5 Fakta Kenapa Kamu Perlu Mengurangi Media Sosial

oleh
oleh

2. Membuat Kita Mengalami Kecemasan (Anxiety)

Teman-teman tahu tidak apa bedanya overthinking dan anxiety? dulu saya menganggap bahwa media sosial itu membuat kita menjadi overthinking. Justru, seringkali membuat kita mengalami kecemasan. Menurut dr. Rizki Edmi Edison seorang pakar Neurosains Kognitif Terapan, overthinking berkaitan dengan masa lalu yang belum selesai yang rasanya atau pengalamannya masih kita bawa hingga saat ini. Sedangkan kecemasan berkaitan dengan masa depan.

Ketidakpastian masa depan membuat seseorang menjadi cemas. Membandingkan diri kita dengan orang lain justru membuat kita makin cemas, bukan overthinking. Cemas hanya bisa kita hilangkan dengan membuat masa depan bisa terprediksi atau setidaknya siap untuk kita hadapi. Ada 3 yang perlu kita lakukan untuk menyambut masa depan: pertama, memperbanyak pengalaman  atau jam terbang; kedua, belajar banyak hal (terutama ilmu komunikasi dan penguasaan bahasa); dan ketiga, memperbanyak modal (relasi, uang dan kuasa).

Hari-hari yang dilalui dengan scroll media sosial, membuat masa depan makin tidak jelas. Perbandingan yang dilakukan ketika melihat teman yang upload foto atau video pencapaiannya membuat kita makin tidak berharga. Seharusnya yaa secara akal sehat, yang kita lakukan tiap hari itu yaa menyiapkan diri. Bukankah keberuntungan adalah ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan? kesempatan itu pada dasarnya setiap saat datangnya dan bisa diciptakan. Tapi kapan kita melakukan persiapan?

Jika waktu 24 jam dalam sehari, berapa jam waktu kita disisihkan untuk menyiapkan diri menyambut kesempatan untuk menciptakan keberuntungan? Itulah yang menyebabkan sebagian besar menjadi cemas. Cemas yang menumpuk bisa menyebabkan stres dan stres yang menumpuk dan terus kita abaikan akan berubah menjadi depresi. Inilah cikal bakal penyakit mental hadir. Perlu diperhatikan, jika sudah menjadi penyakit, sekalipun sembuh pasti akan kambuh lagi. Nah alangkah baiknya jika dari awal kita melakukan pencegahan.

3. Membangkitkan Hawa Nafsu; Nafsu Makan dan Nafsu Seksual

Siapa disini yang suka lihat orang makan atau selalu cari rekomendasi tempat makan enak di media sosial? dan nyatanya konten seperti ini banyak viewersnya. Inilah bukti bahwa media sosial memberikan pengaruh terhadap peningkatan nafsu makan seseorang. Berdasarkan penelitian ilmiah, lapar itu ada 2 yaitu lapar karena kondisi perut lapar (kebutuhan) dan ada lapar karena kita melihat makanan enak (keinginan) dan rata-rata lapar yang saat ini ada adalah lapar jenis kedua ini.

Jika banyak kasus obesitas yang menjadi penyebab banyaknya kematian di era modern, media sosial adalah salah satu penyebabnya. Rekomendasi tempat makan dengan visual konten yang menggugah membuat perut menjadi lapar padahal beberapa menit sebelumnya sudah makan. Mau makan lagi, mau ngemil lagi, mau jajan lagi. Makan tanpa berpikir (mindless eating).

Prinsip makan yang dikenalkan oleh ilmuwan otak adalah berdasarkan jumlah kalori. Bukan berdasarkan rasa kenyang. Berapa kebutuhan kalori harian kita dipecah menjadi beberapa jenis makanan yang perlu dimakan pada waktu pagi, siang dan sore. Sehingga pertambahan lemak tidak terjadi. Bayangkan jika kita setiap tahun, makannya berdasarkan rasa kenyang? tiap tahun pasti  menabung lemak. Harusnya kan duit yang ditabung, bukan lemak yaa hehe

Media sosial juga ikut berperan dalam membangkitkan hawa nafsu seksual. Sekalipun cara kerja algoritma media sosial itu sesuai dengan kebiasaan scrolling kita (filter bubble), maksudnya apa yang sering kita sukai, lihat dan komen akan sering muncul pada beranda media sosial.

Namun beberapa perangkap dan pancingan foto atau konten seksi, bisa menjerumuskan seseorang untuk mencari yang lebih, nah disinilah peluang kecanduan pornografi internet muncul. Setelah kecanduan pornografi, muncullah kecanduan baru yaitu kecanduan melakukan masturbasi atau onani. Efeknya luar biasa, semua pecandu menunjukkan kehilangan kendali atas aktivitasnya, yang secara kompulsif mencarinya meskipun ada konsekuensi negatif.

Toleransi menjadi lebih rendah sehingga para pecandu membutuhkan Tingkat stimulasi yang lebih tinggi untuk mendapatkan kepuasan dan mengalami penarikan (withdrawl) jika mereka tidak dapat menyelesaikan Tindakan kecanduan.