MANDARNESIA.COM, Jember — Nezar Patria menilai permainan tradisional egrang semakin relevan di tengah tingginya intensitas kehidupan anak-anak di ruang digital.
Menurutnya, permainan fisik seperti egrang dapat menjadi “tombol jeda” yang membantu anak menjaga keseimbangan emosional, memperkuat interaksi sosial, hingga mendukung kesehatan mental.
“Permainan egrang bisa menjadi satu tombol pause, tombol jeda dari intensitas yang begitu tinggi masuknya kita ke ruang digital. Permainan fisik seperti ini memberikan banyak pelajaran tentang keseimbangan, kerja sama, dan gotong royong,” ujar Nezar saat menghadiri Launching Festival Egrang ke-14 di Ledokombo, Sabtu, 9 Mei 2026.
Wamen Nezar mengatakan perkembangan teknologi digital memang membawa banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan tantangan baru bagi anak-anak.
Ia menyebut penetrasi internet Indonesia kini mencapai 80,26 persen populasi, dengan sekitar 230 juta masyarakat telah terkoneksi internet dan jaringan telekomunikasi menjangkau 97 persen wilayah berpenghuni.
Di balik capaian tersebut, Nezar mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara kehidupan digital dan interaksi sosial di dunia nyata.
“Saat ini kita tidak lagi sekadar menggunakan teknologi, tetapi hidup di dalamnya. Ada banyak permainan anak yang mulai tergusur oleh ruang digital. Egrang menjadi salah satu yang tetap bertahan karena dijaga bersama oleh komunitas,” katanya.
Menurut Nezar, pelindungan anak di ruang digital tidak cukup hanya melalui regulasi platform digital, tetapi juga membutuhkan lingkungan sosial yang sehat di dunia nyata.
Ia menyinggung semangat PP TUNAS tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak yang dinilai harus berjalan beriringan dengan penguatan keluarga dan komunitas.
“Bermain egrang bukan sekadar permainan tradisional. Anak-anak kembali berinteraksi dengan lingkungan sosialnya, belajar menjaga keseimbangan, belajar bekerja sama, dan membangun keberanian melalui pengalaman nyata,” tuturnya.
Nezar juga menyoroti nilai karakter yang lahir dari permainan tradisional. Menurutnya, anak-anak belajar bangkit ketika jatuh dan saling memberi semangat, bukan saling mengejek.
“Tidak apa-apa kalau kita naik egrang lalu jatuh. Jatuh, bangun lagi. Itu pelajaran penting bagi anak-anak untuk membentuk karakter dan kepribadian sejak dini,” ujarnya.
Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia mengapresiasi Festival Egrang Ledokombo sebagai ruang budaya dan sosial yang membantu anak-anak tumbuh sehat di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin cepat.
Nezar berharap anak-anak Indonesia dapat tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi, tetapi juga kuat secara emosional dan sosial.
“Saya percaya setiap anak Indonesia bisa menjadi tunas yang tumbuh sehat, baik di dunia nyata maupun di dunia digital, untuk masa depan Indonesia yang lebih sehat dan lebih hebat,” ungkapnya. (SP Kemkomdigi/WM)











