5 Fakta Kenapa Kamu Perlu Mengurangi Media Sosial

oleh
oleh

4. Rentan Fokus (Attention Span) Berkurang

Sejak media sosial memperkenalkan short videonya, ada juga yang namanya reels, menyebabkan rentang fokus seseorang menjadi menurun. Kebiasaan melakukan scrolling di beranda media sosial menyebabkan tingkat ketertarikan seseorang terhadap sebuah konten menjadi sangat rendah, syaratnya konten tersebut harus memiliki hook menarik. Padahal apa yang menarik belum tentu penting dan apa yang penting belum tentu menarik.

Berdasarkan penelitian terbaru, rentan perhatian manusia modern saat ini yakni 3 detik. Lantas kualitas apa yang diharapkan dari perhatian yang hanya mampu bertahan dalam 3 detik. Kebiasaan melihat yang menyenangkan, menarik secara visual dan membuat penasaran, lama kelamaan akan membuat standar kita berubah tentang manfaat sesuatu.

Apa yang penting kadang tidak menarik diawal, perlu ilmu tambahan untuk mengemasnya menjadi menarik dan kadang kita kehabisan waktu untuk mengemas sebuah konten edukatif agar menarik secara visual dan viral. Padahal menaikkan rentan perhatian itu hanya perlu berdamai dengan rasa tidak nyaman dan kebosanan dengan cara mengurangi atau bahkan menghapus media sosial. Untuk latihan, boleh melakukan puasa media sosial terlebih dahulu. Nanti kita bahas terpisah untuk hal ini.

5. Mengaburkan Jati Diri

Pada tahun 2020 seperti dijelaskan dalam buku berjudul Otak Kota; Kecerdasan Biofilia, Tuhan, Alam dan Manusia. Hampir sebagian besar negara menjalankan kebijakan lockdown dan sosial distancing untuk mengurangi penyebaran virus Corona. Namun karena keadaan ini, menyebabkan beberapa negara yang memantau getaran-getaran bumi dengan seismograf menemukan penurunan sebanyak 30-50 persen.

Penurunan kebisingan yang disebabkan oleh manusia dapat meningkatkan sensitivitas detektor terhadap gelombang alami pada frekuensi yang sama. Bahkan saking tenangnya bumi saat lockdown membuat penduduk di ibukota Zagreb-Kroasia dapat merasakan gempa bumi berskala 5,4 richter ketika terjadi pada tanggal 22 Maret 2020. Biasanya, mereka baru bisa merasakan gempa dengan kekuatan yang lebih tinggi dari itu. Kepekaan seismik mereka meningkat seturut aktivitas mereka yang berpindah ke dalam rumah.

Media sosial membuat kita sibuk. Media sosial merebut fokus dan perhatian. Sehingga kita lupa ada hal penting dalam diri yang selalu bersuara namun tidak pernah kita dengarkan, karena terlalu sibuk dan ‘bising’ dari luar. Kita jarang bengong, berdiam diri apalagi sampai melakukan  evaluasi harian. Waktu luang banyak dihabiskan untuk membuka media sosial, mencari hiburan yang tidak tahu manfaatnya untuk apa?

Kita merasa pantas mendapatkan hiburan setelah lelah bekerja dengan membuka media sosial, padahal membuka media sosial membuat energi kita makin terkuras dan sialnya ketika bangun tidur yang kita lakukan adalah mengecek media sosial lagi. Siklus yang begitu merugikan, namun tetap dilakukan berulang-ulang.

Kita terlalu sibuk karena media sosial. Salah satu cara untuk mengakses ke diri kita yang terdalam adalah dengan keheningan. Keheningan bisa kita dapatkan, salah satunya jika kita menjauhkan handphone kita dari pandangan dan menyimpannya di tempat yang sulit diakses.

Jika kamu begitu muak dengan media sosial, mari kita kurangi penggunaannya. Jika memang Anda berani, ayo ikuti cara saya dengan menghapus beberapa media sosial yang tidak berguna, yang membuang waktu kita. Tidak ada produktivitas dalam media sosial. Hidup tenang tanpa media sosial. Wallahu’alam Bissawab []