,

Festival Saeyyang Pattuqduq, Tidak Selalu Bermakna Lomba

oleh

Laporan: Naim Irmayani

WONOMULYO, mandarnesia.com — Ramai dibicarakan, pengumuman lomba usai Festival Saeyyang Pattuqduq yang dihelat meriah di stadion H. S. Mengga, Senin, (23/5/2022). Siapa sebenarnya yang juara.

Perbincangan yang tengah menjadi sorotan di kalangan aktivis media sosial Facebook tampaknya karena kata festival biasanya digunakan untuk kegiatan lomba.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, lema festival memiliki beberapa makna, (1) merupakan hari atau pekan gembira dalam rangka peringatan peristiwa penting dan bersejarah; pesta rakyat; (2) perlombaan

Sejarah yang sedang ditorehkan Kabupaten Polewali Mandar yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Polewali Mandar memang mengemas Festival Saiyyang pattuqduq dengan sangat apik dan mengikuti pakem.

Festival Senin kemarin untuk memperlihatkan kepada perwakilan badan dunia UNESCO bahwa usulan Saiyang atau Saeyyang Pattuqduq yang sedang diperjuangkan memang layak diperjuangkan sebagai warisan budaya dunia.

Entri Festival berasal dari bahasa Latin dari kata dasar “festa” atau pesta (Wikipedia), istilah yang sering digunakan untuk perayaan bergembira, pesta besar, pekan gembira yang dibuat secara umum dan meriah.

Lalu siapa kampiun di Festival Saiyang Pattuqduq Senin kemarin di area Sport Center S. Mengga Polewali? “Tidak dilombakan, jadi tidak ada juara satu dan seterusnya. Karena festival ini rangkaian pengusulan Saiyyang Pattuqduq ke Unesco untuk ditetapkan sebagai warisan budaya dunia,” sebut Andi Masri Masdar Kepala Diknas Pendidikan dan Kebudayaan Polewali Mandar, usai menghadiri FGD Saiyyang Pattuqduq di ruang pola kantor Bupati Polewali Mandar, Selasa (24/5/2022).

FGD yang dipandu Adi Arwan Alimin ini membahas berbagai hal teknis atau administratif mengenai mekanisme pengusulan Saiyyang Pattuqduq menuju warisan budaya dunia. Dihadiri Ketua Komite Nasional untuk Unesco, Dr. Itje Khodijah, Prof. Mukhlis PaEni Ketua Dewan Pakar Memory of The World Indonesia, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Indonesia (ATLI) Dr. Pudentia MASS, Dr. Jabatin Mangun, MA. Sekretaris ATLI, Profesor Idham Khalid Bodi peneliti BRIN asal Mandar, juga Mukhlis Hannan sebagai sumber lokal.

Artinya, semua peserta dalam FSP 2022 merupakan masing-masing juara atau bahkan pahlawan yang telah berjuang agar Saiyyang Pattuqduq dapat menjadi milik dunia. Ini menjadi piala tak ternilai dan bagian sejarah adiluhung budaya Mandar di pentas dunia. (mw/*)