,

Bagaimana Bacaan Fiksi Membentuk Pemimpin Besar Dunia

oleh
oleh

Oleh: Adi Arwan Alimin

Ada rahasia yang sering kali tersembunyi di rak buku paling belakang para pemimpin besar: novel fiksi. Sering kali dianggap sebagai hiburan ringan atau eskapisme (kecenderungan) semata. Genre ini sebenarnya merupakan instrumen pembangunan karakter, laboratorium empati, dan bahan bakar inovasi tak tergantikan.

Dari koridor Silicon Valley hingga ruang kerja kepresidenan sekalipun, jejak-jejak narasi imajiner telah lama menjadi arsitek di balik visi-visi yang mengubah dunia.

Bagi seorang pemimpin, keputusan jarang sekali bersifat hitam atau putih. Keputusan besar selalu melibatkan variabel manusia yang kompleks, emosi yang rapuh, dan konsekuensi sosial yang luas. Di sinilah fiksi berperan. Penelitian yang dilakukan oleh Kidd dan Castano (2013) menunjukkan bahwa membaca fiksi sastra secara signifikan meningkatkan kemampuan yang disebut sebagai Theory of Mind. Atau kapasitas untuk memahami bahwa individu lain memiliki keyakinan, keinginan, dan perspektif yang berbeda dari diri kita sendiri.

Dalam konteks kepemimpinan, ini berarti peningkatan drastis dalam kecerdasan emosional (EQ). Seorang pemimpin yang rutin membaca fiksi terlatih untuk memasuki alam pikiran karakter yang berbeda dari latar belakangnya. Mereka belajar merasakan penderitaan seorang pengungsi melalui prosa, memahami ambisi seorang antagonis yang haus kekuasaan, atau meresapi dilema moral seorang hakim.

Literasi bukan sekadar kemampuan mengeja kata, melainkan kemampuan mengeja rasa. Di Indonesia, tokoh literasi Najwa Shihab dalam bukunya Catatan Najwa (2017) sering menekankan bahwa literasi adalah “kemampuan untuk menempatkan diri di sepatu orang lain.” Bagi pemimpin di negara semajemuk Indonesia, membaca fiksi bukan hanya hobi, melainkan kewajiban moral untuk menjaga empati agar tetap tajam di tengah hiruk-pikuk kekuasaan.

Jika kita melihat Elon Musk, CEO SpaceX dan Tesla, kita melihat sosok yang seolah-olah melangkah keluar dari halaman novel fiksi ilmiah. Musk adalah bukti nyata bagaimana narasi masa depan dapat menjadi instruksi kerja di masa kini.

Sejak kecil di Afrika Selatan, Musk adalah seorang pembaca yang rakus, menghabiskan hingga sepuluh jam sehari untuk melahap buku. Hal ini sering penulis sampaikan di banyak forum, sebab belum membaca ada orang lain di era modern ini rakus sedemikian rupa dalam membaca.

Menurut sumber, dua karya fiksi yang paling memengaruhi Musk yakni seri Foundation karya Isaac Asimov dan The Hitchhiker’s Guide to the Galaxy karya Douglas Adams. Dalam seri Foundation, Asimov menceritakan tentang upaya seorang ilmuwan menyelamatkan pengetahuan manusia sebelum keruntuhan galaksi. Narasi ini menanamkan rasa tanggung jawab dalam diri Musk untuk memastikan keberlanjutan peradaban manusia melalui kolonisasi Mars. Baginya, fiksi bukan sekadar dongeng sebelum tidur, melainkan peringatan akan kemungkinan masa depan yang harus diantisipasi dengan teknologi.

Lebih jauh lagi, Ashlee Vance dalam biografinya Elon Musk: Tesla, SpaceX, and the Quest for a Fantastic Future (2015) menjelaskan bagaimana Musk menggunakan fiksi untuk membangun struktur berpikirnya. Fiksi memberinya izin untuk berpikir secara “radikal” tanpa batasan teknis saat ini. Hal ini menciptakan apa yang disebut sebagai deep generalism, di mana ia menggabungkan prinsip-prinsip fisika dengan imajinasi liar untuk melahirkan roket yang bisa mendarat kembali secara vertikal. Sebuah konsep yang dulunya hanya ada di dalam komik dan novel murah.

Di negeri kita ada tokoh B.J. Habibie, teknokrat yang tumbuh dalam dekapan sastra. Jika Musk menggunakan fiksi untuk menaklukkan ruang angkasa, Habibie menggunakan literasi untuk membangun kedaulatan bangsa. Habibie adalah sosok teknokrat sejati, namun batinnya dibentuk oleh kekayaan literasi yang luar biasa.

Sejak usia empat tahun, Habibie sudah tenggelam dalam buku-buku. Salah satu pengaruh terbesarnya dalam dunia fiksi adalah karya-karya Jules Verne, terutama Around the World in 80 Days. Bagi anak kecil yang tumbuh di Parepare, imajinasi Verne tentang perjalanan dunia dan keajaiban mesin pesawat merupakan benih yang kemudian tumbuh menjadi industri dirgantara nasional Indonesia. Habibie tidak hanya ingin terbang tetapi ingin “memerdekakan” bangsanya dari keterisolasian geografis melalui teknologi yang dibacanya melalui buku-buku fiksi masa kecilnya.