Tanam Karang, Komunitas Laut Biru Manfaatkan Beton Bekas

oleh

Reporter: Muhammad Yusri

MANDARNESIA, Polewali – Komunitas Laut Biru Sulawesi Barat menanam terumbu karang pada gugusan pulau di Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar.

Ini merupakan perayaan Hari Segitiga Terumbu Karang Dunia atau Coral Triangle Day, Kamis 9 Juni 2022.

Muhammad Putra Ardiansyah, Founder Laut Biru mengatakan para ilmuwan LIPI menemukan hanya 6,5 persen terumbu karang di Indonesia, kondisinya sangat bagus dari jumlah total yang ada. Sedangkan 36 persen lainnya berada dalam kondisi buruk.

“Khusus di kawasan pesisir Polewali Mandar kami melihat memang sangat kurang populasi terumbu karang, bukan tidak ada, tapi memang kondisinya sudah banyak yang rusak. Termasuk di kawasan kepulauan Binuang yang kita survei beberapa hari lalu,” kata Putra.

Putra memaparkan, salah satu lokasi yang dipilih melakukan kegiatan transplantasi trumbu karang adalah kawasan pulau Gusung Toraja. Ekosistem bawah laut area ini telah mengalami penurunan fungsi lingkungan dari tahun ke tahun.

“Terumbu karang adalah ekosistem utama yang telah rusak akibat penangkapan yang tidak ramah lingkungan puluhan tahun terakhir, akibatnya pesisir pulau mengalami abrasi akibat kurangnya populasi karang sebagai pondasi dasar. Selain itu keragaman hewan laut sebagai ekosistem pendukung dan daya tarik wisata juga berkurang mengikuti turunnya jumlah populasi terumbu karang,” urainya.

Pihaknya juga mendapat banyak kendala terutama dana untuk melakukan kegiatan. “Kami tidak punya dana yang cukup untuk melakukan program transplantasi, pun juga tidak mempunyai peralatan scuba diving untuk melakukan pekerjaan ini. Makanya kami manfaatkan beton-beton bekas yang dipungut di sekitar jalan kota Polewali untuk jadi media transplant. Sebenarnya kami membutuhkan tenaga ekstra karena harus tahan napas dalam air tanpa bantuan alat untuk beberapa prosesnya,” keluh Putra.

Dirinya sangat berharap agar semua pihak dapat berkolaborasi, bergerak dan bekerja bersama untuk menjaga keberlangsungan ekosistem laut, utamanya terumbu karang sebagai rumah dari jutaan spesies mahluk hidup yang sebenarnya bekerja keras untuk keberlangsungan hidup dan keseimbangan alam ini.

Adv.

Mereka bekerja untuk kita semua, sebut Putra, maka jangan abai dengan itu, apalagi sampai merusak dan menghancurkan ekosistem ini. “Saya harap pemerintah daerah dapat melihat aksi ini, kami ingin pemerintah hadir mengawal dan mensupport upaya para komunitas seperti kami bisa bekerja maksimal untuk pemulihan ekosistem,” harapnya.

Rencananya kegiatan ini akan menjadi sebagai salah satu paket wisata edukasi terumbu karang, juga sebagai laboratorium bawah laut tempat para mahasiswa atau siapapun yang ingin melakukan penelitian terkait ekosistem terumbu karang.

“Kegiatan ini dihadiri oleh para mitra kerja kami, seperti dari Radiant Life Excursions, Sandeq Diving Club’ Unsulbar, Komunitas PeKa dan Komunitas RBI,” tutup Putra. (wm/*)