Oleh Adi Arwan Alimin (Public Historian)
DESEMBER 2025, di Kennedy Center Washington D.C., Presiden Trump berdiri tersenyum bersama Presiden FIFA Infantino, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum, dan PM Kanada Mark Carney. Latar belakangnya megah. Senyum kegembiraan mereka merekah.
Piala Dunia 2026 diumumkan dengan penuh kebanggaan, inilah turnamen terbesar dalam sejarah sepak bola, 48 negara, tiga tuan rumah, 104 pertandingan. Tiga bulan kemudian, foto itu terasa seperti dokumen dari era yang berbeda.
Kini, per Maret 2026, Amerika Serikat sebagai tuan rumah utama turnamen itu sedang berperang. Bersama Israel, AS melancarkan serangan militer terhadap Iran. Serangan itu menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Khamenei. Dan, Republik Iran salah satu dari 48 negara yang sudah lolos kualifikasi untuk bertanding di stadion-stadion Amerika.
Esai ini berbicara tentang “bayang-bayang” konflik yang menggantung di atas pesta olahraga. Itu analisis yang kira-kira masuk akal bahwa ada konflik Rusia-Ukraina yang masih membara, rivalitas AS-China yang semakin tajam, ketegangan di Timur Tengah yang tak kunjung reda.
Tapi itu kini sudah punya tubuh dan beban berat sendiri. Di Guadalajara, salah satu kota tuan rumah Meksiko kekerasan kartel meletup setelah tewasnya bos geng besar. Meksiko mengerahkan unit anti-drone militer untuk pengamanan pertandingan.
Sebelas kota tuan rumah di Amerika masih menunggu dana keamanan federal senilai 625 juta dolar yang belum juga cair dari FEMA. Sedang penggemar dari Senegal, Haiti, dan Pantai Gading — semua tim yang sudah lolos kualifikasi — kesulitan mendapatkan visa karena kebijakan imigrasi Washington.
Nun jauh, Ketua Federasi Sepak Bola Iran berkata pelan di hadapan media: “Sulit untuk memandang Piala Dunia dengan harapan.” Ia tidak berlebihan.
Tapi sejarah pernah berada di titik yang hampir sama dengan situasi hari ini.
Pada 1938, Piala Dunia digelar di Prancis sementara Hitler baru saja menelan Austria. Tim Austria dibubarkan paksa; para pemainnya dipaksa masuk ke dalam skuad Jerman. Lalu setahun kemudian, Eropa terbakar. Pada 1978, Argentina menjuarai dunia di bawah tepuk tangan junta militer Videla — sementara di luar stadion, ribuan orang menghilang tanpa jejak. Sepak bola dan kejahatan berjalan beriringan, tanpa pernah saling menyapa.
Yang berbeda kali ini bukan skalanya tapi transparansinya. Pada 1938 dan 1978, dunia bisa dialihkan perhatiannya. Kini tidak bisa. Setiap serangan udara, setiap penolakan visa, setiap pernyataan pahit pejabat olahraga tersebar dalam detik ke miliaran layar. Sepak bola tidak lagi bisa pura-pura tidak tahu.
Dan FIFA? Sekretaris Jenderalnya berkata bahwa organisasi ini “akan terus memantau perkembangan dan berharap semua tim bisa berpartisipasi.” Kalimat yang sangat terlatih. Sangat kosong. FIFA adalah korporasi global dengan ratusan juta permintaan tiket dan kontrak sponsor yang nilainya astronomis — mesin uang jarang berhenti hanya karena dunia sedang berperang.
Tapi di sinilah yang menarik sebab di balik semua analisis dingin itu, ada manusia yang tak bosan bekerja.











