1000 Kilometer Bersama Prof. Zudan

oleh
oleh

Laporan: Wahyudi Muslimin

 

Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan jarak. Lebih dari 1000 kilometer ditempuh bersama Prof Zudan Arif Fakrulloh, dari Makassar menuju Mamuju dan kembali lagi lewat jalur darat. Dalam perjalanan itu tersimpan cerita tentang kepemimpinan, kenangan 365 hari di Tanah Mandar, hingga perpisahan yang membuat Sulawesi Barat terasa patah hati.

 

Subuh baru saja berlalu ketika telepon dari Adi Arwan Alimin masuk.

“Saya start dari Mamuju bakda subuh,” katanya melalui WhatsApp, Senin malam, 20 Mei 2024.

Beberapa hari sebelumnya ia menerima undangan dari Prof Zudan untuk bertemu di rumah jabatan Gubernur Sulawesi Selatan di Makassar. Ada rencana yang ingin dibicarakan: menyiapkan bahan sebuah buku tentang masa tugasnya di Sulawesi Barat.

Judulnya sederhana: “365 Hari di Tanah Mandar.”

Kami bismillah dari Polewali sekitar pukul 13.00 Wita, tiba di Makassar saat malam mulai berangsur gelap. Setelah mendapat tempat menginap, Adi Arwan Alimin kemudian mengabari dan melaporkan ke Prof. Zudan bahwa kami sudah berada di Makassar.

Gawai Adi Arwan Alimin berdering, sejam setelah kami selesai melaksanakan dua rakaat subuh di Masjid Jannatul Firdaus yang berhadapan langsung dengan tempat kami merebahkan badan, Miraza Homestay Syariah, di Jalan Pengayoman. Sebuah pesan pendek masuk, Prof. Zudan membalas bahwa kami ditunggu di rumah jabatan.

Sesegera mungkin kami mempersiapkan diri, karena yang akan kami temui adalah seorang yang akan memiliki banyak tamu. Apalagi ini adalah minggu pertama Prof. Zudan berada di Makassar sebagai Penjabat Gubernur Sulsel.

Kurang dari pukul tujuh kami telah berada di Jalan S. Tangka, memarkir mobil Avanza silver di depan Masjid Aisyah Gubernuran yang masuk dalam area  Rumah Jabatan Gubernur Sulsel.

Seperti biasa untuk bertamu di rujab, tamu harus melapor ke pos keamanan yang dijaga Satuan Polisi Pamong Praja, Pemprov Sulsel. Sebuah gedung dengan tulisan di tembok Pelataran Prof. Dr. Baharuddin Lopa, SH menyambut kami sebelum menuju bangunan utama rujab gubernur.

Pelataran Prof. Dr. Baharuddin Lopa, S.H. Rujab Gubernur Sulawesi Selatan (Foto: Wahyudi)

Tak lama menunggu, kami diarahkan untuk langsung masuk ke ruang tamu pada bagian tengah, di sana berbaris kursi kosong tertata rapih. Dua orang staf perempuan datang membawa nampan berisi kue-kue khas Sulawesi.

“Minum apa pak, kopi atau teh,” tanyanya lembut.

Kopi jadi pilihan pagi itu, dituang dari ketel kaca yang masih mengepulkan asap. Tak lama setelah kami mengaduk kopi, sebuah langkah kaki kedengaran tipis dari belakang, sosok yang ditunggu akhirnya datang membersamai kami di ruang tengah gedung rujab tersebut.

Prof. Zudan Arif Fakrulloh menyalami kami berdua, sambil memperkenalkan nama saya, sebagai orang yang pertama kali bersitatap langsung dengan mantan Pj. Gubernur Sulawesi Barat. Suasana terasa langsung akrab, dia langsung menjelaskan banyak hal kepada Adi Arwan Alimin.

“Saya memang bertugas 365 hari di Mandar, namun dalam catatan, saya menerima audience dengan masyarakat lebih dari 400 kali,” sebutnya.

Saya hanya mendengarkan dan merekam via handphone.