Workshop Esai IGI Majene, Tips Melatih Cara Pandang Positif

oleh
oleh

Oleh: Hasriani (IGI Kabupaten Majene)

RUANG haru biru dalam workshop penulisan esai itu seolah membuka cakrawala baru bagi para guru untuk menemukan kembali topik-topik menarik. Yang selama ini seperti hanya berputar-putar dalam benak.

Inilah terobosan cemerlang IGI Majene di ulang tahunnya yang ke-16. Sebuah gebrakan untuk membangunkan jiwa penulis guru yang mungkin sudah terlalu lama mendengkur. Pancaran semangat terasa jelas di tengah kegiatan Penulisan Esai dan Bedah Beban Kerja Guru yang berlangsung di MAN 1 Majene, Rabu, 26 November 2025.

Gebrakan IGI dalam memajukan pendidikan di Majene mendapatkan sambutan hangat. Guru-guru dari berbagai jenjang—SD, SMP, hingga SMA—larut dalam diskusi yang riuh namun penuh gagasan. Antusiasme puluhan peserta menjadi saksi betapa besar kerinduan para pendidik untuk kembali merawat tradisi literasi dalam profesinya.

Banyak hal menarik yang dapat dipetik dari kegiatan ini. Salah satu yang membekas adalah kutipan dari pemateri, Adi Arwan Alimin.
“Dalam mengajar, ubahlah kalimat banyak hal yang tidak mungkin menjadi banyak hal yang sangat mungkin.”

Kalimat itu, meski sederhana, menggeser cara pandang kita menjadi lebih positif. Seperti status viral yang lalu-lalang di beranda Facebook, begitu pula kalimat ini bergema di ruang-ruang kelas tanpa kita sadari.

Sesi inti pertemuan ini mengingatkan kembali bahwa ide-ide lama yang pernah kita alami sebagai guru—yang telah “makan garam” dalam pengalaman—sesungguhnya adalah tambang emas untuk dituliskan. Hanya saja, ide-ide itu selama ini lebih sering melayang sebagai cerita lisan yang kemudian menghilang seperti bias cahaya.

Karena itu, pemateri mengajak seluruh peserta agar tidak lagi berhenti pada lisan, tetapi mulai mengemas pengalaman dan pemikiran itu dalam bentuk tulisan.

Adi Arwan mengakrabkan kami dengan esai: sebuah ruang yang mempersilakan penulis mengkritisi, menganalisis, merefleksi perjalanan mengajar, atau membandingkan pengalaman—selama ditopang data yang relevan dan valid.

Satu hal yang ditekankan dalam penulisan esai adalah pentingnya menonjolkan pandangan penulis, bukan sekadar menumpuk kutipan. Tekanan ini menjadi pembeda esai dengan artikel yang cenderung berorientasi pada referensi. Poin tersebut mengemuka saat menjawab pertanyaan dari salah satu peserta, Busriadi dari SDN 16 Tanisi.

Wahyudi, ketua panitia, berharap kegiatan ini menjadi awal yang baik untuk memperkuat kapasitas guru dalam menulis esai. Sehingga mereka dapat merespons persoalan dengan kritis dan dapat mempublikasikannya di berbagai platform. Baik media massa maupun digital.

Garis awal ini sudah ditorehkan IGI Majene. Dari sinilah jembatan baru terbentang—yang akan mengantar lahirnya karya-karya segar dari para guru. Dari pandangan yang tertuliskan, bukan sekadar terlisankan. (*)