Oleh: Dr. H. Farid Wajdi, M.Pd.
Apa yang dicapai hari ini tidak bisa dilepaskan dari kearifan yang diwariskan oleh para Tomanurung di masa lalu. Substansi Tomanurung bukan sekadar mitos asal-usul, melainkan kumpulan nilai yang dititipkan untuk dilanjutkan—lahir dari kemampuan nalar leluhur dalam membaca “petunjuk langit” dan menerjemahkannya menjadi tatanan kehidupan yang jejaknya masih terasa hingga kini.
Presiden pertama Indonesia, Soekarno, pernah mengingatkan melalui konsep JAS MERAH—Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Kecemerlangan ataupun kegelapan masa yang akan datang, ditentukan oleh apa yang kita kerjaklan hari ini, “raihlah kearifan yang masih tergantung di langit pembolonganmu jadikan energi perubahan untuk hidup yang lebih baik di ltaq pembolangammu.”
Kearifan sebagai Sumber Daya Pembangunan
Kearifan Lokal yang biasa disebut kejeniusan lokal merupakan sekumpulan ide, gagasan yang terwarisi secara turun temurun, merupakan hasil interaksi dan pergulatan panjang, terakumulasi mulai dari zaman siande bau (chaos), zaman tersusunnya tata masyarakat dan organisasi pemerintahan pada tingkat kampung, banua (cosmos).
Zaman beredarnya dongeng dari langit (mythos) sampai pada dirumuskannya nilai-nilai etika dalam berbagai bidang, ekonomi, pemerintahan dan sosial (ethos). Digunakan sejak zaman Tomanurung, Tomakaka, Pappuangan, sampai zaman Maraqdia, disebut sumber daya kultural.
Sumber daya kultural ini, dapat menjadi refrensi signifikan, atau energi yang menginspirasi dalam membangun daerah pada masa kini dan masa depan. Sumber daya kultural berupa budaya yang kasat mata (artifact), budaya yang bersifat kemasyarakatan (sociofact) dan budaya yang menyangkut nilai-nilai logika, etika dan estetika (mentifact).
Sumber daya kultural yang berwujud pada kearifan, tidak lahir tiba – tiba, tidak lahir begitu saja, tetapi melalui perenungan dan proses interaksi dialektika dalam periode waktu lama oleh masyarakat terdahulu.
Gerak Dinamis Masyarakat, mengoreksi dan meragui ide gagasan atau nilai yang mereka miliki (tesa) lalu kemudian diberikan gagasan korektif (antitesa) lalu melahirkan paduan baru saling melengkapi, disebut dengan sintesis. Dan Paduan itu berjalan seiring waktu dan pada saatnya menjadi tesis baru.
Demikian berputar sampai menemukan kearifan yang tertinggi. Keseruan pergumulan menemukan Kearifan terwarisi ini di kalangan masyarakat terdahulu diwujudkan dalam bentuk sebagai berikut:
Pengangkatan dan Pemilihan Pemimpin
Kearifan lokal menegaskan bahwa angkatlah pemimpin di kalangan kamu yang terbaik Pulu-pulunna, memiliki kemampuan dalam hal ketajaman pikiran dan intelektual, memiliki adab dan etika yang terpuji, kedalaman religiulitas dan spritulitas.
Jejak tindaknya atau kinerjanya mumpuni, sehat fisiknya, waktu berpikirnya 24 jam untuk kesejahtraan masayarakat.
syarat cukup ketat yang diberlakukan kepada pemimpin sebab ketika diangkat, maka otomatis memiliki kekuasaan sangat besar, keputusan yang diambil oleh pemimpin memiliki dampak sangat besar kepada masyarakat.
Oleh karena itu pemimpin haruslah memiliki kemampuan yang lebih dari lainnya, lurus pikirannya dan luhur budinya. Tangguh fisiknya, dan bisa dikatakan model pemilihan ini menyerupai meritokrasi dengan fit and proper test-nya zaman now.
