Oleh: Fiqram Iqra Pradana
Suatu sore di kantor, seorang rekan kerja terlihat murung di depan laptopnya. Ia baru saja menyelesaikan sebuah proyek yang menurutnya sudah maksimal. Ide sudah dituangkan, revisi kecil sudah dilakukan, bahkan ia rela lembur. Namun ketika diserahkan ke atasan, respon yang didapatkan begitu singkat: “Belum sesuai, coba ulang lagi”. Tanpa apresiasi. Tanpa penjelasan detail. Ia hanya menghela napas. “Capek rasanya, sudah usaha tapi tetap salah,” katanya.
Situasi seperti ini sangat umum terjadi. Banyak dari kita pernah berada di posisi yang sama. Sudah berusaha maksimal, tetapi hasilnya ditolak. Atau harus berhadapan dengan atasan yang terkesan bossy, sulit dipuaskan, dan sering berubah-ubah.
Perasaan tidak enak itu wajar. Kecewa juga manusiawi. Tapi persoalannya bukan di situ. Tantangan sebenarnya adalah bagaimana kita menyikapi kondisi tersebut.
Dalam dunia kerja, penolakan adalah hal yang hampir pasti terjadi. Ketidaksesuaian antara ekspektasi dan hasil kerja adalah sesuatu yang normal, apalagi di lingkungan yang dinamis. Masalahnya, kita sering kali menganggap penolakan sebagai kegagalan pribadi.
Padahal, dalam perspektif psikologi, hal ini berkaitan dengan resilience atau ketahanan mental. Martin Seligman menjelaskan bahwa individu yang resilien tidak berhenti pada kegagalan, tetapi menjadikannya sebagai bahan evaluasi untuk langkah berikutnya.
Hal serupa juga dijelaskan oleh Carol Dweck melalui konsep growth mindset. Orang dengan pola pikir berkembang melihat penolakan sebagai bagian dari proses belajar, bukan ancaman terhadap dirinya.
Sayangnya, dalam praktik sehari-hari, kita lebih mudah bereaksi emosional. Marah itu mudah. Tersinggung itu cepat. Tapi yang sulit adalah tetap tenang dan berpikir jernih.
Sering kali, penolakan bukan karena kita tidak mampu, tetapi karena ekspektasi belum tersampaikan dengan jelas. Misalnya, kita diminta membuat sesuatu hanya dengan gambaran umum. Ketika hasilnya tidak sesuai, barulah muncul koreksi. Di sini, masalahnya bukan hanya pada hasil, tetapi pada komunikasi.
Di sisi lain, sikap atasan yang terkesan bossy juga sering menjadi pemicu stres. Namun jika dilihat dari sudut pandang berbeda, bisa jadi itu lahir dari tekanan target, tanggung jawab besar, atau standar kerja yang tinggi. Artinya, yang kita hadapi bukan sekadar individu, tetapi tuntutan peran yang ia jalankan.
Karena itu, pendekatan terbaik bukanlah reaktif, tetapi adaptif.
Dunia kerja tidak selalu membutuhkan orang paling pintar, tetapi sangat membutuhkan orang yang fleksibel. Mereka yang mampu membaca situasi, menyesuaikan diri, dan tetap bergerak meskipun kondisi tidak ideal.
Salah satu kuncinya adalah tidak bergantung pada satu rencana. Ketika satu ide ditolak, kita masih punya alternatif lain. Ini bukan soal pesimis, tetapi soal kesiapan. Selain itu, penting juga untuk mengelola ekspektasi terhadap emosi. Tidak semua hal harus disikapi berlebihan. Rasa kesal, kecewa, bahkan bahagia—semuanya sementara. Hari ini mungkin kita dimarahi, tetapi tidak selamanya. Hari ini mungkin gagal, tetapi bukan berarti tidak ada kesempatan berikutnya.
Dalam perspektif yang lebih luas, kehidupan memang penuh dinamika. Kadang kita di atas, kadang di bawah. Dan keduanya adalah bagian dari proses. Lalu, apa yang bisa kita lakukan secara praktis?
Pertama, biasakan mengklarifikasi ekspektasi sejak awal. Jangan hanya menerima instruksi secara umum, tetapi pastikan detailnya jelas.
- Kedua, siapkan alternatif solusi. Jangan hanya datang dengan satu ide.
- Ketiga, beri jeda sebelum merespons. Tidak semua hal perlu ditanggapi secara emosional.
- Keempat, pisahkan antara kritik terhadap pekerjaan dan penilaian terhadap diri.
- Kelima, tetap jaga niat. Jika yang kita lakukan adalah bagian dari tanggung jawab, maka setiap proses tetap bernilai baik diterima maupun ditolak.
Pada akhirnya, dunia kerja bukan hanya tentang hasil, tetapi tentang bagaimana kita bertumbuh dari setiap pengalaman. Karena yang bertahan bukan yang selalu benar, tetapi yang mampu belajar dan menyesuaikan diri. Wallahu’alam bissawab []










