Mengurai Makna Asa, Asih, dan Asuh: Refleksi Hari Pendidikan Nasional

oleh
oleh

Oleh Hamzah Durisa | Penggerak GUSDURian/ASN Kementerian Agama Kabupaten Pasangkayu

Hari Pendidikan Nasional selalu datang dengan gema harapan. Ia bukan sekadar peringatan seremonial yang ditandai dengan upacara dan pidato, tetapi momentum reflektif untuk menakar kembali arah pendidikan kita: ke mana ia berjalan, siapa yang ia layani, dan nilai apa yang ia bawa. Dalam konteks ini, tiga kata sederhana namun sarat makna—asa, asih, dan asuh—menjadi kunci untuk membaca kembali wajah pendidikan kita hari ini.

Di tengah berbagai tantangan pendidikan, mulai dari kesenjangan akses, krisis literasi, hingga tekanan administratif yang sering membebani guru, pendidikan kerap kehilangan ruhnya. Ia terjebak dalam angka-angka, target kurikulum, dan formalitas belaka. Padahal, pendidikan sejatinya adalah ruang kemanusiaan. Sebagaimana ditegaskan oleh Paulo Freire, “pendidikan itu adalah proses humanisasi, bukan dehumanisasi.” Kutipan ini bukan sekadar slogan, tetapi panggilan moral agar pendidikan kembali pada hakikatnya: memanusiakan manusia.

Asa  di Tengah Keterbatasan

Asa adalah titik awal dari segala perubahan. Dalam pendidikan, asa berarti keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi, bahwa setiap ruang belajar—betapapun sederhana—dapat menjadi ladang tumbuhnya masa depan. Namun, asa tidak boleh berhenti pada romantisme. Ia harus diterjemahkan menjadi kebijakan dan praktik nyata.

Di banyak daerah, termasuk di pelosok Sulawesi Barat, asa pendidikan sering diuji oleh keterbatasan: fasilitas yang minim, distribusi guru yang tidak merata, hingga akses literasi yang masih rendah. Di sinilah pentingnya menjadikan asa sebagai energi kolektif. Guru, orang tua, pemerintah, dan masyarakat harus berjalan bersama, bukan saling menunggu.

Asa juga berarti keberanian untuk bermimpi besar. Bahwa anak-anak madrasah, anak-anak desa, memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin masa depan. Pendidikan tidak boleh menjadi alat reproduksi ketimpangan sosial, tetapi harus menjadi jembatan mobilitas sosial. Maka, setiap kebijakan pendidikan harus berpihak pada yang lemah, menguatkan yang tertinggal, dan membuka peluang seluas-luasnya bagi semua.

Asih sebagai Ruang Cinta dan Empati

Jika asa adalah energi, maka asih adalah ruhnya. Pendidikan tanpa asih akan menjadi kering, mekanis, dan bahkan menindas. Asih dalam pendidikan berarti menghadirkan cinta, empati, dan penghargaan terhadap setiap peserta didik sebagai individu yang unik.

Seringkali, ruang kelas menjadi tempat yang menegangkan bagi siswa. Mereka takut salah, takut dimarahi, bahkan takut untuk bertanya. Dalam situasi seperti ini, pendidikan kehilangan dimensi kemanusiaannya. Padahal, belajar seharusnya menjadi pengalaman yang membebaskan, bukan menakutkan.

Asih menuntut guru untuk tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga pendengar. Mendengar kegelisahan siswa, memahami latar belakang mereka, dan menghargai proses belajar yang berbeda-beda. Setiap anak membawa cerita, dan pendidikan yang berasih adalah pendidikan yang memberi ruang bagi cerita itu untuk tumbuh.

Lebih jauh, asih juga berarti membangun relasi yang setara. Guru bukan satu-satunya sumber kebenaran, tetapi fasilitator yang membuka ruang dialog. Di sinilah relevansi pemikiran Paulo Freire menjadi sangat penting. Ia menolak model pendidikan “gaya bank”, di mana siswa hanya menjadi “wadah kosong” yang diisi pengetahuan. Sebaliknya, ia mendorong pendidikan dialogis, di mana guru dan siswa sama-sama belajar.

Dalam konteks madrasah, asih juga dapat diwujudkan melalui penguatan nilai-nilai spiritual. Bahwa belajar bukan hanya untuk mencari nilai, tetapi juga untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan sesama. Pendidikan yang berasih akan melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak.

Asuh  dengan Keteladanan dan Keberlanjutan

Asuh adalah praktik nyata dari asa dan asih. Ia adalah tindakan membimbing, mengarahkan, dan merawat proses tumbuh kembang peserta didik. Asuh bukan sekadar mengajar, tetapi mendampingi.

Dalam tradisi pendidikan kita, konsep asuh sebenarnya sudah lama dikenal. Namun, dalam praktik modern, ia sering tergerus oleh tuntutan administratif dan beban kerja yang tinggi. Guru lebih sibuk dengan laporan daripada refleksi, lebih fokus pada target daripada proses.

Padahal, asuh membutuhkan kehadiran yang utuh. Guru yang mengasuh adalah guru yang hadir, bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara emosional dan intelektual. Ia memberi teladan, bukan sekadar instruksi. Ia membimbing, bukan memerintah.

Asuh juga berarti keberlanjutan. Pendidikan tidak boleh berhenti di ruang kelas. Ia harus terhubung dengan keluarga dan masyarakat. Di sinilah pentingnya kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan lingkungan sosial. Anak tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga dari realitas hidup di sekitarnya.

Dalam konteks lokal, nilai asuh dapat diperkaya dengan kearifan lokal. Di Sulawesi Barat, misalnya, terdapat nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap alam yang dapat diintegrasikan dalam proses pendidikan. Ini penting agar pendidikan tidak tercerabut dari akar budaya, tetapi justru menjadi alat pelestarian dan penguatan identitas.

Menganyam Asa, Asih, dan Asuh dalam Pendidikan Masa Depan

Mengurai makna asa, asih, dan asuh bukan sekadar latihan konseptual. Ia adalah upaya untuk merumuskan kembali arah pendidikan kita. Bahwa pendidikan harus berangkat dari harapan (asa), dijalankan dengan cinta (asih), dan diwujudkan melalui bimbingan yang berkelanjutan (asuh).

Hari Pendidikan Nasional seharusnya menjadi titik balik. Bukan hanya untuk mengenang jasa para tokoh pendidikan, tetapi juga untuk mengoreksi diri. Apakah pendidikan kita sudah memanusiakan manusia? Ataukah justru sebaliknya?

Jika kita jujur, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Namun, selama asa masih menyala, asih masih hadir, dan asuh terus dilakukan, pendidikan akan tetap menjadi jalan pembebasan.

Sebagaimana diingatkan oleh Paulo Freire, pendidikan adalah praksis—perpaduan antara refleksi dan aksi. Maka, refleksi Hari Pendidikan Nasional ini harus diikuti dengan langkah nyata. Mulai dari hal kecil: memperlakukan siswa dengan lebih manusiawi, membuka ruang dialog, dan menghadirkan pembelajaran yang bermakna.

Pada akhirnya, pendidikan bukan tentang seberapa banyak yang kita ajarkan, tetapi seberapa dalam kita menyentuh kemanusiaan. Di sanalah asa tumbuh, asih bersemi, dan asuh menemukan maknanya. Dan di sanalah, pendidikan benar-benar menjadi jalan menuju peradaban yang lebih adil dan beradab.