Krisis Membaca Mendalam di Era Digital, Sebuah Paradoks Literasi Indonesia

oleh
oleh

Karena itu, sudah saatnya kita memilih bacaan yang relevan. Angkat isu yang dekat dengan kehidupan siswa: kesehatan mental, tekanan media sosial, krisis lingkungan, atau relasi antarmanusia di era digital. Dengan begitu, sastra tidak lagi terasa jauh dan asing, tetapi menjadi cermin yang jujur dari pengalaman hidup mereka.

Kini kita tidak bisa menutup mata terhadap kehadiran kecerdasan buatan. Hari ini, tugas seperti merangkum buku bisa diselesaikan dalam hitungan detik oleh mesin. Jika cara mengajar tidak berubah, maka pembelajaran literasi akan kehilangan maknanya. Teknologi tidak perlu dilarang, tetapi cara bertanyanya harus diubah.

Alih-alih bertanya “apa isi cerita ini?”, guru bisa bertanya, “apa pendapatmu tentang pilihan tokohnya?” atau “bagaimana kamu melihat konflik ini dalam kehidupan nyatamu?” Pertanyaan seperti ini tidak bisa dijawab asal-asalan oleh mesin manapun yang menuntut pemikiran dari pengalaman pribadi dan perenungan.

Lebih jauh lagi, literasi perlu diperluas melampaui teks tertulis. Cerita bisa diubah menjadi podcast, film pendek, atau bahkan karya desain visual. Ini bukan sekadar variasi metode, tetapi cara untuk membuat siswa merasakan bahwa membaca adalah sesuatu yang hidup dan dapat diekspresikan dalam berbagai medium.

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang dimulai sejak 2016 sejatinya sudah menuju arah ini. Namun implementasinya masih perlu diperdalam agar melampaui sekadar pojok baca dan kegiatan seremonial.

Semua ini akan sulit terwujud jika guru terus dibebani administrasi yang menyita energi. Penelitian SMERU Research Institute (2019) menyimpulkan bahwa kualitas guru adalah faktor penentu utama buruknya kemampuan literasi siswa secara nasional. Namun guru yang kelelahan oleh beban administrasi tidak memiliki ruang untuk berkreasi dan bereksperimen dalam mengajar.

Kreativitas tidak tumbuh dari kelelahan. Jika kita ingin pendidikan literasi yang bermakna, maka ruang bagi guru untuk mencoba pendekatan baru harus dibuka. Baik oleh kepala sekolah, dinas pendidikan, maupun kebijakan nasional. Guru tidak lagi perlu menjadi satu-satunya sumber kebenaran di kelas, tetapi menjadi fasilitator yang membuka ruang dialog dan merangsang siswa untuk berpikir sendiri.

Pada akhirnya, perubahan terbesar ada pada cara pandang kita tentang literasi itu sendiri. Angka TGM (Tingkat Kegemaran Membaca) yang dicatat BPS naik dari 66,77 persen pada 2023 menjadi 72,44 persen pada 2024 — sebuah tanda yang menggembirakan. Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) nasional 2024 pun melampaui target, mencapai 73,52 poin.

Namun angka-angka ini baru bermakna jika membaca yang terjadi adalah membaca yang sungguh-sungguh: membaca yang mengubah cara pandang, bukan sekadar melintas di permukaan.

Siswa tidak harus selalu benar secara tata bahasa, tetapi harus berani berpikir dan merasakan. SMERU memproyeksikan bahwa tanpa perbaikan serius, kemampuan membaca rata-rata siswa Indonesia baru akan setara dengan rata-rata negara OECD pada tahun 2090. Kita tidak punya kemewahan umur untuk menunggu selama itu.

Pada akhirnya, membaca bukan sekadar memahami teks. Tujuan membaca kini telah berubah. Jika setelah menutup buku seorang siswa bisa melihat dunia dengan cara yang sedikit berbeda. Lebih peka, lebih kritis, lebih manusiawi maka di situlah literasi menemukan makna paling sejati. (*)

Diolah dari berbagai sumber