Oleh: Dr. H. Farid Wajdi. M.Pd
Fenomena kemunculan buaya di Sungai Mandar belakangan ini bukan hanya menjadi perhatian masyarakat di bantaran sungai, tetapi juga menjelma menjadi perbincangan luas di media sosial. Sejak April hingga Mei 2026, rekaman video dan kabar tentang buaya yang berkeliaran di kawasan sungai terus viral di berbagai platform digital.
Situasi itu semakin mengkhawatirkan setelah seekor buaya dilaporkan menewaskan seorang warga di Kandeapi, Tinambung, lalu disusul insiden lain ketika seorang peternak sapi diterkam saat menyeberangi sungai sepulang dari kebunnya.
Beruntung, korban kedua berhasil lolos meski mengalami luka gigitan di bagian pinggang. Peristiwa-peristiwa ini memunculkan pertanyaan besar di tengah masyarakat: mengapa buaya Sungai Mandar kini semakin berani menampakkan diri dan memasuki ruang hidup manusia?
Ini peristiwa langka, kejadian ini sangat jarang di waktu dulu, sungai Mandar menjadi panggung pementasan buaya-buaya itu.
Sebagian orang berpendapat bahwa tingkah tengil yang dipertontonkan buaya, bukan buaya pribumi yang dikenal dengan Todzioroanna, (sebutan buaya yang sudah lama tinggal di sungai itu), sebab buaya kategori ini buaya pemukim asli, tidak pernah menampakkan dirinya.
Sebagian lagi berpendapat bahwa ini ulah buaya migran, buaya berasal dari tempat lain yang masuk ke sungai Mandar, jadi ini buaya pendatang, dalihnya kemudian jadi dominan berkuasa di sungai itu.
Sejak dulu dalam alam pikiran orang–orang Mandar, khususnya yang tinggal disekitar sungai, ada kepercayaan beberapa pantangan (pemali), ini harus ditaati jika ingin selamat dari amukan buaya. Etika ini dibangun di kalangan mereka agar tidak saling menganggu, saling mengakui keberadannya sehingga harmoni keduanya dapat terjalin.
Sebagian Masyarakat yang berdiam di sekitar sungai Mandar, seperti mereka tidak lazim menyebut nama buaya (kanene’), disebutnya dengan todzioroanna, artinya yang mendiami sungai, lalu masyarakat yang berdiam di sekitar sungai disebut tozdipottana.
Hubungan antara todipottana dan todzioroanna (buaya) sudah berlangsung lama sudah saling mengerti, kedengaran seperti mitos, tapi Masyarakat taat pada ketentuan–ketentuan yang tidak tertulis itu.
Pantangan lainnya adalah bagi orang pottanana Adalah kencing berdiri, makan sambil jalan dan mencuci perlatan dapur di sungai. Kalau pantangan ini dilanggar maka konsekwensinya berat bagi pelanggarnya.
Intinya jika seseorang itu perbuatannya menyerupai binatang (mirrupa oloq-oloq), maka menjadi incaran atau santapan mereka.
Harmoni Persahabatan antara tozzioroanna dengan todipottana pada masa lalu, terangkum dalam kisah tradisional dalam masyarakat. Konon Maraqdia Balanipa ke-50, I La’ju Kanna Idoro atau biasa disebut dengan Tomatindo di Jeddah, pernah melakukan perdamaian dengan tozioroanna disebut yang Kanene’ Pokki (penguasa sungai).
Kesepakatan mereka saling memberi ruang hidup dan tak saling menganggu. Raja Balanipa meminta agar tetap menjaga hidup rukun antar sungai dan masyarakat, kerukunan hidup ini dikunci selama manusia tidak menunjukkan sifat oloq oloq, tozdioranna hanya akan menggangg bila manusia mengubah sifatnya menyerupai binatang.
Jalinan hidup rukun telah dijalani dalam sebuah penuturan ketika I La’ju Kanna Idoro menikahi salah satu puteri bangsawan Mamuju bernama Samaturu digelar maraqdia Kinena.
Rombongan pernikahannya ke Mamuju menggunakan perahu namun anehnya, perahu pengantar pengantin dapat melaju meskipun tanpa angin, konon penggeraknya adalah para buaya sungai Mandar secara bergantian mendorong perahunya sampai ke Mamuju.
