Pasar Tradisional, Generasi Muda, dan UMKM: Masa Depan Pasar Wonomulyo Dipertaruhkan

oleh
oleh

Mengajak generasi muda masuk ke pasar berarti membuka peluang lapangan kerja baru, inovasi layanan, digitalisasi berbasis lokal, dan yang lebih utama regenerasi pedagang Wonomulyo. Poin terakhir penulis tetap tumbuh menjamur walau kelas ekonomi baru juga tumbuh.

Kesalahan berpikir lain yang sering terjadi karena menganggap UMKM digital dan pasar tradisional berada di dua dunia berbeda. Padahal, UMKM digital justru butuh basis fisik yang kuat.

Mulai hari ini pasar Wonomulyo bisa diperkuat untuk berperan sebagai tempat produksi dan distribusi lokal, titik ambil (pickup point) pesanan online, dan ruang uji coba produk UMKM baru atau etalase offline bagi brand lokal.

Dengan begitu, pasar tidak kalah oleh dunia digital, tetapi menjadi bagian dari rantai digital itu sendiri. Masalahnya apakah tata kelola dan keberanian untuk berubah.

Semua gagasan ini akan berhenti sebagai wacana jika tata kelola pasar tidak berubah. Pasar tidak bisa dikelola sekadar sebagai aset fisik, tetapi harus dipahami sebagai ekosistem bisnis dan sosial.

“Tidak ada jalan lain lagi, bahwa pasar ini harus ditata kembali, saya melihat terjadi pemahaman dan pelaksanaan yang tumpang tindih di lapangan. Jangan biarkan fungsi dan peran pasar ini berubah, apalagi memburuk. Saya berharap ini dapat ditransformasi dalam tata kelola yang lebih bagus,” ujar Bahrun Sahibuddin warga senior Wonomulyo kepada penulis Kamis (22/1) malam.

Idealnya pengelola pasar perlu berpikir seperti manajer kawasan, kurator produk fasilitator UMKM, dan menjadi penghubung antara pedagang, konsumen, dan teknologi. 

Apakah ini sudah dilakukan?

Tanpa keberanian mengubah cara pandang, pasar Wonomulyo perlahan akan tertinggal, sementara generasi muda dan UMKM mencari ruang lain yang lebih adaptif. Tanpa orang sadari pasar Wonomulyo yang semula bernama Pasar Nganjuk ini 88 tahun lalu, kini berubah menuju 100 tahun.

Dari sisi lain yang perlu kita sadari, ketika generasi muda tidak lagi melihat pasar sebagai ruang masa depan, maka pasar sedang menuju usia senja. Tidak hari ini, tidak besok, tetapi perlahan menjadi pasar yang kehilangan generasi, kehilangan inovasi, kehilangan pembeli jangka panjang, kehilangan regenerasi pedagang. Bahkan kehilangan relevansi budayanya.

Kini Pasar Wonomulyo berada di titik penentuan sejarah kecilnya. Apakah masih bisa bertahan sebagai pasar lama yang makin (bakal) sepi, atau segera bertransformasi menjadi pasar rakyat modern yang ramah generasi muda dan UMKM.

Wilayah seperti Polewali Mandar punya modal besar: komunitas yang kuat, produk lokal yang khas, dan semangat usaha yang hidup. Yang dibutuhkan hanyalah keberanian menyatukan semua itu dalam satu visi pasar.

Pasar tradisional sering diposisikan sebagai simbol masa lalu. Padahal, dengan pendekatan yang tepat, pasar Nganjuk ini justru bisa menjadi lorong masa depan ekonomi lokal. Generasi muda dan UMKM bukan ancaman bagi pasar sebab mereka kunci penyelamatnya.

Pertanyaannya tinggal satu: apakah kita cukup serius untuk mengubah pasar, atau kita akan menunggu sampai pasar ini berubah menjadi cerita nostalgia? Pasar Wonomulyo sedang menunggu jawabannya. Dari era pasar Nganjuk ke pasar modern dalam serbuan marketplace… (*)