Kemampuan Sandeq dalam mengarungi laut tidak perlu diragukan lagi. Keandalannya telah teruji bukan hanya di perairan domestik, melainkan hingga ke samudra internasional. Salah satu bukti sejarah modern yang paling menggetarkan adalah ekspedisi yang dilakukan oleh Agam Rinjani bersama lima rekannya dari Korps Pencinta Alam (Korpala) Universitas Hasanuddin Makassar.
Mereka melakukan ekspedisi ekstrem menyeberangi Samudera Hindia menuju Australia hanya dengan menggunakan Perahu Sandeq.
Perjalanan tersebut bukan sekadar petualangan, melainkan sebuah pernyataan kepada dunia bahwa teknologi tradisional Indonesia memiliki daya tahan dan keamanan yang mampu bersaing di kancah global. Keberanian para pelaut Mandar atau “Passandeq” terpancar dari teknik berlayar mereka yang penuh risiko namun sangat terukur.
Di tengah laut, mereka tidak hanya berhadapan dengan air, tetapi dengan hukum fisika yang menuntut keseimbangan presisi antara kekuatan angin, kemiringan perahu, dan berat badan para awaknya.
Suhadi, seorang Passandeq senior asal Pamboang, menceritakan bagaimana dinamika di tengah laut memerlukan penguasaan teknik tingkat tinggi. Dalam kondisi angin kencang, Sandeq mampu bermanuver dalam kecepatan yang bisa mencapai 20 hingga 30 knot. Pada kecepatan seperti itu, perahu seringkali harus miring secara ekstrem, menembus ombak setinggi gunung.
Keamanan perahu sepenuhnya bergantung pada cadik sebagai penyeimbang. Seringkali para awak harus berdiri di atas cadik atau berpindah posisi dengan sangat cepat untuk memastikan perahu tidak terbalik. Ini adalah “tarian maut” di atas air yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang memiliki nyali baja dan insting pelaut yang tajam.
Harus diakui bahwa sebagian besar Passandeq Mandar saat ini tumbuh dan berkembang dengan modal nyali dan keahlian autodidak. Mereka mampu menembus ombak tinggi tanpa melalui jalur pendidikan formal kepelayaran. Keahlian mereka adalah warisan genetik dan budaya yang didapatkan dari interaksi langsung dengan alam sejak usia dini. Namun, di era globalisasi yang menuntut standarisasi dan regulasi, kearifan lokal saja tidaklah cukup.
Kita semua sepakat bahwa desain Sandeq yang orisinal harus dipertahankan sebagai warisan budaya tak benda. Namun, kualitas sumber daya manusia para pelakunya harus ditingkatkan melalui sentuhan pendidikan kepelayaran modern. Pengetahuan mengenai sistem navigasi satelit, regulasi pelayaran domestik maupun internasional, serta prosedur keselamatan kerja (K3) di laut akan menjadikan Passandeq Mandar sebagai tenaga profesional yang lebih handal.
Dengan sertifikasi dan pendidikan yang memadai, mereka tidak hanya akan menjadi penjaga tradisi, tetapi juga aktor maritim yang diakui secara legal di seluruh dunia.
Terinspirasi dari semangat Chairil Anwar dalam bait puisinya yang ingin “hidup seribu tahun lagi”, maka semangat Sandeq pun harus dipastikan kekal sepanjang masa. Kita tidak ingin Sandeq hanya menjadi artefak yang muncul saat festival setahun sekali.
Passandeq melalui generasi selanjutnya harus memiliki masa depan yang cerah dan bermartabat. Sangat miris jika ketangkasan luar biasa ini hanya menjadi tontonan gratis yang dibayar dengan sekadar decak kagum penonton dalam ajang Sandeq Race, tanpa ada jaminan kesejahteraan yang konkret bagi pelakunya.
Pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat, harus hadir secara nyata. Kehadiran negara tidak boleh hanya dalam bentuk seremonial pembukaan perlombaan, melainkan melalui jaminan perlindungan sosial, asuransi kesehatan, dan fasilitas pendidikan bagi anak-anak pelaut.
Profesi Passandeq harus dipandang sebagai sebuah cita-cita yang mulia oleh pemuda Mandar. Menjadi pelaut Sandeq seharusnya bukan sekadar pilihan terakhir karena keterpaksaan ekonomi, melainkan sebuah jalur karir yang menjanjikan kemapanan dan kebanggaan identitas.
Membangun ekosistem maritim di Tanah Mandar berarti membangun manusia-manusianya. Dengan dukungan teknologi, modal, dan kebijakan yang pro-nelayan, Sandeq bisa bertransformasi dari sekadar perahu layar menjadi simbol kebangkitan ekonomi bahari.
Kita membayangkan masa depan di mana para pemuda Mandar berlayar dengan Sandeq-nya, membawa identitas leluhurnya, namun dengan kehidupan yang jauh lebih sejahtera dan terjamin.
Hanya dengan cara itulah, Sandeq akan benar-benar “hidup kekal” dan terus membelah ombak Samudera, membawa nama harum Indonesia sebagai bangsa pelaut yang tak pernah gentar menghadapi badai. (*)









