Momen rechager tubuh dan pikiran adalah ketika tidur, namun sialnya ketika bangun tidur yang saya cari pertama kali adalah handphone lagi untuk scrolling. Begitulah seterusnya hari-hari berlalu. Maka jika saya ingin memutusnya maka hal sederhana yang bisa saya lakukan, berhenti membuka handphone di pagi hari. Gunakan waktu pagi untuk aktivitas yang memberi energi—seperti ibadah, olahraga ringan, atau sekadar menikmati suasana pagi dengan tenang.
Kecepatan Tidak Sama dengan Produktivitas
Di era internet, produktivitas sering diukur dari kecepatan. Semakin cepat, dianggap semakin baik. Padahal, ketenangan tidak lahir dari kecepatan. Kita terbiasa hidup dalam ritme yang serba terburu-buru. Bahkan, ketika seseorang melambat, ia sering dianggap tidak produktif. Padahal, melambat bukan berarti menurun—melainkan bentuk kehadiran penuh dalam aktivitas.
Di sisi lain, akses informasi yang tidak terbatas justru membuat kita kewalahan. Kita menyimpan banyak konten, tetapi jarang benar-benar memprosesnya. Kita merasa “tahu”, belum memahami. Padahal, pengetahuan yang benar-benar bernilai adalah yang diproses oleh pikiran, bukan sekadar disimpan di perangkat.
Kita butuh melambat, mencerna, memproses segala hal yang ingin kita ketahui. Tenggelam dan makin terlibat pada aktivitas yang kita lakukan. Jika orientasi segala sesuatu hanya hasil yang cepat, maka kita akan kehilangan makna dari setiap proses yang terjadi.
Demi memenuhi ekspektasi pencapaian target yang cepat, kadang kita memaksakan tubuh dengan minum kopi saat bekerja dimalam hari. Ada molekul yang mencegah ngantuk dalam kopi. Namanya kafein. Bagi otak, molekul-molekul kafein sangat mirip dengan molekul yang bernama adenosine, yang pekerjaannya adalah memberi tahu otak untuk melambat dan merasa mengantuk. Adenosine sangat membantu dimalam hari ketika kita bersiap untuk tidur. Namun, ketika adenosine membuat kita mengantuk di pagi atau sore hari, biasanya kita langsung mencari kafein.
Ketika kafein muncul, ia akan mengikat reseptor-reseptor tempat seharusnya adenosine melekat. Adenosine hanya dibiarkan mengapung disekelilingnya. Akibatnya, otak tidak mendapatkan sinyal mengantuk. Secara teknis kafein tidak meningkatkan energi kita, ia hanya menghalangi kita mengalami kemerosotan energi akibat kantuk yang berasal dari adenosine. Tambahan informasi bahwa kadar kafein dalam darah bertahan selama 5-6 jam.
Jika seseorang menganggap bahwa produktif itu selalu sama dengan menyelesaikan banyak hal dengan cepat itu tidak sepenuhnya salah, namun menyiksa diri dengan ekspektasi harus menyelesaikan banyak pekerjaan di waktu bersamaan dengan cepat itu keliru. Yang mejadi masalah adalah dampak keseluruhan saat memiliki begitu banyak hal yang tidak begitu penting tapi mencolok, yang saling berlomba merebut perhatian dan memanipulasi suasana hati. Produktif itu fokus menyelesaikan sesuatu secara berkualitas, kita hadir dan menikmati proses yang kita lakukan.
Kembali Melakukan Aktivitas Bermakna
Kesejahteraan mental bukan sekadar bebas dari stres, tetapi kondisi ketika kita mampu menikmati aktivitas dengan penuh kesadaran. Ciri-cirinya: fokus tidak mudah terpecah, rentang perhatian lebih panjang dan pikiran lebih tenang. Salah satu pendekatan yang bisa dilakukan adalah digital minimalisme.
Digital minimalisme adalah filosofi tentang pemanfaatan teknologi, ketika kita memfokuskan waktu daring pada sejumlah kecil kegiatan yang telah dipilih dengan seksama dan dioptimalkan, yang menunjang hal-hal yang menurut kita penting, dan membuat kita dengan gembira dapat melewatkan semua kegiatan lainnya. Ada 3 prinsip digital minimalime: ketidakteraturan digital dapat merusak waktu dan perhatian, optimasi penggunaan teknologi itu penting dan niat yang kuat menghasilkan kepuasan.
Adapun langkah praktisnya yaitu pertama melakukan “puasa digital” selama 30 hari; kedua, mengganti aktivitas digital dengan aktivitas nyata yang bermakna; dan ketiga, menggunakan kembali teknologi secara selektif. Dengan proses ini, kita akan menyadari bahwa selama ini perhatian kita banyak “direnggut” oleh distraksi digital.
Riset dari Gloria Mark menunjukkan bahwa seseorang membutuhkan sekitar 23 menit 15 detik untuk kembali fokus setelah terdistraksi. Bayangkan berapa banyak waktu yang hilang setiap harinya.
Sudah waktunya kita mengambil kembali kendali atas energi dan perhatian kita. Fokuskan pada hal-hal yang benar-benar penting dan memberi makna. Karena pada akhirnya, kesejahteraan mental tidak datang dari hal besar yang rumit, tetapi dari kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Wallahu’alam bissawab []









