5 Perkara sebelum 5 Perkara
Hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Al-Hakim : “Nabi Muhammad memerintahkan kepada umat Islam untuk memanfaatkan lima kesempatan sebaik mungkin agar tidak menyesal dikemudian hari. Lima perkara yang dimaksud adalah sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit, dan hidup sebelum mati.
Kelima hal ini sering kita anggap biasa, padahal justru di situlah letak ujian sebenarnya. Sehat dan waktu, misalnya, adalah nikmat yang paling sering dilupakan karena terlalu sering kita miliki. Padahal, keduanya seperti pisau bermata dua—bisa menjadi sumber kebaikan atau justru penyesalan.
Disaat kita sehat jadi lupa apa yang begitu berharga, namun ketika sehat itu pergi (sakit) dengan usaha maksimal sekalipun mengeluarkan biaya yang besar sehat itu kita cari lagi. Nah, mumpung sehat itu masih ada dan kita rasakan, mari kita jaga dengan cara menjadikan olahraga jadi kebiasaan harian. Saya juga malu memasukkan saran ini karena masih berusaha tapi yakinlah banyak riset ilmiah yang memaparkan manfaat dari olahraga. Sebenarnya olahraga itu bukan hal yang susah. Tidak harus jogging puluhan kilometer atau akan beban setiap hari, cukup dengan berjalan kaki dari rumah ke masjid atau jalan-jalan pagi bersama keluarga menikmati pagi yang tenang sambil bercengkrama juga olahraga.
Usia muda adalah kesempatan emas untuk memaksimalkan segala usaha, ibadah dan cita-cita. Di fase ini, kita memiliki: Otak yang fresh, pikiran yang masih segar, tubuh yang prima, energi yang besar, mental yang fleksibel dan kesempatan mencoba dan gagal. Namun sering kali, potensi ini justru tidak dimaksimalkan -hanya karena pola pikir yang salah. Seiring bertambahnya usia, semua keunggulan ini perlahan berkurang. Karena itu, memanfaatkan masa muda adalah bentuk investasi terbaik dalam hidup.
Kaya sering diidentikkan dengan harta. Dan memang, dalam banyak hal, harta memberi ruang lebih luas untuk berbuat kebaikan. Dalam konteks ini, menjadi pribadi yang berkecukupan adalah penting—agar kita lebih leluasa dalam beribadah dan membantu sesama. Namun, yang perlu diluruskan adalah cara pandang. Hidup sederhana bukan berarti menolak dunia, tetapi bagaimana kita tidak diperbudak olehnya.
Jangan tunggu kehilangan untuk menyadari nilai. Karena dalam hidup, yang paling berbahaya bukanlah kesalahan besar, melainkan kebiasaan kecil yang terus diulang—tanpa pernah kita sadari.
Ada satu cara berpikir yang saya tidak sepakati yaitu menjauhi dunia dan hidup sederhana yang berlebihan. Memang dalam beberapa cerita dan hadist menggambarkan bahwa Nabi Muhammad sangat sederhana hidupnya, namun perlu diketahui itu terjadi karena nabi berada pada level sedekah tingkat tinggi, artinya beliau dulunya sangat kaya (wong beliau pedagang antar negara sejak remaja dan terkenal jujur) hanya saja Nabi Muhammad menyedekahkan semuanya dan memilih hidup sederhana. Itu poinnya. Jadi sebagai muslim kita wajib kaya karena kemiskinan membuat kita tidak leluasa dalam beribadah.
Waktu luang adalah kesempatan untuk menyiapkan diri. Keberuntungan sejatinya adalah pertemuan antara kesempatan dan kesiapan. Maka, orang yang terlihat “beruntung” biasanya adalah mereka yang terus belajar dan mempersiapkan diri. Kadang, kita juga perlu “menjemput” kesempatan itu. Misalnya dengan membayangkan diri di posisi yang lebih tinggi, lalu mulai menyiapkan kapasitas yang dibutuhkan dari sekarang. Karena ketika amanah sudah datang, waktu untuk bersiap biasanya sudah sangat terbatas.
Jika di masa lalu kita pernah lalai—tidak menjaga kesehatan, menyia-nyiakan waktu, atau tidak merencanakan hidup dengan baik—maka yang tersisa adalah memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki. Tidak ada kata terlambat untuk kembali. Namun, kita juga harus siap menerima konsekuensi dari setiap pilihan yang pernah diambil. Tidak ada kata terlambat untuk meminta ampunan kepada Allah.
Sudah saatnya kita mengambil kembali kendali atas diri dan hidup kita. Jangan sampai hal-hal yang tidak penting terus-menerus menggerus hal-hal yang justru paling berarti—tanpa kita sadari. Karena sering kali, yang kita kira hanya “menendang botol”, ternyata justru membuat kita kehilangan “sandal”. Wallahu’alam bissawab. []











