PPM Al-Ikhlash: Kampus Hijau yang Menghijaukan Generasi

Oleh: Wahyudi Muslimin, Alumni Tahun 1999

PPM Al-Ikhlash dikenal sebagai kampus hijau. Sematan ini sangat cocok dengan peran pondok pesantren ini melahirkan generasi yang memiliki kekuatan ilmu, agama dan pengetahuan umum. Alumni yang pernah merasai penggemblengan tentu akan mengamini utamanya pada era tahun 1991-2000-an. Hijaunya diperkuat dengan dikelilingi puluhan bahkan mungkin ratusan hektar sawah. PPM Al-Ikhlash berada dalam payung Yayasan Perguruan Islam Al-Ihlash.

Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash didirikan oleh H. M. Zikir Sewai, seorang pengusaha Mandar dengan mendermakan sebagian besar hartanya membangun sebuah pesantren yang telah membentuk, membina dan berhasil memberikan generasi atau anak-anak Indonesia bekal ilmu agama dan ilmu lainnya, khususnya untuk wilayah Sulawesi Barat. Semoga beliau tetap diberkahi kekuatan dan kesehatan. Aamiin alllahumma aamiin.

Sumber : FB PPM Al-Ikhlash

Mari sejenak kita fokus dengan penyematan identitas visual sebagai kampus hijau. Dalam teori komunikasi visual, hijau melambangkan alam, kesehatan, pandangan yang enak, kecemburuan serta pembaharuan (Molly E. Holzchlag, Pengantar Desain Komunikasi Visual, 45/2007).

Kemudian pada laman klikhijau.com menyebutkan bahwa makna warna hijau pada umumnya selalu diidentikkan dengan alam (nature). Frase hijau di sini terutama merujuk pada pepohonan dan dedaunan. Karenanya, warna hijau seringkali pula identik dengan alam semesta, lingkungan dan situasi yang alami. Hijau juga merujuk pada kesuburan dan suasana berkelimpahan. Alam semesta dan lingkungan merupakan nafas kehidupan, sedangkan nuansa hijau di dalamnya mewakili kesejahteraan hidup.

Secara umum, warna hijau merujuk pada dua arti umum: pertama sebagai alam dan lingkungan, dan yang kedua sebagai keuangan dan kekayaan. Kedua hal ini bisa saling berelasi. Hijau mewakili tanaman hidup dan pertumbuhan yang berkesinambungan sebagai suatu esensi kehidupan alami. Lalu, pada pertumbuhan dan kehidupan alam itulah ada kehidupan dan kesejahteraan.

Selain itu, hijau identik dengan warna yang bernuansa Islam, banyak lembaga-lembaga islam yang menggunakan identitas visual elemen warna hijau sebagai ciri kelembagaannya.

Lalu bagaimana peran PPM Al-Ikhlash mampu menghijaukan genarasi?

Santri PPM Al-Ikhlash Angkatan Pertama tahun 1991-1992. Ada Mukram, Nuhidayat, Mahyuddin, Hari Wisastra, Muhammad Yusuf L, Damra, In’amullah Taufiq, Herman Suryanegara, Tasim. (Sumber Foto : Group WA Assitaliang Al-Ikhlash)

Sebagai alumni yang mondok mulai tahun ajaran 1991-1992, kami merupakan santri angkatan kedua dengan jumlah santri yang masuk saat itu berkisar ratusan. Nyantri dari tahun 1992-1999 tentu banyak hal yang sudah diterima di kampus hijau tersebut. Ilmu yang ditransfer dari pembina -baca:uztadz/ustadzah-. Berbagai sistem dan teknik pengajaran diberlakukan untuk membentuk santri menjadi generasi yang memiliki multi ilmu baik agama maupun ilmu umum.

