonesia kini memiliki “pos pengawasan” geopolitik aktif berkat lokasi geografisnya yang mengelilingi Selat Makassar.

Dengan posisi ini, Indonesia dapat:

  • Mengatur kepadatan lalu lintas kapal.
  • Meneguhkan patuh terhadap regulasi lingkungan dan keamanan.
  • Membangun narasi bahwa keamanan lingkungan maritim Indonesia adalah bagian dari keamanan maritim global.

Namun, ini semua bagai pedang bermata dua, strateginya bisa berbalik memukul ekonomi domestik jika diterapkan secara gegabah.

Makassar sebagai Poros Baru Dunia

Selat Hormuz adalah simbol masa lalu yang berbasis energi fosil. Selat Makassar adalah simbol masa depan yang berbasis teknologi, energi terbarukan, dan material kritis. Ketika dunia bergerak menuju elektrifikasi dan dekarbonisasi, stabilitas ekonomi global kini tidak hanya ditentukan oleh Timur Tengah, tetapi juga oleh ketenangan di Selat Makassar.

Ketika dunia bertransisi dari era minyak ke era mineral dan baterai, posisi Indonesia bergerak dari “jalur lintas” ke “poros pengelola arus kemakmuran dunia”. Selat Makassar, dengan fungsi krusialnya, menjadi bukti bahwa Indonesia bukan hanya negara kepulauan, tetapi poros maritim dunia yang nyata dan aktif. (*)

(Diolah dari berbagai sumber/sitasi)