Oleh Hamzah Durisa (Pegiat Literasi/ Penggerak GUSDURian)
DI tanah Mandar yang berangin laut, dengan kompleksitas kehidupan, pada tanggal 16 Juni 1926, lahirlah seorang anak lelaki yang kelak tumbuh menjadi ulama, pendidik, dan pemimpin umat. Ia diberi nama Hafid Imran. Ayahnya bernama Imran, yang akrab dipanggil Mandra, seorang lelaki sederhana dengan keteguhan watak. Ibunya, Aminah, perempuan lembut yang berasal dari Baruga, menanamkan nilai agama dan kesabaran sejak dini ke dalam jiwa anaknya.
Hafid kecil tumbuh dalam keluarga besar yang sarat dengan nuansa religius. Ia adalah satu dari delapan bersaudara: Ahmad Imran yang kelak menjadi pengusaha, Sulaeha, Haruna, Rahma, Rohani, Hamid, dan Fatimah. Rumah mereka bukan rumah yang mewah, tetapi hangat oleh bacaan Al-Qur’an dan percakapan tentang ilmu. Sejak kecil, Hafid telah akrab dengan suara ayat-ayat suci yang dilantunkan oleh orang-orang di rumahnya.
Pendidikan formalnya dimulai di Sekolah Rakyat. Di bangku sederhana itulah ia belajar membaca dunia. Namun, orang tuanya memahami bahwa anak ini memiliki dahaga yang lebih dalam terhadap ilmu agama. Maka, ia dikirim melanjutkan pendidikan ke DDI Mangkoso, sebuah lembaga pendidikan Islam yang berpengaruh di Sulawesi Selatan.
Di sana, ia berjumpa dengan sosok besar yang kelak sangat membekas dalam hidupnya: Anregurutta K.H. Abdurrahman Ambo Dalle. Ulama kharismatik itu bukan hanya guru, melainkan pembimbing ruhani. Bertahun-tahun Hafid muda berada dalam tempaan disiplin ilmu dan akhlak. Ia lama bersentuhan dengan sang Anregurutta, menyerap bukan hanya pelajaran kitab, tetapi juga keteladanan hidup.
Konon, dalam satu masa genting ketika Hafid menghadapi persoalan berat, gurunya itu memberinya doa khusus. Doa itu bukan sekadar rangkaian kata, melainkan amanah. Sejak saat itu, Hafid menyimpan keyakinan bahwa ilmu bukan hanya soal akal, tetapi juga soal keberkahan.
Meski kuat dalam tradisi Nahdlatul Ulama karena lahir dan besar di Mandar, perjalanan hidup membawanya bersentuhan dengan arus lain. Ia melanjutkan pendidikan ke Tawalib di Lampung, sebuah lingkungan pendidikan yang kental dengan semangat Muhammadiyah. Di sana ia belajar berpikir lebih sistematis, mengenal pembaruan, dan memahami pentingnya tajdid dalam dakwah.
Namun, Hafid bukan pribadi yang mudah terombang-ambing oleh arus. Ia menyerap, menimbang, lalu memadukan. Dalam dirinya, NU dan Muhammadiyah tidak pernah menjadi dua kutub yang bertentangan. Ia justru menemukan titik temu. Ia sering berkata kepada murid-muridnya, bahwa persatuan umat lebih penting daripada perdebatan yang tak berujung.
Sepulang dari pendidikan, hidup membawanya merantau lebih jauh. Ia sempat bekerja di Jakarta sebagai mandor. Pengalaman itu membuatnya memahami kerasnya kehidupan kota besar. Ia belajar memimpin pekerja, mengatur waktu, dan memikul tanggung jawab. Namun dunia proyek dan baja bukanlah panggilan jiwanya.
Kurang lebih setahun bekerja, ia diajak mertuanya ke Makassar. Sebelumnya, pada 3 Agustus 1958 di Lampung, ia menikahi seorang perempuan yang masih memiliki hubungan keluarga dengannya, Hj. Zainab Fatani. Pernikahan itu sederhana, tetapi kokoh. Mertuanya saat itu bekerja sebagai mandor di sebuah perusahaan di Lampung dan memiliki kerja sama dengan seorang pengusaha pabrik baja di Jakarta, sesama orang Mandar.
Di Makassar, Hafid menemukan kembali dunianya: dunia pendidikan. Ia menjadi guru di PGA Muhammadiyah. Di ruang kelas itulah wajahnya berseri. Ia mengajar dengan tegas, kadang keras, tetapi penuh kepedulian. Murid-muridnya tahu, di balik ketegasannya ada kasih sayang yang dalam.
Kehausannya pada ilmu belum padam. Ia melanjutkan kuliah di IAIN Ujung Pandang, mengambil jurusan Syariah. Kampus itu kini dikenal sebagai UIN Alauddin Makassar. Di sana ia belajar dengan sungguh-sungguh hingga meraih gelar sarjana. Tidak lama kemudian, ia dipercaya menjadi dosen di almamaternya sendiri.
Sebagai dosen, ia dikenal disiplin. Ia menuntut mahasiswanya membaca kitab, bukan sekadar mengandalkan catatan. Ia sering mengutip pandangan ulama klasik, tetapi juga mengajak mahasiswa memahami konteks zaman. Baginya, syariah bukan hanya teks, melainkan pedoman hidup yang harus membumi.