Sebutlah misalnya bagaimana seorang santri harus menyetorkan hapalan kosakata Bahasa Inggris setiap minggunya 10 kosakata, bayangkan jika dikalikan dengan waktu yang dilalui seorang santri, maka tentu ribuan kosakata Bahasa Inggris akan dihapalnya. Dibarengi dengan pelajaran Your Basic Vocabulary atau Grammar. Pelajaran Bahasa Inggris di era kami menjadi santri dipandu oleh Drs. Haidir Ramly, pemilik Lembaga Kursus Asia Duta di Wonomulyo, kemudian uztadz Bada’ali, S.Ag. lalu ada satu pembina yang kemudian masuk sebagai pengajar dari alumni Immim, Makassar, Uztadz Syahid, dialah yang mengajarkan your basic vocabulary dengan menggunakan metode Prof. Dr. Azhar Arsyad, MA melalui bukunya.

Kami masih ingat metode yang digunakan Uztadz Syahid waktu itu, setiap selesai salat Ashar, beberapa menit dia akan berdiri di depan dan meminta santri mengikuti kata atau kalimat bahasa inggris yang diucapakan. Ini adalah upaya untuk melatih mengucapkan kosakata atau kalimat dalam bahasa Inggris.

Tak lupa sebelumnya dia mengajak berdo’a massal, begini bunyi do’anya yang dilantunkan mirip nyanyian dan seketika masjid akan menggema dengan ragam suara dalam do’a. “Allahummarhamna bil qur’an, wajaalnuri imamam wa nura, wa huda warahma, allahumma dzakkirni, minhuma nasitu waallmini, minuhma jamiun…” dan seterusnya, ini hanya beberapa menit bakda salat ashar.

Baca Juga:  Polda: Kami Berperang Melawan Narkotika

Belum lagi dengan Bahasa Arab durasi pelajarannya sangat banyak, karena di samping berhubungan dengan tata bahasa Arab itu sendiri, juga erat kaitannya dengan kemampuan membaca kitab gundul atau lebih enak disebut kitab kuning. Dua bahasa ini menjadi wajib dipraktekan dalam kehidupan sehari-hari ketika berkomunikasi dengan sesama santri atau kepada uztadz yang memang mengajarkan Bahasa Arab atau Inggris. Karena bila tidak, maka sang santri akan masuk dalam catatan jasus atau dalam bahasa Indonesia disebut mata-mata pada sebuah lembaga interen disebut ‘mahkamah lughah’. Sebuah lembaga yang dibentuk khusus untuk mengadili, mengedukasi dan memberikan hukuman bagi santri pelanggar bahasa. Biasanya hukumannya berupa hafalan kosakata Arab atau Inggris.

Sumber Foto : Dokumentasi Mukram

Efek dari kedisiplinan berbahasa tersebut mampu membentuk sang santri menguasai dua bahasa, yakni Inggris dan Arab. Meskipun setelah beberapa tahun berlalu tentu pelan-pelan kemampuan berbahasa asing itu akan pudar bila lingkungan tempat dia mengabdi tidak mendukung atau si santri tidak mengasahnya pasca dinyatakan lulus sebagai santri PPM Al-Ikhlash.

Bahasa Arab diampu oleh cukup banyak pembina, diataranya di era kami Uztadz H. Shadiqin Sudirman yang merupakan jebolan Pesantren Darussalam Gontor, juga mengajar ilmu nahwu syaraf dan Qur’an Hadits serta Pendikan Agama Islam di pelajaran formal Tsanawiyah/SLPT-SMU/Aliyah. Kemudian Uztadz Rudi Tarenre, yang lebih banyak bertemu kami di pendidikan formal tsnawiyah dan pondokan. Kemudian ada Uztadz Rudi Muchtar yang perannya sebagai pengontrol kedisiplilnan berbahasa, beliau akan bertindak sebagai hakim pada proses mahkamah lughah bila tercatat sebagai pelanggar bahasa. Di sampung tugasnya tetap mengampu Bahasa Arab pada tingkatan tertentu, salah satu kelebihan Uztazd Rudi Muchtar juga kemampuan mengajarkan skil kaligrafinya.

