MANDARNESIA.COM, Majene – Suasana santai namun sarat makna menyelimuti Cafe Bujang, Kabupaten Majene, pada Minggu (03/05/2026). Sejumlah tokoh, penggiat budaya, dan akademisi berkumpul dalam diskusi lepas bertajuk “Tomanurung Merawat Martabat Leluhur” yang digagas oleh Biya Daeng Palulung Mara’dia Sendana (Bidapamase).
Kegiatan yang berlangsung hangat ini menghadirkan beragam perspektif mengenai sosok Tomanurung, yang selama ini menjadi pilar identitas kultural masyarakat Mandar. Diskusi tersebut menghadirkan panelis kompeten, di antaranya Staf Ahli Pemprov Sulbar, Dr. M. Farid Wajdi; mantan Ketua DPRD Majene, Darmansyah; serta praktisi perbankan dan akademisi, Andi Pirsan.
Dalam paparannya, Dr. M. Farid Wajdi mengupas materi bertajuk “Kearifan Tomanurung di Langit Pembolongan” yang menyoroti filosofi kepemimpinan dan kearifan lokal. Sementara itu, Darmansyah memberikan tinjauan spiritual melalui materi “Tomanurung dalam Tinjauan Al-Qur’an”, mencoba melihat titik temu antara nilai budaya dan keyakinan religius.
Di sisi lain, Andi Pirsan memberikan sentuhan historis melalui “Rekonstruksi Naratif Raja-Raja di Pitu Ba’bana Binanga”. Diskusi semakin tajam dengan kehadiran panelis Thamrin (Kepala Perpustakaan Unsulbar) dan Tammalele (Penggiat Budaya), serta dipandu oleh Muh. Munir sebagai moderator.
Ketua Umum Bimantara Balanipa Mandar, Andi Muhammad Ardam A, S.Sos., yang hadir bersama jajaran pengurusnya, memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif ini. Menurutnya, bincang santai tersebut adalah langkah awal yang penting bagi kesadaran kolektif masyarakat.
“Sosok Tomanurung bukan sekadar legenda atau cerita masa lalu, melainkan simbol kebijaksanaan, kepemimpinan, dan jati diri yang harus terus hidup dalam kehidupan kita hari ini,” tegas Andi Muhammad Ardam.
Ia berharap ruang-ruang diskusi seperti ini mampu membangkitkan semangat generasi muda untuk menjaga nilai-nilai luhur warisan nenek moyang di tengah perubahan zaman.
Melihat antusiasme besar dari keluarga besar (Biya) yang hadir, Muh. Darno Kasim SJ selaku penginisiasi kegiatan menyatakan rencana untuk membawa diskusi serupa ke kabupaten lain di Sulawesi Barat.
“Semoga ini dapat berlanjut ke kabupaten lainnya untuk menampung lebih banyak pandangan dan memperluas perspektif sejarah serta budaya Mandar secara kolektif,” pungkas Darno.
Acara ditutup dengan sesi diskusi interaktif yang memperkuat rasa persaudaraan di antara para peserta, menandai suksesnya agenda literasi budaya di Bumi Assamalewuang tersebut. (Rks/WM)











