Indonesia tidak kekurangan pembaca.
Setiap hari, jutaan anak muda membaca tanpa henti di layar ponsel mereka. Namun di saat yang sama, sebagian besar dari mereka justru kesulitan memahami satu teks panjang secara utuh. Di sinilah paradoks itu bermula—ketika frekuensi membaca meningkat, tetapi kedalamannya justru menghilang.
Oleh Adi Arwan Alimin
ADA yang diam-diam ganjil di sekolah kita hari ini. Di atas kertas, angka-angka tampak membaik. Laporan Kemendikbudristek tahun 2023 mencatat kemampuan literasi siswa Indonesia berada dalam kategori “sedang” — cukup melegakan setelah bertahun-tahun berada di papan bawah. Namun, jika kita melangkah masuk ke ruang kelas, gambarannya jauh lebih rumit.
Banyak siswa yang mampu membaca ratusan bahkan ribuan kata setiap hari di layar ponsel, namun kesulitan ketika diminta menuntaskan satu bab novel. Data internasional mempertegas paradoks ini.
Dalam PISA 2022 yang dirilis OECD pada Desember 2023, skor literasi membaca Indonesia turun menjadi 359 poin dari 371 pada 2018 — menjadi yang terendah sejak Indonesia pertama kali berpartisipasi pada tahun 2000. Indonesia berada di posisi ke-66 dari 81 negara peserta, sementara rata-rata OECD berada di angka 476.
Lebih mengkhawatirkan lagi, data menunjukkan bahwa 75 persen anak usia 15 tahun memiliki kemampuan membaca di bawah standar minimum (level 2 PISA) — artinya sebagian besar siswa kita kesulitan menangkap gagasan utama dari sebuah teks panjang.
Di level yang lebih mendasar, data dari UNESCO (2012) yang kerap dikutip lembaga-lembaga resmi Indonesia — termasuk Perpustakaan Nasional RI dan Kemendikbud — menunjukkan indeks minat baca Indonesia hanya 0,001 persen. Maknanya: dari seribu orang Indonesia, hanya satu yang rajin membaca. Angka itu menempatkan Indonesia di peringkat ke-60 dari 61 negara dalam riset World’s Most Literate Nations Ranked oleh Central Connecticut State University (2016).
Masalahnya bukan pada jumlah pembaca. Kita tidak kekurangan pembaca. Kita kekurangan kedalaman membaca. Anak muda hari ini sesungguhnya sangat akrab dengan teks. Mereka membaca status, komentar, berita singkat, dan potongan informasi tanpa henti.
Namun semua itu bersifat cepat, terpotong, dan dangkal. Mereka terbiasa “menyapu” teks, bukan menyelaminya. Inilah yang para peneliti sebut sebagai shallow reading — membaca permukaan tanpa pendalaman makna.
Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah internasional mendukung kekhawatiran ini. Sebuah studi yang dimuat di PubMed Central (2020) menemukan bahwa membaca di layar digital mendorong pemrosesan informasi yang lebih dangkal dibanding membaca teks cetak, terutama saat pembaca berada di bawah tekanan waktu. Para pembaca di layar cenderung lebih mudah terdistraksi, dan pola membaca “scanning” yang terbentuk dari kebiasaan digital terbawa pula ketika mereka mencoba membaca teks cetak.
Neurosaintis kognitif Maryanne Wolf dari UCLA, dalam bukunya Reader, Come Home: The Reading Brain in a Digital World (HarperCollins, 2018), memberikan peringatan yang lebih dalam. Wolf menjelaskan bahwa otak manusia tidak dilahirkan untuk membaca — membaca adalah keterampilan yang harus dibangun melalui neuroplastisitas.
Artinya, otak beradaptasi sesuai dengan cara kita membaca. Jika yang dominan adalah membaca cepat dan dangkal, maka sirkuit otak untuk membaca mendalam — yang memungkinkan empati, penalaran analitis, dan imajinasi moral — berisiko melemah sebelum sempat terbentuk dengan baik.
Maka, keluhan klasik bahwa “anak muda malas membaca” sebenarnya kurang tepat. Mereka tidak malas. Mereka hidup dalam ekosistem bacaan yang berbeda — satu ekosistem yang memang tidak dirancang untuk kedalaman. Tantangan kita bukan memaksa mereka kembali ke cara lama, tetapi menjembatani kebiasaan digital itu menuju kemampuan membaca yang lebih dalam.
Sastra sebagai Pengalaman, Bukan Materi Ujian
Di sinilah peran guru menjadi krusial — namun juga perlu diperbarui. Mengajar sastra tidak cukup dengan hafalan nama pengarang atau periode angkatan. Jujur saja, sebagian besar siswa tidak peduli apakah sebuah karya masuk Angkatan ’45 atau Balai Pustaka. Yang mereka cari adalah makna — sesuatu yang terasa dekat dengan hidup mereka.
Sastra seharusnya menjadi pengalaman, bukan sekadar materi ujian. Ia adalah ruang untuk memahami diri dan orang lain. Ketika siswa membaca cerita tentang kecemasan, kehilangan, atau konflik identitas, mereka sesungguhnya sedang melatih empati — keterampilan yang justru makin penting di dunia yang semakin bising dan terpolarisasi. Wolf sendiri menyebut bahwa empati, imajinasi, dan berpikir kritis adalah dimensi-dimensi yang khas dari deep reading yang terancam oleh budaya digital.










