Melacak Akar Problem Otentisitas Teks-Teks Arab

oleh

Oleh: MANGGASALI

Pengajar di Ma’had NDM Kauman Solo

Di abad ke-21 ini, dengan perkembangan teknologi informatika yang superpesat, peranan simbol semakin menguat. Perbedaan sedikit saja dalam penggunaan simbol, itu berpengaruh besar. Ketika surat elektronik, penulisan alamat email harus tepat. Demikian “karya manusia”. Maka, sebagai animal simbolicum (makhluk simbol), manusia amat sangat tergantung pada bahasa. Manusia tidak berarti tanpa bahasa, dalam kapasitas pemakai ataupun pembuat, sebab eksistensi manusia terletak pada kemampuan tersebut. Sehingga, dapat dikatakan bahwa tradisi berbahasa setua dengan usia manusia itu sendiri. Sehingga, untuk menunjang eksistensinya, bahasa difungsikan secara komunikatif, kognitif, dan emotif. Bahkan, ia menyertai proses berpikir manusia dalam usaha memahami dunia luar, baik secara obyektif maupun secara imajinatif.

Mengingat signifikansi bahasa yang demikian penting, para pakar senantiasa ingin menyibak tabir yang menyelubungi bahasa. Menurut F.W. Dillistone dalam karyanya The of Symbols, bahwa  tiada topik yang sesering diperhatikan manusia selain bahasa. Berbagai kalangan dengan beragam tinjauan disiplin ilmu tercurah perhatiannya untuk menyingkap apa yang membuat mereka penasaran secara akademik. Para filosof, antropolog sosial, psikolog, filolog, termasuk ahli agama berpikir tentang asal usul (arkeologi, sejarah, dan fillogi), tata bahasa (gramatika), gaya (stilisitika), makna (semantik), hakikat bahasa (filsafat), dsb.

Bahasa Arab: Dialektika Langit dan Bumi

Sejak dibakukan penggunaannya oleh Allah menjadi bahasa al-Qur’an, bahasa Arab menjadi bahasa yang memiliki daya magnetis yang kuat dan sekaligus daya lontar yang dahsyat. Sebagai bahasa, ia memantikkan beragam disiplin ilmu yang benar-benar baru bagi dunia. Semula, bahasa ini tidak memiliki gema perabadan yang sanggup bersaing dengan bahasa imperium Persia, Romawi, dan Yunani. Namun, tiba-tiba ia mengejutkan sejarah melalui bahasanya yang menggemakan suara langit.

Dari lembah terpojok yang mematikan itu lahir peradaban baru yang kelak diperhitungkan dan tetap tegak hingga akhir masa. Perhatikan pernyataan Michael H. Hart (1982) dalam bukunya Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah yang menempatkan Rasulullah Muhammad SAW. sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang masa:

“… Berasal-usul dari keluarga sederhana, Muhammad menegakkan dan menyebarkan salah satu dari agama terbesar di dunia, Agama Islam. Dan pada saat yang bersamaan tampil sebagai seorang pemimpin tangguh, tulen, dan efektif. Kini tiga belas abad sesudah wafatnya, pengaruhnya masih tetap kuat dan mendalam serta berakar ….”

“…. Sebagian besar dari orang-orang yang tercantum di dalam buku ini merupakan makhluk beruntung karena lahir dan dibesarkan di pusat-pusat peradaban manusia, berkultur tinggi dan tempat perputaran politik bangsa-bangsa. Muhammad lahir pada tahun 570 M, di kota Mekkah, di bagian agak selatan Jazirah Arabia, suatu tempat yang waktu itu merupakan daerah yang paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan, seni maupun ilmu pengetahuan. Menjadi yatim-piatu di umur enam tahun, dibesarkan dalam situasi sekitar yang sederhana dan rendah hati. Sumber-sumber Islam menyebutkan bahwa Muhamnmad seorang buta huruf. Keadaan ekonominya baru mulai membaik di umur dua puluh lima tahun tatkala dia kawin dengan seorang janda berada. Bagaimanapun, sampai mendekati umur empat puluh tahun nyaris tak tampak petunjuk keluarbiasaannya sebagai manusia…”