Sibali Parriq
Sibali Parriq juga merupakan kearifan local, mengajarkan tentang kebersamaan sirondoi. Kerjasama yang baik, untuk mencapai tujuan bersama, baik dalam lingkungan terkecil maupun dalam lingkungan yang lebih besar (negara).
Dalam era dewasa ini, nilai sibali parriq sangat relevan dilakukan sebab cara kerja terbaik saat ini adalah kolaboratif, dimana bekerja dengan cara ini, dipandang lebih efesien serta lebih efektif dalam mencapai tujuan bersama.
Manawang
Pandangan hidup Maissang Nawang, menunjuk pada kemampuan seseorang dalam menempatkan diri pada ruang kehidupan sosialnya atau lingkungannya secara tepat dan presisi, istilah ini dalam bahasa Indonesia disebut sadar ruang.
Ia tahu dan sadar tentang nilai yang baik dan buruk, serta norma benar dan salah yang selama ini hidup dan berlaku di lingkungan sosialnya.
Nilai dan norma yang berlaku itu mampu diikuti dan diselaraskan dengan dirinya sehingga mudah mengambil posisi dalam ruang-ruang sosial.
Siriq anna Lokkoq
Siriq adalah harga diri dan rasa malu, sementara lokkoq adalah rasa malu yang mendalam akibat hilangnya martabat, baik pada diri sendiri, keluarga maupun kelompok Masyarakat. Sebagai suatu sistem nilai siriq terus menerus diupayakan agar tegak, jangan sampai tumbang, tumbangnya siriq pada seseorang, otomatis dia akan kehilangan harga diri.
Cara meneguhkan siriq adalah dengan menutup segala perilaku culas dan buruk, sedangkan malu yang mendalam (lokkoq) dilindungi secara penuh, sebab kalau seseorang sudah tertimpa rasa malu yang mendalam artinya ia sudah tidak memiliki harga dan martabat diri lagi (malokko) maka akan mempertaruhakan segala yang dimilikinya termasuk nyawanya sendiri.
Sikap ini sudah sangat dekat dengan cakko-cakkoq (kematian), oleh karena itu menjaga siriq harga diri atau lokko adalah tugas semuanya dimulai dari diri sendiri, keluarga ataupun masyarakat,dengan berbagai upaya menghindari perilaku koruptif, khianat, curang dan culas, karena dapat meruntuhkan martabat dan harga diri, serta berusaha mempercayai, menghargai dan menghormati orang lain.
Nilai kearifan lokal yang diwariskan oleh para tomanurung, Tomakaka, Pappuangan, Maraqdia, bila ditranformasi secara baik dan tepat, diterapkan serta diadaptasikan dengan kehidupan terkini, akan menjadi modal pergerakan untuk menata kehidupan yang lebih baik.
Seperti yang dipraktekkan Nelson Mandela saat membebaskan Afrika selatan dari belenggu apartheid.
Salah satu kearifan lokal dijadikan modal pergerakan mentransformasi Afrika Selatan dari rezim Apartheid dipimpin oleh Nelson Mandela yaitu Ubuntu.
Nelson Mandela merevitalisasi dan mengaktualkan nilai budaya ini sebab “Ubuntu” berisi prinsip hidup yang menekankan pada keterkaitan, solidaritas, kebersamaan, gotong royong sebagai pemicu kemajuan bangsanya,
Ubuntu bagi Mandela adalah wholeness, (bahwa manusia mencapai potensi tertingginya melalui keterhubungan degan orang lain) egaliterian (setiap orang memiliki nilai dan martabat yang setara), sympathy (kedalaman ikatan komunitas, saling peduli menjaga dan melindungi martabat, dan bagi kita nilai-nilai Ubuntu mirip dengan kearifan lokal yang kita miliki
I am because we are, jejak orang-orang yang tercerahkan pada masa lalu (Tomanurung).
Tulisan ini dipresentasikan pada Diskusi dengan Tema Tomanurung Merawat Martabat Leluhur Komunitas Bidapamase Kafe Bujang Majene, 3 Mei 2026.