Setelah Maraqdia Balanipa ke-50, I La’ju Kanna Idoro meninggal, hubungan antara Kanene’ Pokki tetap berlanjut ke anak turunannya. Pada zaman revolusi di Mandar atau di Tinambung, Belanda sangat sulit menangkap jejak pelarian H. Andi Depu sebagai pimpinan kelaskaran KRIS MUDA (Kebangkitan Rahasia Islam Muda Mandar) saat menyebrangi sungai Mandar.
Dari jembatan, kadangkala tentara Belanda menemukan perahu sampan (lepa-lepa) yang bergerak berjalan sendiri tanpa ada yang mengemudikan diduga dikawal salah satu todzioroanna (buaya sungai Mandar).
Saya sendiri pernah mengalami peristiwa dengan buaya di sungai Mandar, sekitar tahun 1985, saya masih duduk di tingkat sekolah menengah pertama, saya di MTsN Tinambung.
Waktu itu masih sangat ramai masyarakat turun ke sungai, sore sekitar pukul 5, saya ke sungai untuk mandi, tempat yang saya pilih memang agak jauh dari tangga turunan, agak sepi dari keriuhan, meskipun ada yang memperingatkan jangan ke situ sebab itu lintasan buaya yang akan pulang ke tempatnya, namun saya tetap kesana, tidak berselang lama, seseorang dari atas tebing memperingatkan.
“Jangan bergerak, ada buaya di belakangmu.”
Pelan-pelan saya menengok ke belakang ternyata ada tiga buaya yang berenang dari muara menuju Kandeapi.
Saya lihat semua orang berlari ke darat, keriuhan sungai mendadak sepi, di sungai itu saya sendirian dan tiga buaya berenang mendekat.
Ingin lari seperti yang lainnya namun jika saya lakukan pasti buaya itu akan mudah menerkam. Saya pasrah saja, sambil dipandu oleh orang tua kampung dari atas tebing Sungai, Kanna Yalalu berteriak memberi aba -aba.
“Tahan nafasmu, kepal kedua tanganmu, lipat lidahmu ke langit mulutmu.”
Saat buaya itu lewat dan sejajar mataku, di seblah kanan dia pun mengedipkan matanya lalu saya juga balas mengedipkan mata.
Sejenak berhenti dan tatap-tatapan, tidak lama setelah itu, mereka lanjut perjalanan ke tempatnya.
Dalam hati saya terus merapalkan salah satu ayat dalam surah Yasin.
Saat kejadian itu saya belum merasa takut, ketakutan itu baru muncul 10 tahun setelah saat menonton Steve Irwin sang crocodile hunter (sang pemburu buaya), menyampaikan dalam satu siaran televisi bahwa jika mata buaya itu bergerak Ketika bertemu obyek maka waspadalah, itu adalah sensor mata yang telah mengunci mangsanya.
Saya teringat peristiwa dengan buaya bahwa saya sempat lolos dari kuncian mode terkam itu, mungkin waktu saya tatap-tatapan lalu saya juga kedipkan mata, mungkin buaya merasa bahwa saya juga akan memangsanya, walahu a’lam.
Kemampuan Maraqdia Balanipa La’ju Kanna Idoro Tomatindo di Jeddah, yang berkomunikasi dengan todzioroanna, penunggu sungai Mandar, untuk saling berbagi ruang hidup kearifan itu mestinya tetap dipelihara dan dijaga.
Di balik seluruh kisah itu, ada pesan yang lebih besar tentang kerusakan lingkungan. Sungai Mandar kini menghadapi tekanan serius akibat pencemaran dan rusaknya ekosistem bantaran sungai. Sampah rumah tangga dibuang begitu saja ke aliran air, sementara kawasan sungai terus mengalami degradasi.
Dampaknya bukan hanya dirasakan ikan-ikan di Teluk Mandar yang semakin sulit berkembang biak akibat limbah plastik, tetapi juga mengganggu habitat para penghuni sungai, termasuk buaya.
Dalam perspektif ini, kemunculan buaya ke permukaan bukan semata ancaman, melainkan juga tanda bahwa keseimbangan ekologis mulai terganggu. Ketika manusia kehilangan tata krama terhadap alam, maka alam pun perlahan kehilangan ketenangannya.
Kearifan lokal Mandar sesungguhnya telah lama mengajarkan pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan lingkungan. Nilai-nilai itu bukan untuk dipahami secara harfiah semata, melainkan dimaknai sebagai etika ekologis yang menempatkan manusia sebagai bagian dari alam, bukan penguasanya.











