,

Bagaimana Bacaan Fiksi Membentuk Pemimpin Besar Dunia

oleh
oleh

Yang membedakan Habibie adalah pendekatannya yang sangat humanis. Presiden RI yang ketiga ini pembaca sastra klasik dan penggemar filsafat. A. Makka dalam The True Life of Habibie (2008) menggambarkan bagaimana Habibie mampu menyeimbangkan ketajaman rasio (Iptek) dengan kedalaman batin (Imtak). Bagi Habibie, fiksi dan sastra adalah alat untuk memahami “jiwa” sebuah bangsa.

Pemimpin yang hanya membaca angka akan menjadi teknokrat dingin, namun pemimpin yang membaca fiksi akan menjadi bapak bangsa yang penuh cinta.

Meskipun keduanya adalah jenius yang terobsesi dengan teknologi, gaya membaca dan pengaruh fiksi pada mereka memiliki nuansa yang berbeda:

1. Visi Futuristik vs. Pembangunan Bangsa

Musk menggunakan fiksi sebagai simulasi masa depan yang distopik dan mencari solusi teknologi untuk menghindarinya. Habibie menggunakan fiksi sebagai inspirasi untuk menghubungkan masa lalu yang agung dengan masa depan yang mandiri secara ekonomi dan teknologi.

2. Struktur Berpikir

Musk menggunakan metode “First Principles Thinking” yang sering ia asah melalui fiksi ilmiah —membedah masalah hingga ke akar dasarnya. Habibie lebih condong pada pendekatan holistik, di mana sastra, musik klasik, dan teknik menyatu dalam satu harmoni kepemimpinan.

3. Sumber Inspirasi Lokal

Habibie memiliki kedekatan dengan akar budaya Indonesia. Hingga sering merenungkan nilai-nilai kepahlawanan dalam narasi lokal yang kemudian ia transformasikan menjadi etos kerja nasional. Sementara Musk lebih bersifat globalis dan terlepas dari batasan teritorial.

Di Indonesia, terdapat kecenderungan untuk memisahkan antara dunia “teknis” (politik, ekonomi, teknik) dengan dunia “sastra.” Akibatnya, banyak kebijakan yang lahir tanpa sentuhan kemanusiaan. Bambang Wicaksono dalam Membaca Indonesia (2014) mencatat bahwa para pendiri bangsa kita, seperti Bung Karno dan Bung Hatta, adalah pembaca fiksi yang ulung. Mereka mendiskusikan kemerdekaan bukan hanya melalui teks hukum, tapi juga melalui inspirasi novel-novel dunia.

Ada beberapa manfaat praktis bagi pemimpin masa kini jika mereka kembali ke fiksi.

Karya sastra memiliki kemampuan melatih pengambilan keputusan dalam ketidakpastian. Novel fiksi sering kali menempatkan karakter dalam situasi “abu-abu.” Membaca proses karakter tersebut mengambil keputusan membantu pemimpin melatih intuisi mereka saat menghadapi krisis yang datanya tidak lengkap.

Meningkatkan kemampuan retorika dan narasi. Sesungguhnya pemimpin bukan hanya manajer; mereka adalah pencerita. Elon Musk sukses karena ia mampu “menjual” visi masa depan lewat narasi yang meyakinkan. Fiksi mengajarkan cara merangkai kata agar ide yang kompleks menjadi sesuatu yang menyentuh hati audiens.

Banyak novel klasik berkisah tentang kejatuhan seorang pemimpin akibat kesombongan. Bacalah tragedi-tragedi fiksi yang berfungsi sebagai cermin bagi para pemimpin agar tetap rendah hati dan menyadari keterbatasan manusia.