Cerdas dengan Gerakan
“Gerakan adalah pintu menuju pembelajaran,” tulis Paul E.Dennison. Semakin kita memperhatikan hubungan timbal balik yang rumit antara otak dan tubuh, semakin jelas muncul satu hal: gerakan sangatlah penting bagi pembelajaran.
Gerakan membangkitkan dan mengaktifkan kapasitas mental kita. Gerakan menyatukan dan menarik informasi-informasi baru ke dalam jaringan neuron kita. Gerakan sangat vital bagi semua tindakan untuk mewujudkan dan mengungkapkan pembelajaran kita, pemahaman kita, dan diri kita.
Setiap kali kita bergerak dalam cara yang teratur dan halus, otak akan diaktifkan secara penuh dan integrasi terjadi, pintu kepada pembelajaran terbuka dengan alami. Howard Gardner, Jean Ayres, Rudolph Steiner, Maria Kephardt dan para pembaharu ternama lainnya dalam dunia pendidikan telah menekankan pentingnya gerakan dalam proses pembelajaran.
Howard Gardner dalam paparannya tentang Bodily-Kinesthetic Intelligence: gambaran tentang penggunaan tubuh sebagai salah satu kecerdasan mungkin pada awalnya cukup mengejutkan.
Terdapat jurang yang lebar dalam tradisi kultural kita antara kegiatan penalaran, pada satu sisi dan kegiatan jasmaniah kita yang diwujudkan dalam tubuh, pada sisi yang lain. Pemisahan antara yang “mental” dan “jasmaniah” seringkali diiringi dengan gagasan bahwa apa yang kita lakukan dengan tubuh kita adalah kurang istimewa, kurang utama dari kegiatan-kegiatan pemecahan masalah yang dilakukan lebih banyak oleh penggunaan bahasa, logika, atau sistem simbolik lain yang relatif abstrak.
Ketika kita membicarakan apa yang kita telah pelajari, gerakan fisik akan menginternalisasikan dan memadatkannya dalam jaringan saraf. Itulah sebabnya, setelah mempresentasikan materi baru di kelas, sebaiknya Anda meminta murid-murid Anda untuk memegang seseorang dan berbagi secara verbal tentang bagaimana mereka memahami materi baru ini secara personal.
Sebagian besar orang memiliki kecenderungan untuk berpikir lebih baik dan lebih bebas bila melakukan kegiatan fisik yang memerlukan konsentrasi rendah secara berulang kali. Banyak orang yang mengatakan bahwa mereka berpikir lebih baik saat berenang, berjalan santai, saat bercukur atau menggerakan kaki atau pulpen ketika belajar. Ternyata hal ini memiliki landasan biologisnya.
Menurut ahli sains saraf, dua daerah pada otak yang sebelumnya dianggap hanya mengendalikan gerakan otot yaitu basal ganglia dan serebelum, ternyata juga penting dalam mengoordinasikan pikiran. Daerah-daerah ini dihubungkan dengan lobus frontal, tempat terjadinya perencanaan dan penyusunan kegiatan di masa yang akan datang.
Penelitian mutakhir membantu menjelaskan bagaimana gerakan secara langsung bermanfaat kepada sistem saraf. Kegiatan otot, terutama kegiatan yang terkoordinasi, tampak menstimulasi produksi neurotrophin, substansi alami yang merangsang pertumbuhan sel-sel saraf dan meningkatkan jumlah koneksi saraf dalam otak. Penelitian terhadap hewan membuktikan hal ini.
Di sebuah penelitian di University of California, Carl Cotman menemukan bahwa tikus yang berlari dalam jentera di kandangnya, memiliki lebih banyak neurotrophin ketimbang tikus yang tak banyak bergerak.