Bukan hanya tentang kemampuan bahasa yang digembleng, pelajaran agama dari kitab-kitab kuning juga diberikan. Sebutlah kitab Jalalain yang di masa kami sebagai santri diantarkan langsung oleh Alm. Almuqarram K.H. Hafid Imran (Alfatihah buat beliau) yang waktu itu sebagai pimpinan pondok pesantren. Waktu pengajarannya dimulai bakda subuh, kami melingkar dengan masing-masing kitab tipis itu berada dalam pangkuan dan beliau berada di tengah-tengah.

Satu hal yang sangat kami ingat dari beliau, tidak pernah sekalipun dalam menghadapi santri memunculkan amarah, wajahnya teduh, bersinar. Tangannya yang selalu terangkat dalam menjelaskan dengan merapatkan lima jemarinya, tak pernah sekalipun menunjukan telunjuknya kepada kami. Pengajaran kitab ini tidak tiap hari, karena harus bergantian dari kelas lain ataupun bergantian dengan kitab lain.

Uztadz Rudi Rarenre, Uztadz Muchtar Effendi, Alm. Pua Rahmatia, Santri ada Yahyadin, Athar, Tasrif, Rustam. Foto ini sepertinya ketika melakukan perjalanan dari Pondok Pesantren menuju Limboro, Campalagian. (Foto: Dokumentasi Mukram)

Kemudian kitab Bulughul Maram yang diantarkan uztadz Mochtar Effendi, kitab ini juga merupakan kitab yang tak berbaris. Isinya Ilmu Fiqih yang menurut istilah Fiqih merupakan ilmu yang mencakup seluruh ilmu mengenai syari’at agama Islam, baik berupa aqidah maupun hukum-hukum dalam beribadah, bermuamalah dan juga huduud, begitupun seluruh hal yang mencakup dalil-dalil yang ada dalam Al-Qur`an maupun As-Sunnah (kompasiana.com-10 Juli 2020).

Lalu kemudian ada juga Kitab Riyadhus Shalihin, kitab yang berisi kumpulan hadits beserta perawinya. Setiap hari dibahas beberapa hadits bersama Drs, Rasidin, pengajar Bahasa Arab di waktu pelajaran formal dalam tingkat tsanawiyah ataupun aliyah. Dalam wikipedia dijelaskan bahwa kitab Riyadhus Shalihin adalah nama salah satu kitab kumpulan hadis Nabi Muhammad ﷺ yang berarti taman orang-orang shalih, yang disusun oleh Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawy (Imam Nawawi). Kitab ini telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Salim Bahreisy.

Begitu luar biasanya sistem yang diberlakukan, kami masih ingat bentuk-bentuk perubahan dari bahasa Arab tersebut. Mulai dari hapalan faala, faalu, faalat, falata faalti dan seterusnya. Atau penggunaan fiil madhi dan fiil mudhari. Fi’il Madhi adalah Fi’il atau kata kerja dalam Bahasa Arab yang digunakan untuk menyatakan pekerjaan yang SUDAH dikerjakan (lampau). Fi’il Mudhari‘ adalah fi’il atau Kata Kerja dalam Bahasa Arab yang digunakan untuk menyatakan pekerjaan yang SEDANG atau AKAN dikerjakan (acamedia.edu).

Baca Juga:  Catatan atas Mandar Writers and Culture Forum 2019

Bagaimana dengan hafalan Qur’an? Ini juga jalan, dibimbing langsung oleh Muhammad Yusuf L. Selama jadi santri berhasil menghafal surah Yasin dan As-Shaf dan ratusan Surah Al-Baqarah. Meskipun seiring dengan berjalannya waktu ada yang sudah terlupa. Lalu kemudian diikuti dengan setoran hafalan hadits dari berbagai jenis hadits yang disabdakan Rasulullah Muhammad SAW.

