Saat ini, kita berada di ambang era kecerdasan buatan (AI) yang mendominasi kehidupan. Musk sering memperingatkan risiko AI, sebuah ketakutan yang dipelajari dari fiksi-fiksi distopia. Di sisi lain, Habibie selalu menekankan pentingnya SDM yang memiliki hati. Itu sebabnya fiksi satu-satunya wilayah yang belum bisa sepenuhnya dikuasai oleh algoritma: wilayah rasa, dilema moral, dan makna hidup.
Jika seorang pemimpin hanya membaca buku panduan bisnis, mereka hanya akan belajar bagaimana mengelola sistem. Namun, jika mereka membaca Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer misalnya, mereka akan belajar tentang harga diri, perlawanan terhadap ketidakadilan, dan esensi menjadi manusia di tengah penindasan. Inilah yang membuat pemimpin menjadi sosok yang dihormati, bukan sekadar ditaati.
Kisah Elon Musk dan B.J. Habibie menunjukkan bahwa imajinasi adalah bahan bakar utama bagi realitas. Tanpa mimpi-mimpi Jules Verne, mungkin Indonesia belum pernah memiliki N-250. Tanpa narasi Isaac Asimov, mungkin SpaceX tidak akan pernah ada.
Membaca fiksi merupakan investasi jangka panjang dalam kualitas kepemimpinan. Yang sanggup memberikan kedalaman pada karakter, ketajaman pada visi, dan kelembutan pada empati. Bagi pemimpin masa kini, baik itu di pemerintahan maupun di sektor swasta, janganlah ragu untuk sesekali menutup buku laporan tahunan dan membuka sebuah novel. Karena di dalam lembaran-lembaran fiksi terkadang, kita menemukan jawaban paling nyata atas tantangan dunia. (*)
Diolah dari berbagai sumber










