Di meja makan, ia sering menyelipkan nasihat. “Ilmu itu bukan untuk sombong,” katanya suatu malam kepada anak-anaknya. “Ilmu itu amanah. Kalau kau pandai, kau harus lebih banyak mengabdi.” Anak-anaknya tumbuh dalam suasana disiplin. Waktu belajar diatur, waktu bermain tidak dilarang tetapi tidak berlebihan. Ia mengajarkan tanggung jawab sejak dini. Jika salah satu anaknya melakukan kesalahan, ia menegur dengan keras. Namun setelah itu, ia akan memanggilnya secara pribadi dan memberi penjelasan dengan suara lebih lembut. Ketegasannya bukan karena marah, tetapi karena cinta.
Buah dari pendidikan itu perlahan tampak. Anak-anaknya menempuh jalan pendidikan tinggi. Ada yang menjadi akademisi, ada pula yang berkiprah di berbagai bidang lain. Di antara mereka, Erwin Hafid menapaki jejak ayahnya di dunia kampus hingga meraih jabatan guru besar di UIN Alauddin Makassar. Gelar profesor yang disandangnya menjadi kebanggaan keluarga, bukan karena prestise, tetapi karena itu adalah buah dari tradisi ilmu yang diwariskan ayahnya.
Bagi masyarakat sekitar, keberhasilan anak-anaknya menjadi bukti nyata bahwa ia tidak hanya pandai berbicara tentang pendidikan, tetapi juga berhasil menerapkannya dalam keluarganya sendiri. Delapan anak, delapan jalan pengabdian. Semua tumbuh dengan latar pendidikan agama yang kuat, sebagaimana fondasi yang ia tanamkan sejak awal.
Di hari-hari tuanya, ia sering duduk dikelilingi anak dan cucu. Wajahnya yang tegas menjadi lebih teduh. Ia melihat generasi yang tumbuh dari darah dan doa-doanya sendiri. Dalam hati kecilnya, mungkin ia merasa tenang. Apa yang ia perjuangkan sepanjang hidup—ilmu, akhlak, dan persatuan—tidak berhenti pada dirinya.
Anak-anaknya bukan sekadar penerus nama, tetapi penerus nilai. Dan di antara mereka yang menjadi profesor, guru, dan cendekiawan, jejak Hafid Imran tetap hidup—dalam ruang-ruang kuliah, dalam mimbar-mimbar dakwah, dan dalam hati orang-orang yang terus belajar tanpa henti.
Pada bulan Juli tahun 2004, ia berpulang. Kepergiannya tenang. Ia tidak melalui sakit panjang yang menyiksa. Seolah ia hanya dipanggil pulang setelah menunaikan tugasnya. Ia dimakamkan di belakang masjid di Baruga, tanah yang sejak awal menjadi saksi kelahirannya.
Orang-orang mengenangnya sebagai sosok tegas, keras dalam prinsip, tetapi lurus dan bersih. Ia tidak kaya raya, tetapi kaya teladan. Ia bukan tokoh nasional yang namanya sering muncul di media, tetapi di hati murid-murid dan masyarakat Majene, ia adalah cahaya kecil yang terus menyala.
Dalam dirinya, dua arus besar Islam Indonesia pernah bertemu dan berdamai. Ia membuktikan bahwa perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk diperkaya. Dan sepanjang hidupnya, ia memilih jalan sunyi pengabdian—mengajar, membina, memimpin, lalu kembali menjadi rakyat biasa dengan hati yang lapang.
Demikianlah kisah KH. Hafid Imran, putra Mandar yang hidupnya diabdikan untuk ilmu, umat, dan persatuan. Sebuah kehidupan yang mungkin sederhana dalam catatan sejarah, tetapi agung dalam jejak kebaikan.