Lalu kemudian ada yang disebut dengan muhadharah, sebuah bentuk pembelajaran berbicara di depan orang banyak, lebih kepada ilmu ceramah atau khutbah. Ilmu ini melatih santri bagaimana kemudian bisa berbicara di depan umum dengan manyampaikan syiar Islam. Penerapannya pun langsung, tatkala masuk bulan ramadan, puluhan santri akan diberikan tugas mengisi atau memberikan ceramah ramadan. Ceramah di berbagai masjid atau berkhutbah adalah salah satu upaya atau pengejewantahan dari ilmu-ilmu yang diterima di atas. Biasanya yang diterjunkan ke masjid-masjid adalah mereka yang sudah berada pada tingkat Aliyah atau SMA, tapi tidak menutup kemungkinan ada juga yang masih tingkat tsanawiyah atau SMP bila dianggap sudah matang memberikan ceramah.

Pernah satu waktu kami bersama Alm. Uztadz Husain Unding, Lc. (Alfatihah buat beliau). Saya dibawa ke sebuah masjid di Mojopahit, Desa Karama. Namun berceramah dalam Bahasa Inggris, jadi kami berceramah di tengah-tengah ceramahnya. Hal ini dilakukan untuk menegaskan bahwa PPM Al-Ikhlash benar-benar menyiapkan generasi yang memiliki ilmu yang multi, kelak bisa digunakan untuk mengembangkan dirinya bahkan menghijaukan (baca:mensejehterahkan) dirinya.

Ilmu-ilmu agama yang dibentangkan dan ditransfer kepada santri PPM Al-Ikhlash mungkin ada yang merasa bahwa mengapa kita harus belajar ini dan itu? Jawabannya akan muncul setelah menjalani kehidupannya sendiri, merasakan dampak dari pelajaran pondokan yang pernah diterimanya meskipun terbilang cukup berat.

Lalu bagaimana dengan pelajaran umum? Perlu kami tuliskan bahwa di era kami setelah lulus di tingkat SMP-Tsanawiyah, kami mendapatkan tiga ijazah, Ijazah Tsanawiyah, Ijazah SMP/SLTP dan Ijazah Pondokan. Begitupula pasca selesai tingkat SMU/SMA-Aliyah kami mendapatkan tiga ijazah juga Ijazah SMU/SMA, Ijazah Aliyah dan Ijazah Pondokan.

Untuk pelajaran SMP – SMA dan Tsanawiyah-Aliyah, kebanyakan dilakukan di pagi hari sampai pada sore hari. Kenapa sampai sore hari karena dua tingkatan sekolah dijalani sekaligus. Jadi selain menjadi siswa SMP/SLTP-SMA/SLTA juga sekaligus menjadi siswa Tsanawiyah dan Aliyah.

Pelajaran umum seperti Matematika, Fisika, Biologi, PPKn, Kimia, Akuntansi dan Sejarah atau lebih dikenal dengan PSPB diampu oleh guru dari luar yang berasal dari sekolah negeri, dan tidak tinggal dalam lingkungan pondok pesantren.

Kebanyakan dari mereka merupakan guru-guru yang berkualitas pada sekolah-sekolah negeri maupun swasta, sebutlah seperti Bapak Mappiare guru fisika yang ketika mengajar tidak pernah membawa buku. Kemudian Bapak Waluyo yang mengajar Biologi, demikian pula Bapak Bohari juga mengampu Biologi, Bapak Hafid mengampu pelajaran Matematika yang tak membuat kantuk ketika kami mengikuti pelajarannya. Kemudian ada juga Bapak Suradi Kusni yang mengampu pelajaran akuntansi dan ekonomi, Bapak Jawas yang mengampu pelajaran seni dan masih banyak guru-guru dari sekolah luar mengajar dan mengabdikan ilmunya di PPM Al-Ikhlash.

Namun ada juga uztadz atau guru yang tinggal di pesantren mengajar pelajaran umum seperti Matematika di masa SMP diampu oleh Bapak Imran Ado, Bapak Muhammad yang mengampu pelajaran Fisika pada tingkatan SMP.

