Ada pemain Iran yang sudah berlatih bertahun-tahun untuk momen ini, yang mungkin kini tidak tahu apakah akan diizinkan terbang ke negara yang sedang mengebom negaranya. Ada penggemar Senegal yang sudah menabung berbulan-bulan untuk tiket dan hotel di New York, yang kini terdampar di antrean kantor visa alias tidak punya jawaban. Ada anak-anak di Guadalajara yang mimpinya sederhana: menyaksikan pertandingan Piala Dunia langsung, di kotanya sendiri, untuk pertama kalinya.
Olahraga tidak menyelesaikan perang dan itu tidak pernah bisa. Tapi ada satu hal kecil yang bisa dilakukannya: mengingatkan kita bahwa di balik seragam nasional dan kepentingan negara, ada seseorang yang ingin bermain, bukan berperang. Lihatlah pada Natal 1914, di garis depan Perang Dunia I, tentara Jerman dan Inggris berhenti menembak dan bermain bola di lahan tak bertuan. Itu tidak menghentikan perang. Tapi kisah itu masih kita ceritakan seratus tahun kemudian — karena ia membuktikan bahwa manusia, bahkan dalam kondisi paling brutal sekalipun, bisa memilih sesuatu yang berbeda.
Mungkin versi 2026 dari kisah itu berupa seorang pemain Iran yang, di hadapan kamera dunia, bermain dengan sepenuh hati di tanah yang secara resmi dianggap musuh negaranya. Lalu penonton yang bertepuk tangan — bukan untuk negara, tapi untuk manusia yang berlari untuk menjebol gawang.
Pada 11 Juni 2026, peluit pertama Piala Dunia akan berbunyi. Entah di mana, entah antara siapa — itu pun masih belum pasti sepenuhnya. Tapi hampir pasti, miliaran orang akan menonton.
Mereka tidak menonton untuk perdamaian dunia. Mereka menonton karena sepak bola indah, karena gol menggetarkan, karena ada sesuatu dalam diri manusia yang ingin ikut merasakan kegembiraan orang lain meski tidak saling kenal.
Mungkin itulah yang paling realistis untuk diharapkan dari turnamen yang digelar di tengah dunia yang sedang tidak baik-baik saja ini. Bukan jawaban atas semua krisis, tapi bukti kecil bahwa manusia belum sepenuhnya menyerah pada logika kehancuran.
Pertanyaan terbesarnya bukan siapa yang mengangkat trofi di MetLife Stadium pada 19 Juli 2026. Tetapi apakah warga dunia bisa menonton para jagoan bermain bola sambil melupakan denyut peperangan membara yang peluitnya ditiup tuan rumah? (*)
#esai ini ditulis per Maret 2026 berdasarkan perkembangan terkini.











