Hari Bumi sering berhenti di kata-kata. Namun di pesisir Lapeo, Majene, peringatan itu berubah menjadi fakta: 200 kilogram sampah ditemukan hanya dalam 100 meter pantai—dan diam-diam menggagalkan penyu bertelur.
Oleh Putra Ardiansyah
Pencerita Mandarnesia | Laut Biru Indonesia
SETIAP 22 April, linimasa kita dipenuhi warna. Flayer hijau, kutipan puitik tentang alam, dan seruan menjaga bumi bertebaran tanpa henti. Hari Bumi menjadi semacam ritual digital, dirayakan, dibagikan, lalu perlahan tenggelam kembali dalam rutinitas.
Namun, apakah bumi pernah mengenal penanggalan?

Di pesisir Desa Lapeo hingga Laliko, jauh dari hiruk pikuk kampanye digital, Hari Bumi hadir dalam bentuk yang berbeda: pasir, gelombang, dan jejak yang sering kali tak selesai, jejak penyu yang gagal bertelur.
Malam sebelum peringatan itu, sebuah ajakan sederhana dibuat. Bukan melalui rapat panjang atau proposal berlembar-lembar, melainkan flayer singkat yang disebar seadanya. Isinya sederhana: ajakan untuk datang dan membersihkan pantai.
Tidak ada target besar. Tidak ada janji perubahan spektakuler.
Hanya satu niat: hadir.
Kawasan pesisir Lapeo–Laliko bukan sekadar bentang pantai biasa. Ia adalah ruang hidup bagi penyu lekang, spesies yang setiap tahun kembali ke garis pantai ini untuk melanjutkan siklus hidupnya.
Namun, dari patroli malam yang dilakukan sebelumnya, ditemukan pola yang berulang dan mengkhawatirkan: penyu datang, menggali, lalu pergi tanpa bertelur.
Sebabnya bukan sesuatu yang rumit. Justru sebaliknya sederhana, kasat mata dan sering diabaikan.
Sampah plastik yang tertanam di pasir. Ranting dan batang kayu yang menghalangi. Hambatan kecil bagi manusia, tetapi menjadi penghalang besar bagi naluri alami seekor penyu.
Sore itu, sekitar 30 orang berkumpul.

Mereka datang dari berbagai latar: komunitas Sahabat Pulau Majene, Pokdarwis TKP Labuang, pemuda Lapeo, hingga mahasiswa STAI DDI Majene. Tidak ada struktur komando yang kaku. Tidak ada seragam yang menyatukan. Yang ada hanyalah kesadaran yang mempertemukan.
Aksi dimulai dari halaman Basecamp Laut Biru, menyusuri sekitar 100 meter garis pantai ke arah Laliko. Langkah demi langkah, tangan demi tangan, mereka memungut apa yang selama ini ditinggalkan.
Dalam jarak yang relatif pendek itu, terkumpul sekitar ±200 kilogram sampah plastik.
Angka itu, jika diterjemahkan lebih jauh, bukan sekadar tumpukan limbah. Ia adalah ribuan benda sekali pakai yang sebagian mungkin hanya digunakan beberapa menit, tetapi meninggalkan dampak bertahun-tahun. Sebagian akan terurai menjadi mikroplastik, sebagian lain mungkin berakhir di dalam tubuh biota laut, dan sisanya menjadi penghalang sunyi bagi penyu yang hendak bertelur.
Sementara itu, ranting dan batang kayu tidak serta-merta dibuang. Mereka dipindahkan ke bagian atas pantai, mendekati zona vegetasi. Ada kesadaran ekologis di sana: bahwa pantai bukan ruang kosong, melainkan sistem dengan fungsi-fungsi yang saling terkait.
Pasir terbuka adalah ruang bagi penyu. Dan ruang itu harus dijaga.
Jika dilihat sepintas, kegiatan ini mungkin hanya tampak seperti aksi bersih pantai biasa. Tetapi di baliknya, ada sesuatu yang lebih dalam: pembacaan atas realitas.
Tiga puluh orang yang hadir menunjukkan kapasitas intervensi komunitas. Seratus meter garis pantai menjadi unit kecil dari persoalan yang lebih luas. Dan dua ratus kilogram sampah adalah indikator nyata dari tekanan manusia terhadap ekosistem pesisir.
Angka-angka itu tidak berbicara dengan retorika. Ia menunjukkan fakta.
Bahwa ancaman terhadap habitat peneluran penyu bukan sekadar wacana. Ia nyata, terukur, dan berlangsung setiap hari bahkan ketika kita tidak sedang memperingati apa pun.
Hari itu pantai memang terlihat lebih bersih. Namun perubahan yang paling penting bukan terjadi pada pasir atau laut. Ia terjadi pada manusia yang hadir di sana. Kesadaran…
Sebab pada akhirnya, sampah tidak pernah muncul dengan sendirinya. Dan ia juga tidak akan hilang tanpa tindakan.
Hari Bumi, dalam bentuknya yang paling jujur, mungkin memang bukan tentang seberapa banyak kata yang kita bagikan. Melainkan tentang seberapa jauh kita bersedia melangkah, menunduk, memungut, dan memahami bahwa bumi tidak membutuhkan seremoni.
Ia hanya membutuhkan manusia yang peduli.
Lapeo, 22 April