Baca Juga:  Selamatkan Anak-Anak dari Gizi Buruk
Sumber : FB PPM Al-Ikhlash

Pelajaran extrakurikuler juga sudah tersedia tatkala Al-Ikhlash memiliki fasilitas komputer, diampu oleh Bapak Imran Ado. Beliau mengenalkan dan memberikan pelajaran tambahan tersebut. Komputer yang ada waktu itu masih menggunakan sistem DOS dengan disket. Bagi saya di sinilah awal menyukai komputer, saya mulai berfikir jika menguasai pengoperasian komputer tentunya akan sangat membantu kami ke depannya. Jadi sejak tahun 1994 kalau tidak salah Al-Ikhlash sudah membekali santrinya dengan teknologi komputer.

Saya masih ingat mengoperasikan windows 3.1 yang di dalamnya ada software Wordstar dengan sistem pengoperasian menggunakan perintah keybord, belum menggunakan mouse. Beberapa perintah dalam pengoperasiannya masih diingat, seperti menggunakan .lm untuk menentukan batas margin kiri, .rm untuk batas margin kanan sepertinya hanya itu yang berbekas, namun jika dihadapkan pada software tersebut insya masih bisa mengoperasiakannya, begitu pula dengan lotus 123 release 2.4. Semua aplikasi di atas sudah dikembangkan oleh Microsoft dalam software Microsoft Word dan Exel.

Dan sampai sekarang ilmu yang didapatkan benar-benar menjadi bekal untuk melangkah ke perkembangan ilmu komputer berikutnya seperti sekarang ini.

Extrakurikuler lain seperti pramuka yang beberapa kali berhasil mengharumkan nama PPM Al-Ikhlash di berbagai event kepramukaan di Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kabupaten Polewali Mandar. Gudep 1275 beberapa kali menyabet piala dalam lomba-lomba ketangkasan di dunia pandu tersebut. Untuk kegiatan kepramukaan ini dibina langsung oleh dedengkot dunia pandu kak Adi Arwan Alimin, salah seorang pembina pramuka yang berhasil memperoleh tingkat Pramuka Garuda bersama kak Abdul Haris Syahril.

Kegiatan kepramukaan juga didampingi oleh uztadz yang tinggal di pondok seperti Bapak Alm. Rusman Haeba (Alfatihah buat beliau) dan Uztadz H. Shadiqin Sudirman yang selalu setia mendampingi regu dari gudep 1275 dimanapun mengikuti lomba baik itu Lomba Tingkat atau Jambore Cabang.

Kemudian dunia tulis menulis juga merupakan salah satu kegiatan extrakurikuler, untuk bidang ini kami membuat majalah dinding di bawah bimbingan langsung Bapak Alm. Rusman Haeba yang juga merupakan direktur SMP dan SMA saat itu. Metode yang diberikan ke kami adalah dengan selalu menugaskan kita untuk membaca buku, baik itu berupa novel atau buku-buku yang lain. Sebutlah Novel Seri Winnetow dan Mushasi yang secara bergantian dibaca dari seri ke seri.

Lalu kemudian akan menugaskan kami lagi untuk membuat resensi setiap buku yang dibaca, karena secara kebetulan, beliau juga mengampu pelajaran Bahasa Indonesia. Meskipun tugas pokok beliau di Makassar sebagai pengajar di SMAN Makassar, tapi beliau rela bolak balik Lampoko-Makassar, Makassar-Lampoko untuk menularkan dan membina serta mengelolah PPM Al-Ikhlash selaku direktur SMP dan SMA.

Mengakhiri tulisan ini, secara pribadi memohon maaf yang sebesar-besarnya bila dalam tulisan ini ada yang tidak berkenan dan terdapat kesalahan mohon diberikan koreksi untuk diluruskan. Permohonan maaf yang kedua bahwa hanya dengan tulisan ini bisa kami persembahkan untuk sekadar menera kisah-kisah ini sehingga bisa terbaca oleh siapapun dan temonumental dalam diksi pada deretan link dunia maya.

Masih banyak hal yang bisa dituliskan tentang PPM Al-Ikhlash, namun biarlah alumni lain menuliskannya.

#SallangSalamaq…

Foto : FB PPM Al-Ikhlash

error: Content is protected !!
Open chat
1
Assalamu Alaikum
Ada yang bisa kami bantu?